04 Juni 2008
SEMANGAT PAGI
Percakapan menarik saya simak dari radio saat perjalanan menuju kantor. Masalah yang diangkat adalah berpikir positif. Sebenarnya tema seperti ini sudah sering saya dengar dan juga saya baca dari berbagai buku. Tapi penjelasan yang disampaikan melalui radio cukup menarik karena selain dilakukan interaktif juga diberikan contoh-contoh yang mudah untuk dicerna.
Ternyata banyak manfaat yang dapat kita petik dari berpikir positif. Pikiran kita menjadi tenang karena sesuatu dilihat dari sisi baiknya. Saat menghadapi pekerjaan menumpuk dan dikejar dengan dead line, kita menganggap bahwa pekerjaan tersebut suatu tantangan yang akan membawa peningkatan karir yang lebih baik. Satu ungkapan menarik yang saya sitir dari percakapan tersebut adalah motto yang dilontarkan oleh seorang penelpon yaitu ”semangat pagi”. Menurut saya motto ini luar biasa karena memberikan dorongan motivasi yang kuat. Pagi hari adalah saat mulai kita beraktivitas. Semangat yang ditanamkan dalam sanubari kita jelas akan memompa gairah kita untuk mengerjakan seluruh aktivitas kita menjadi lebih baik. Kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan akan membuat hidup kita menjadi menyenangkan.
Berpikir positif tentu tidak serta merta meninggalkan kewaspadaan kita. Tidak boleh membabi buta harus juga dilakukan dengan berhati-hati. Misalnya ada orang yang tidak kita kenal tiba-tiba ingin menginap di rumah kita. Dalam pikiran kita pasti akan berfikir siapa orang asing tersebut, kenapa sampai kemalaman dan tujuannya datang ke kota ini mau apa. Kalau kita hanya mengandalkan cara berpikir positif kita beranggapan si orang asing tersebut pasti kemalaman dan tidak punya uang yang cukup sehingga butuh tumpangan untuk menginap. Waspada harus kita lakukan dengan melakukan berbagai hal yang dapat mengurangi kemungkinan terburuk. Bisa saja kita meminta identitasnya, melapor kepada RT dan mengamankan harta-harta kita dari kemungkinan dicuri oleh si orang asing tersebut.
Pernah kejadian yang saya alami mirip dengan contoh yang saya berikan. Saat tengah malam menunggu kereta terakhir dari Semarang yang membawa istri, saya melihat seorang ibu yang kelihatan cemas duduk di ruang tunggu. Penasaran saya hampiri Ibu tersebut. Ternyata dia dari Jawa yang menyusul suaminya yang dinas di Bogor. Berhubung waktu sudah tengah malam maka dia harus menunggu jadual kereta paling pagi untuk pergi ke Bogor. Malam itu terpaksa harus menginap di stasiun. Sambil mendengarkan cerita ibu tersebut saya pandangan saya arahkan di sekeliling. Tidak ada satupun wanita yang tidur di Stasiun. Karena berpikir positif maka saya tawarkan Ibu tersebut untuk menginap di rumah saya. Terus terang tidak sampai hati saya melihat seorang Ibu tidur di tempat yang rawan dengan kriminalitas.
Keputusan tersebut akan saya diskusikan dengan istri. Alahmadullilah saat hal tersebut kusampaikan ke Istri ternyata setuju. Satu malam Ibu tersebut mengindap di rumah dan paginya saya antarkan ke stasiun. Namun kewaspadaan tetap saya lakukan. Selain melapor pada ketua RT, saat menginap di rumah si Ibu tersebut ditemani oleh Ibu saya.
Berpikir positif selain membuat hati tenang juga dapat meningkatkan produktivitas kita. Pikiran yang selalu melihat sisi baik dari setiap masalah maka akan mendorong kita bekerja lebih baik. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Setiap sisi buruk sseorang pasti ada sisi baiknya. Setiap ada musibah pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya kalau kita berpikir negatif yaitu melihat sisi buruk dari suatu masalah akan membuat hidup kita susah. Pikiran kita menjadi tidak tenang, takut dan konflik dengan banyak orang. Lebih berbahaya kalau pikiran negatif menguasai kita bisa membuat kita menjadi apatis dan mudah putus asa.
Auditor yang biasa mempratekkan negative thinking untuk melakukan pemeriksaan juga sudah sedikit demi sedikit merubah paradigma tersebut. Saat ini pendekatan yang mereka lakukan pada kliennya lebih kepada mitra kerja dibanding antara pemeriksa dan yang diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan diharapkan dapat memperbaiki kinerja organisasi yang diperiksanya. Namun bagi oknum yang melakukan perbuatan melanggar hukum tetap mendapatkan sanksi sesuai dengan perbuatannya.
Dari acara bincang-bincang di pagi hari tersebut, saya sudah menetapkan dalam hati saya mulai saat ini berpikir postif menjadi motto hidup saya. Tentu dukungan istri dan anak sangat diperlukan. Oleh karena itu sudah sewajarnya kalau satu keluarga menerapkan prinsip ”Semangat pagi” yang dilontarkan oleh seorang penelepon pada diskusi mengenai berpikir positif. Saya yakin dan percaya bahwa kehidupan sayadan keluarga akan lebih bermakna kalau saya bisa menerapkan prinsip ini dengan baik. Semoga.
BLT- BIKIN LANGSUNG TERPURUK- RAKYAT MISKIN
Tidak peduli besarnya gelombang protes yang dilancarkan banyak pihak, pemerintah SBY-JK bersikeras program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetap jalan terus. Pemerintah berkilah BLT mampu mengentaskan masyarakat miskin dari himpitan kenaikan harga yang dipicu oleh melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Paket ini menelan biaya sampai sebesar Rp14,1 triliun dan diharapkan dapat menolong sebanyak 19,1 juta orang miskin. Benarkah BLT mampu mencapai tujuan tersebut?
Di tengah meroketnya kebutuhan hidup, BLT sebesar Rp100.000 per bulan selama 7 bulan hanya mampu untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup warga miskin. Dalam hitungan hari uang tersebut akan habis. Setelah itu, roda kehudupan penerima BLT kembali berputar untuk dapat bertahan hidup. Tidak hanya itu, BLT mengajarkan pada masyarakat miskin untuk menjadi bangsa pengemis. Jiwa pemalas menjadikan kehidupan mereka semakin sulit. BLT yang melenceng dari sasaran bisa diplesetkan, Bikin Langsung Terpuruk bagi rakyat miskin. Kalau tidak tepat sasaran bukan tidak mungkin BLT malah menambah masalah baru.
Berbagai persoalan yang mengemuka pada BLT 2005 seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Banyak kasus mewarnai BLT dari data penerima yang kurang akurat, dana yang disunat, aksi anarkis masa sampai pelaksanaan pembagian dana yang berantakan. Namun itu semua tidak membuat pemerintah menjadi jera. Bahkan tanpa persiapan matang BLT 2008 ini seolah jadi senjata pemungkas untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Tragisnya, walau sudah tidak up to date pemerintah menggunaan data 2005 sebagai dasar pembagian BLT. Seharusnya pemerintah memperbaharui data tersebut karena selama 3 tahun bukan tidak mungkin sudah banyak terjadi perubahan. Selain itu pada 2005 disinyalir penerima BLT termasuk warga yang masih tergolong mampu. Ironisnya warga yang benar-benar miskin malah tidak termasuk dalam daftar. Hal ini bisa terjadi karena permainan oknum petugas lapangan.
Pelaksanaan pembagian BLT tidak semulus yang diperkirakan. Tidak sedikit aparat kelurahan/ desa yang menjadi garda terdepan pelaksanaan BLT menjadi sasaran kemarahan masa. Tidak puas dengan pelaksanaan BLT mereka mengintimidasi para petugas. Kondisi ini menjadi peristiwa traumatis bagi mereka. Tidak berlebihan kalau mereka menentang keras pelaksanaan BLT 2008 ini. Namun ancaman sangsi yang akan dikenakan petugas yang menolak BLT menyurutkan langkah penentangannya.
Bahaya utama yang perlu diwaspadai dari peluncuran program BLT adalah menjadikan mental pengemis bagi kaum miskin. Budaya ini jelas sangat merugikan. Seharusnya bantuan kail jauh lebih baik daripada ikan. Bekerja menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan hidup yang dihadapi rakyat miskin. Bukan mustahil dengan bekerja suatu saat mereka mampu keluar dari jeratan kemiskinan. Sementara BLT hanya menjadikan mereka menjadi bangsa pemalas.
Langkah yang ditempuh pemerintah dalam program BLT ini nampaknya hanya untuk mengatasi permasalahan jangka pendek tidak menyentuh pada akar permasalahan. Uang berapapun diberikan akan habis dalam waktu sekejap. Berbeda dengan bekal keahlian maupun ketrampilan akan mendatangkan uang bukan menghabiskan uang. Bantuan berupa modal kerja, ketrampilan, pendidikan maupun bantuan lainnya merupakan langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah. Mengintensifkan Balai Latihan Kerja, mendirikan bank-bank mikro, dan memberikan bantuan ketrampilan lainnya jauh lebih baik dibandingkan BLT.
Kita pun seharusnya bisa menyerap pelajaran berharga dari bangsa Jepang. Kekalahan perang, kondisi negara yang hancur lebur dihantam bom atom dan sumber daya alam yang tidak bersahabat bukanlah menjadi halangan bagi mereka untuk maju. Mereka selalu bekerja keras untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kegigihan mereka telah membawa bangsa Jepang menjadi bangsa yang makmur.
BLT bukan solusi terbaik. Potensi bahayanya lebih besar dari manfaat yang ingin diraih. Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah mengganti program BLT dengan program yang lebih baik. Memberikan kail jauh lebih baik daripada ikan. Kalau itu semua bisa dijalankan dapat dipastikan akan terbuka kesempatan kerja yang luas bagi rakyat miskin. Ke depan istilah BLT dapat diplesetkan menjadi Buka Lapangan Tenaga Kerja. Semoga.