10 Maret 2008

Kemajuan Iptek Mendongkrak Kebangkitan Ekonomi India

Judul : India, Bangkitnya Raksasa Baru Asia (Calon Pemain Utama Dunia
di Era Globalisasi)
Editor : Irwan Suhanda
Penerbit : PT Kompas Media Nusantara
Halaman : XXIII + 247, (2007)

Oleh: Heri Ispriyahadi

Kinerja ekonomi India yang tumbuh fantastis dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat perhatian dunia. India mencatat rekor tumbuh tercepat kedua setelah China. Bahkan ke depan diperkirakan India bersama China akan menjelma menjadi kekuatan besar setara dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kebangkitan ekonomi India bagai magnet yang menyedot banyak pihak untuk mempelajari lebih dalam mengenai India. Untuk menjawab kebutuhan ini hadir ditengah-tengah kita buku-buku maupun artikel-artikel yang ditulis oleh berbagai kalangan yang mendalami ekonomi India. Demikian pula hadirnya buku ini juga dimaksudkan untuk menuntaskan dahaga para pembaca yang haus akan informasi tentang India. Dari berbagai buku dan artikel tersebut dapat ditarik benang merah bahwa kunci sukses kemajuan ekonomi India terletak pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang maju pesat.
Buku ini merupakan bunga rampai tulisan-tulisan yang dimuat surat kabar harian Kompas tentang India dari berbagai sudut pandang. Catatan penting yang patut digarisbawahi dari kemajuan India terletak pada tiga hal yaitu liberalisasi dan reformasi ekonomi, kekuatan internal dan dukungan lingkungan eksternal. Sejak merdeka tahun 1947 sampai tahun 1990, aktivitas ekonomi India berjalan sangat lamban. Kondisi ini akibat kebijakan ekonominya tidak pro pasar, campur tangan pemerintah yang sangat kuat dan mengandalkan subtitusi impor. Namun sejak terjadi kesulitan neraca pembayaran tahun 1991 memaksa India harus melakukan reformasi di berbagai bidang baik ekonomi maupun non ekonomi. Perubahan paradigma ini ternyata berdampak positif pada ekonomi India tercermin dari peningkatan perdagangan luar negeri, aliran modal asing mengalir deras baik dalam bentuk PI (Portfolio Investment) maupun FDI (Foreign Direct Investment) dan aktivitas ekonomi yang mulai bergairah.
India selama ini dikenal sebagai negara yang relatif tertutup dan pasarnya sulit ditembus oleh pihak asing. Faktor dominan adalah menisbikan kekuatan pasar diikuti semangat swadesi (memenuhi kebutuhan sendiri) yang kental. Peran pemerintah sangat dominan yaitu mengatur segalanya. Strategi ini ternyata tidak ampuh menjadi kekuatan pembangunan bahkan hasil yang diperoleh kemiskinan semakin merajelela. Di bawah kepemimpinan PM PV Nashimha Rao dan Menteri Keuangan Manmohan Sigh (kini menjabat PM) sejak tahun 1991 India mulai membuka diri dengan melakukan liberalisasi ekonomi. Pemerintah mulai melucuti Lisensi Raja (dalam hal investasi, industri dan lisensi impor), mengakhir monopoli negara di banyak sektor, dan mengijinkan investor asing menggeluti bisnis domestik. Perubahan paradigma pada kekuatan pasar dan sentuhan asing membawa India menjadi kekuatan dunia.
Dua sektor yang luput dari campur tangan pemerintah yaitu bidang teknologi informasi dan industri film ternyata malah menjadi kekuatan besar India di kemudian hari. Kemajuan IT(Information Technology) India sangat fenomena, bahkan kota Bangalore telah menjadi pusat IT dunia. Hampir semua industri IT raksasa membuka kantor di kota ini dari Microsoft, IBM, Infosys dan Wipro. Kesemuanya itu didukung oleh kualitas pendidikan teknologi informasi yang memiliki reputasi internasional. Industri film di India merupakan industri layar lebar terbesar di dunia bahkan telah mengalahkan Hollywood dalam jumlah produksi film. Industri film ini mempunyai peran yang sangat besar dalam menyerap tenaga kerja. Sebanyak 2,3 juta orang India bekerja di sektor ini.

Centre of Excellent
Salah satu langkah krusial yang menjadi awal kebangkitan India adalah besarnya perhatian pemerintah pada kualitas pendidikan. Sistim dan kualitas pendidikan di India mempunyai standar dunia. Bahkan India dikenal sebagai pemasok pekerja ahli di dunia. Sebagai gambaran pada tahun 1990 an dari 150.000 pekerja asing yang bekerja di perusahaan IT Amerika Serikat sebanyak 60.000 diantaranya adalah para pakar software dari India. Kemajuan teknologi yang pesat menakutkan negara-negara maju lainnya. Menurut analis JP Morgan, dengan penduduknya yang mayoritas berusia muda dan berpengetahuan tinggi, maka dalam 20-30 tahun mendatang India diunggulkan dalam pelayanan teknologi informasi atau berbasis pengetahuan dengan layanan jarak jauh.
Kemajuan para entrepreneur India sudah mengglobal. Sejumlah perusahaan India dikenal sebagai pemain kelas dunia seperti Tata, Infosys, dan TVS Motor Company. Sepak terjang Tata bahkan telah menjadi pemain dunia yang patut diperhitungkan. Saat ini kiprah Tata telah beroperasi di 40 negara dengan 90 perusahaannya. Diversifikasi bisnis Tata sangat luas dari otomotif, baja, TI dan komunikasi, jasa, consumer products dan pertanian.
Di bidang farmasi India juga dikenal sangat spetakuler dan diperhitungkan di arena global. India memasok 40% kebutuhan dunia untuk obat-obatan curah (bulk). India dewasa ini mampu memproduksi obat-obatan jauh lebih murah dari negara manapun yaitu hanya separuh biaya produksi di Amerika Serikat. Dengan modal intelektual yang sangat kuat, India mampu memproduksi hingga 10 obat generik dalam setahun, sementara produsen asing hanya maksimal 2 produk. India saat ini juga mengincar pasar pelayanan medis. Dengan ongkos 80% lebih rendah di banding di AS, beberapa perusahaan di AS sedang menjajagi jasa perawatan kesehatan di India.

Isu Ketimpangan Pembangunan
Namun ditengah euphoria kemajuan ekonomi yang pesat ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan pemerintah India. India saat ini masih menganut dualisme ekonomi sebagian modern dan sebagian lainnya masih tertinggal. Pembangunan tidak merata tercermin dari pembangunan yang timpang di daerah Selatan dengan Utara. Disparitas tidak hanya dalam hal pertumbuhan ekonomi akan tetapi juga infrastruktur fisik dan sosial, arus investasi dan modal. Pembangunan lebih terkonsentrasi di wilayah India bagian selatan (Southern Corridor). Kondisi ini harus diwaspadai pemerintah India karena ketimpangan makin tinggi akan menjadi persoalan sosial politik di masa mendatang. Ketimpangan internal mengancam kohesi sosial.
Di wilayah selatan tumbuh menjadi kluster pusat pertumbuhan industri dan menjadi tujuan favorit investasi untuk IT, telekomunikasi, manufaktur dan jasa. Bangalore menjadi IT hub dan mendapat julukan lembah silikon-nya India (Silicon Valley of India). Hyderabad menjadi pusat pertumbuhan industri farmasi dan bioteknologi atau Genome Valley of India. Chenal sebagai daerah otomotif yang dikenal sebagai Detroit nya India. Kemiskinan kebanyakan terkonsentrasi di negara-negara bagian utara terutama Bihar, Mardya Pradesh, Rajastan dan Uttar Pradesh (BIMARU).

Isu Kemiskinan
Ironis di tengah kemajuan ekonomi yang mencengangkan banyak orang, persoalan kemiskinan masih menjadi isu di India. Sepertiga sampai setengah miliar penduduk India masih hidup dibawah garis kemiskinan. Meski dikenal sebagai negara superpower di bidang IT dan sangat unggul di bidang pendidikan, indikator pembangunan manusia secara umum masih terbelakang. Tingkat melek huruf di negara ini hanya 69% dan 53% anak usia SD harus drop out karena kemiskinannya. Angka kematian bayi mencapai 5 orang per 1000 kelahiran hidup. Peraih Nobel Ekonomi berdarah India, Amartya Sen, melihat kemiskinan dan kelaparan India sebagai cerminan kegagalan pembangunan sosial ekonomi dari India yang sukses membangun demokrasi di bidang politik dan industri berbasis teknologi.
Pertanian India saat ini sedang dalam persimpangan jalan. Revolusi hijau yang selama ini berhasil menyelamatkan muka India yang terus menerus didera kelaparan ternyata meminta korban yang lebih besar. Eksploitasi lahan dan pemakaian pupuk serta obat-obatan kimia yang berlebihan telah membuat kesuburan tanah menurun. Kemiskinan petani di India tak lepas dari lahan yang kecil. Ketentuan yang menyangkut subsidi pertanian juga tak lagi leluasa diterapkan oleh pemerintah akibat globalisasi dan liberalisasi pasar.


Buku bunga rampai yang disusun dengan memadukan 49 artikel pendek jelas berbeda bila dibandingkan dengan buku-buku tentang India lainnya seperti buku yang diterbitkan IMF yaitu India Goes Global, its Expanding Role in the World Economy dan CHINDIA, How China and India Are Revolutionizing Global Business yang ditulis oleh Pete Engardio. Target yang dibidik buku ini adalah pembaca kalangan luas sehingga informasi-informasi yang disajikan lebih ringkas dengan kemasan gaya bahasa popular. Kaum awam sekalipun dapat dengan mudah mengikuti alur cerita yang dikupas buku ini. Sementara kedua buku terakhir ditargetkan pada pembaca yang mendalami masalah ekonomi sehingga lebih sarat dengan teori dan diperkaya hasil riset tentang India.
Kekuatan sekaligus menjadi kelemahan dari buku ini adalah para pembaca akan mendapat sajian informasi yang cukup lengkap tentang India walau hanya sepotong-potong. Dengan membaca buku ini para pembaca dapat gambaran sisi positif dan negatif terkait dengan kebangkitan ekonomi India. Ditengah euphoria kebangkitan ekonominya, pemerintah India ternyata masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Buku ini akan lebih menarik kalau editor dapat melengkapi dengan tulisan ringkas atau artikel mengenai pelajaran berharga apa yang bisa dipetik dari kebangkitan ekonomi India.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi dorongan semangat bagi semua pihak untuk meniru sisi positif langkah-langkah yang ditempuh India dalam pembangunan ekonominya. Bagi kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya yang bertanggung jawab pada pembangunan ekonomi, buku ini dapat menjadi acuan praktis. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami ekonomi pembangunan, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan akan pembangunan ekonomi yang dilakukan negara lain.

1 komentar:

  1. ini dia resensi yg bikin pak heri jd salah satu pemenang di lomba resensi yg diadakan perpus BI :) selamat yah..

    ngobrol2 soal india, hebat lah..meski kekurangan yg dimiliki india juga lebih buruk dibandingkan kondisi indonesia, india bisa masuk dlm kategori investment grade countries..
    kemajuan india ini jg jd salah satu penyebab tingginya harga komoditi akibat permintaanya yg cukup tinggi :D

    anyway..selamat buat pak heri atas blog nya ini, menarik dan cukup informatif..bangga jg punya rekan se tim yg hobi n jago nulis :)

    BalasHapus