13 Maret 2008

Langkah Inovatif Micro Finance Institutions Menembus Pasar Modal

Resensi Buku

Judul : Microfinance Investment Funds: Leveraging Private Capital For Economic Growth and Poverty Reduction
Editor : Ingrid Matthaus-Maier and J.D. von Pischke
Penerbit : Springer
Halaman : XIII + 290, (2006)

Oleh: Heri Ispriyahadi

”Small is beautiful” rasanya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok lembaga keuangan mikro (Micro Finance Institutions). Walau hanya memiliki modal kecil namun tidak menghalangi langkah besar lembaga ini untuk mengentaskan kemiskinan di berbagai pelosok penjuru dunia. Sebagai gambaran Grameen Bank (bank kaum miskin) mampu mendulang sukses memotong lingkaran kemiskinan di Bangladesh. Bahkan perkembangan bank kaum miskin ini telah menggurita baik dilihat dari bidang usaha maupun wilayah operasinya. Sistim Grameen bank telah menginspirasi tumbuhnya bank-bank mikro di berbagai belahan dunia termasuk di Amerika Serikat yang dikenal sebagai pusat perbankan komersial terbesar di dunia.

Satu hal yang perlu digarisbawahi ternyata kaum miskin lebih patuh dibandingkan kelompok debitur lain. Pengembalian kredit oleh kaum miskin di lembaga keuangan mikro hampir mencapai 100%. Ironisnya perbankan komersial yang sama sekali tidak melirik kaum miskin sebagai target kredit malah lebih banyak berkutat dengan masalah kredit macet. Fakta ini jelas mementahkan pandangan skeptis banyak pihak yang percaya bahwa menaruh kaum miskin dalam outlet kredit perbankan hanya memperburuk Non Performing Loan (NPL).

Kredit bagi kaum miskin dianggap sebagai satu-satunya pintu gerbang untuk keluar dari kemiskinan. Kesempatan yang sangat langka ini jelas tidak akan disia-siakan oleh kaum miskin. Mereka berkerja keras memanfaatkan kredit demi merubah nasib sehingga mampu membayar kembali pinjamannya.

Modal Terbatas
Keterbatasan sumber dana menyebabkan peran lembaga keuangan mikro untuk membantu kaum miskin juga terbatas. Hanya mengandalkan sumber dana dari para donatur dan agen pembangunan jelas tidak cukup. Padahal saat ini jutaan kaum miskin mengantri kucuran modal dari lembaga mikro. Tidak ada jalan lain lembaga keuangan mikro harus mulai keluar dari pakem pendanaan hanya mengandalkan para donatur dan agen pembangunan. Salah satu produk dari proses kreatif dan inovatif yang berhasil diluncurkan dikenal dengan nama Micro Finance Investment Funds (MFIFs). MFIFs diluncurkan pertama kali tahun 1990 an dan perkembangannya sampai dengan Oktober 2004, 55 MFIF’s telah dioperasikan.

Buku yang merupakan kumpulan tulisan para ahli micro finance dan diedit oleh Ingrid Matthaus-Maier dan J.D. Von Pischke, managing directors KfW Bankengruppe membahas MFIFs secara detail dan komprehensif. Buku ini merupakan karya ilmiah KfW untuk mempromosikan perkembangan lembaga keuangan mikro. KfW selama ini dikenal mempunyai mempunyai sejarah panjang membantu permodalan maupun technical assistance untuk lembaga keuangan mikro. Tulisan dikelompokkan dua bagian besar yaitu pasar bagi investasi di lembaga keuangan mikro dan resiko & governance investasi di lembaga keuangan mikro.

Jenis dan Strategi Pemasaran MFIFs
MFIFs dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu (i) Commercial Microfinance Investment Fund (target yang dibidik adalah para investor dan lembaga swasta), (ii) Quasi-Commercial Microfinance Investment Funds (target adalah lembaga-lembaga donor baik swasta maupun development agencies) dan (iii) Microfinance Development Funds (target utama adalah para investor yang berasal dari lembaga-lembaga non profit).
Strategi untuk mempromosikan MFIFs meliputi : (i) Grenfield Approach: mendirikan lembaga keuangan mikro baru dan memperluas jaringan, (ii) Down-Scalling Approach: restrukturisasi bank komersial lokal yang mempunyai komitmen untuk membiayai lembaga keuangan mikro, (iii) Up-grading Approach: transformasi organisasi lembaga keuangan mikro menjadi bank mikro dan (iv) Linking Approach: Menghubungkan MFIs dengan bank nasional atau bank Internasional.

Untuk menarik investor-investor agar mau berinvestasi ke lembaga-lembaga keuangan mikro berbagai langkah maju telah dilakukan. Lembaga keuangan mikro melakukan transformasi menjadi bank, menyeimbangkan tujuan sosial dan bisnis serta lebih transparan menyajikan informasi. Perubahan ini di satu sisi membuka pintu lebar-lebar lembaga keuangan mikro untuk inovasi, diversifikasi produk dan lebih profesional dalam melayani para nasabahnya. Namun di sisi lain apabila tidak dikelola dengan baik orientasi lembaga keuangan mikro bisa terjerumus dominasi pada kegiatan bisnis dibandingkan sosial.

Prospek Menjanjikan
Bisnis lembaga keuangan mikro ternyata memberikan keuntungan yang besar. Berdasarkan penelitian Micro’ Rate tahun 2004 pada 30 lembaga keuangan mikro terkemuka di Amerika Latin mencatat hasil yang mengejutkan karena Return on Earning (ROE) nya lebih tinggi dibandingkan Citigroup maupun bank-bank lokal. Hasil studi ini yang membuat optimis banyak kalangan akan keberhasilan peluncuran MFIFs. MFIFs diharapkan menjadi kendaraan bagi sektor keuangan mikro untuk mendapatkan tambahan modal.
Rasa optimisme muncul akan perkembangan MFIFs dengan berbagai alasan yaitu pertama, selama ini telah terbukti bahwa lembaga keuangan mikro atau bank mikro memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Hubungan antara pegawai yang menangani pinjaman dengan nasabah-nasabahnya terjalin hubungan erat dan sangat loyal. Sebagai contoh lembaga-lembaga keuangan mikro di Bangladesh dan Bolivia mampu memberikan langkah besar yang inovatif sehingga mampu memberikan pinjaman dengan biaya yang rendah. Jumlah nasabah potensial sangat besar yaitu besarnya kaum miskin sehingga memberikan harapan akan semakin meningkatnya bisnis lembaga keuangan mikro. Kedua, biaya transaksi yang rendah karena proses kredit yang tidak berbeli-belit menjadi pertimbangan investor yang menghendaki adanya nilai tambah dari uang yang mereka investasikan. Terakhir, keterlibatan investor dalam investasi bisnis lembaga keuangan mikro membuat hidup mereka lebih bermakna dan menyenangkan.

MFIFs diibaratkan menyediakan sepotong kue yang hilang dari sisi suplai (investor dan capital market) dengan sisi permintaan lembaga keuangan mikro. Critical link adalah MFIFs menghubungkan pasar modal dengan microentrepreneurs di seluruh dunia. Dengan demikian menghubungkan antara sektor informal ekonomi dengan formal ekonomi yang menawarkan suatu formula untuk pertumbuhan berkesinambungan bagi berjuta-juta rumah-rumah tangga berpenghasilan rendah dalam operasi ekonomi yang informal. MFIFs mempunyai kontribusi yang potensial untuk memenuhi Millenium Development Goals (MDGs)

Usaha Mandiri
Sebagaimana halnya buku-buku micro finance lainnya, para pembaca dapat memetik pelajaran betapa signifikannya peran lembaga keuangan mikro bagi progam mengentaskan kemiskinan. Namun nilai lebih yang menjadi kekuatan dari buku ini adalah menanamkan semangat kemandirian pada lembaga keuangan mikro. Menjadi usaha mandiri akan mendorong kreativitas, inovasi dan profesional dalam berbisnis.

Peluncuran MFIFs oleh lembaga keuangan mikro merupakan proses kreatif dan inovatif untuk melepaskan ketergantungan pendanaan dari para donatur dan agen pembangunan.
Semangat kemandirian hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi lembaga keuangan mikro di Indonesia. Ketergantungan pada bantuan dana dari pemerintah yang membuat lembaga keuangan mikro mengalami pertumbuhan yang sangat lamban. Kondisi ketidak mandiran ini juga menjadi kritik tajam dari Muhammad Yunus sebagai faktor utama dibalik kegagalan Indonesia menerapkan sistim Grameen bank. Tugas pemerintah hanya sebatas pada memfasilitasi, sedangkan kinerja lembaga keuangan mikro sepenuhnya tergantung pada kreativitas dan integritas dari para pengurus.

Ditengah-tengah momentum meningkatnya intensitas pembahasan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini, kehadiran buku Micro Finance Investment Funds (MFIFs) sangat menarik untuk dibaca. Membaca buku ini akan membuka wawasan tentang inovasi-inovasi yang dilakukan lembaga keuangan mikro di dunia ini.
Dikemas dengan gaya bahasa ilmiah dan diperkaya hasil-hasil penelitian oleh lembaga penelitian yang kredibel membuat buku ini cukup berbobot. Namun, pembaca yang ingin tahu banyak tentang bagaimana perkembangan MFIFs di Asia tidak akan mendapatkannya dalam buku ini. Para penulis lebih banyak menjelaskan perkembangan MFIFs di Eropa dan Amerika Latin.

Buku ini akan menjadi lebih menarik apabila para penulis dapat melengkapi perkembangan MFIFs di Asia. Namun demikian dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi acuan praktis terutama kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya yang berkecimpung dalam pengembangan UMKM maupun program pengantasan kemiskinan. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah lembaga keuangan mikro, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan langkah-langkah inovatif mendiversifikasi sumber pendanaan di negara-negara lain.

11 Maret 2008

MENGURAI BENANG KUSUT KORUPSI DI INDONESIA

Oleh: Heri Ispriyahadi

Kompas hari ini tanggal 11 Maret 2008, memuat berita bahwa Indonesia menduduki juara ketiga dalam hal korupsi di Asia setelah Phlipina dan Thailand versi PERC (Political and Economic Risk Consultancy). Peringkat ketiga tersebut atas dasar hasil survey terhadap 1400 warga asing pelaku bisnis pada bulan Januari dan Februari 2008. Hasil ini jelas tidak ada yang dibanggakan bahkan membuat muka kita tercoreng. Tidak hanya PERC, berbagai survey juga menunjukkan bahwa Indonesia selalu menduduki peringkat tinggi untuk masalah korupsi.
Korupsi kenapa sulit diberantas di tanah air tercinta ini? kalau kita runut penyebabnya karena korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan luas. Bahkan bisa dikatakan korupsi sudah mendarah daging dan menyatu dalam diri oknum aparatur pemerintah dari tataran yang paling rendah sampai pucuk pimpinan tertinggi. Padahal ajaran agama apapun jelas-jelas menyatakan korupsi adalah perbuatan terlarang. Berbagai alasan-alasan pembenaran pelaku korupsi dikemukan dari gaji yang terlalu rendah, kesejateraan yang minim sampai biaya hidup yang terus merangkak naik. Kalau dihitung secara matematis memang gaji yang diterima oleh pegawai pemerintah sangat rendah dan sulit untuk bertahan sampai akhir bulan. Namun apakah korupsi sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan hidup ini. Kalau mau jujur sebenarnya masih banyak saudara-saudara kita yang lebih menderita dari para aknum aparatur pemerintah kita. Bukan jalan pintas korupsi yang seharusnya dipilih akan tetapi kerja keras dengan mencari ridho Allah SWT yang sebaiknya dilakukan.
Namun ironisnya, korupsi yang dilakukan dengan menisbikan ajaran agama dan telah menjadi budaya yang sulit diberantas. Pegawai baru yang masih polos dengan integritas yang baik pun sulit untuk membendung arus korupsi yang begitu kuat. Tidak tahan arus yang sedemkian kuat akhirnya mereka pun terseret masuk ke dalam lingkaran kourpsi. Akhirnya, saat pertama kali menerima hasil korupsi hati mereka campur aduk antara takut dan bersalah. Perasaan tersebut berangsur-angsur menghilang seiiring dengan merebaknya korupsi di tempat dia bekerja dan tidak ada resiko yang dia tanggung karena korupsi yang dilakukan sudah dapat dikatakan sebagai korupsi berjamaah. Iman yang mulai tergerus dan kenikmatan duniawi yang dirasakan membuat korupsi yang dilakukan semakin menjadi-jadi.
Kalau kita perhatikan berbagai korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah. Setiap hari mass media cetak dan televisi menyiarkan berbagai kasus korupsi. Namun hasil sidang kourpsi sering mengecewakan karena si pelaku yang sudah merugikan negara berhasil mempengaruhi sang penegak keadilan sehingga mereka mendapat hukuman yang ringan tidak setimpal dengan perbuatannya. Di sisi lain pelaku kriminal kecil-kecilan harus merasakan hukuman berat yang tidak sebanding dengan hasil kejahatannya. Kondisi inilah yang membuat korupsi semakin subur dan sulit untuk diberantas.
Apakah kita menyerah dengan keadaan ini dan membiarkan kejahatan korupsi merajelela di tanah air tercinta. Seharusnya tidak, kita harus tetap yakin dan percaya bahwa korupsi harus dimusnahkan di bumi tercinta ini. Mungkin tidak bisa langsung secara drastis, pemberantasan harus dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan. Jangan hanya untuk konsumsi politik,maka pemberantasan dilakukan hanya sporadis dan tebang pilih. Korupsi jelas memberikan dampak sangat merugikan bagi perekonomian. Investor-investor asing yang diharapkan menjadi tambang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat satu persatu meninggalkan Indonesia karena tidak tahan berhadapan dengan aparatur-apratur pemerintah yang korup. Mereka harus mengeluarkan biaya-biaya siluman yang jumlahnya tidak sedikit. Kondisi ini menyulitkan mereka dalam berusaha karena harus menanggung ekonomi biaya tinggi sehingga sulit bersaing. Tidak hanya pengusaha asing, pebisnis lokal pun juga merasakan besarnya biaya-biaya siluman yang mereka harus keluarkan. Kualitas infrastruktur hasil pembangunan juga buruk akibat besarnya korupsi yang disunat dari anggaran proyek. Sering kita dengar bangunan runtuh, jalan rusak, jembatan ambruk tidak lama setelah diresmikan.
Mengingat begitu dasyatnya dampak dari korupsi tersebut maka kita harus bahu membahu menyatukan tekat untuk bersama-sama perang melawan korupsi. Paling tidak seperti yang AA Gym katakan dalam setiap ceramah yang terkena dengan 3 M nya yaitu Mulai diri sendiri, Mulai saat ini dan Mulai dari yang kecil. Prinsip 3M ini sangat dasyat kalau semua pihak dapat menjalankannya, hasilnya korupsi bisa ditekan seminimal mungkin. Berikut ini ada beberapa usulan yang diharapkan bisa mengurangi korupsi :
1.Perkuat pilar agama. Kalau hal ini berhasil dilakukan, Insya Allah korupsi secara berangsur-angsur akan lenyap dari bumi Indonesia. Ingat Allah SWT berarti tidak akan berbuat korupsi. Siksa yang pedih akan menimpa orang yang berbuat korupsi entah di dunia atau akhirat nantinya. Sedari kecil hendaknya ditanamkan ajaran-ajaran agama sehingga pada saat dewasa akan menjadi tembok yang sangat kokoh menghadapi terjangan angin, ombak maupun fenomena kehidupan lainnya.

2.Tegakan supremasi hukum seadil-adilnya dan Korupsi diberlakukan sebagai kejahatan besar dengan memberikan hukuman berat. Hal ini dilakukan agar orang menjadi jera melakukan korupsi. Kalau perlu pelaku korupsi dikenakan hukuman mati seperti yang dijalankan di China.

3.Tingkatkan kesejahteraan pegawai. Artinya untuk memerangi korupsi maka sebaiknya diberikan gaji dan fasilitas yang cukup. Memang hal ini berat bagi pemerintah untuk menyediakan anggaran yang sangat besar. Namun hal ini dapat dilakukan dengan melakukan langkah-langkah efisiensi-efisiensi yang selama ini membebani anggaran.

4.Perkuat sistim pengawasan dalam setiap pelaksanaan proyek. Kondisi ini mutlak diperlukan untuk memangkas kesempatan orang berbuat korupsi.

5.Tayangkan foto pelaku korupsi dalam media massa. Mungkin bertentangan dengan HAM, namun efektif membuat malu si pelaku korupsi.

Lima langkah tersebut kalau betul-betul dijalankan. Insya Alllah kita akan menikmati indahnya negara tercinta ini terbebas dari korupsi, masyarakat yang hidup tenang damai dan sentosa. Semoga.

Pelabuhan Terakhir Kehidupan

Oleh : Heri Ispriyahadi

Belum lama berselang saya kehilangan Ayahanda mertua tercinta yang telah berpulang ke rahmatullah. Ruh pun telah berpisah dengan raga. Yang tersisa hanyalah jasad yang terbujur kaku tak berdaya melakukan apapun. Berbagai upacara dilakukan dari memandikan, menyolatkan, mengkafani dan terakhir menguburkan jenasah almarhum ayah tercinta. Tubuh yang sudah tak bernyawa mulai tercerai berai dan menyatu dengan tanah. Betapa Allah SWT begitu kuasanya dan kita makhuk ciptaannya tidak mampu menolak apabila Sang maha pencipta berkehendak memanggil kita untuk kembali ke rumah Allah. Melihat ini semua membuat hati saya miris menerima kenyataan ini. Sehebat apapun kita dengan tubuh yang sangat kuat, harta yang berlimpah, dan jabatan yang sangat tinggi tidak artinya di mata Allah SWT. Semua itu ditinggalkan begitu saja saat kita menghadap sang pencipta . Yang kita bawa hanyalah amalan perbuatan kita di muka bumi.
Betapa menyesalnya kita kalau pada saat napas terhenti ternyata belum banyak pundi-pundi amal ibadah yang kita kumpulkan, sementara perbuatan-perbuatan yang sesat lebih banyak kita lakukan. Terbayang di depan mata betapa pedihnya siksaan di alam kubur dan alam barzah. Demikian pula pintu neraka pun terbuka lebar-lebar bagi kita yang hidupnya selalu dipenuhi perbuatan dosa yang dilarang oleh Allah SWT. Siksaan-siksaan akan mendera kita dan betapa pedihnya kita harus menanggung segala perbuatan kita. Sementara di tempat lain, betapa irinya kita menyaksikan orang-orang yang selama hidupnya dipenuhi tagwa kepada Allah SWT dengan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar menikmati indahnya surga yang disediakan oleh Allah SWT.
Kalau roda kehidupan bisa diputar ulang tentu kita akan mencoba untuk mengisi kembali ruang-ruang hampa kehidupan kita yang jauh dari perbuatan mulia. Masalahnya pada saat Allah SWT telah menetapkan batas akhir kehidupan kita di dunia fana ini, maka semua catatan-catatan amalan dan ibadah kita yang kita ukir selama ini ikut berhenti. Bahkan sedetik pun kita tidak bisa minta pengunduran waktu kepada Allah SWT untuk meminta tambahan waktu memperbanyak amalan-amalan yang dirasa masih kurang.
Dengan kejadian meninggalnya mertua tercinta, mantan presiden Soeharto, mantan penyanyi rock Bangun Sugito dan juga yang lainnya, kita bisa menarik benang merah bahwa Allah SWT tidak peduli siapapun orangnya kalau sudah waktunya tiba maka orang-orang yang dikehendakinya harus berpisah dengan keluarga tercinta. Tidak seperti kehidupan di dunia ini, kita menyaksikan betapa mudahnya hukum dipermainkan dengan kekuatan uang semua bisa diatur. Orang yang bersalah bisa bebas, sebaliknya orang yang tidak bersalah menjadi korban mafia peradilan. Demikian pula dalam mengurus berbagai perijinan, aturan-aturan yang telah ditetapkan diacak-acak oleh kekuatan uang. Orang-orang yang punya jabatan tinggi begitu berkuasanya menabrak berbagai rambu-rambu aturan untuk meraih apa yang diinginkan. Namun semua itu tidak ada artinya di mata Allah SWT, yang ada adalah tanggung jawab mereka atas segala perbuatannya selama ini.
Segala urusan dunia akan terputus begitu kita menghadap sang pencipta. Namun ada tiga amalan yang masih bisa menambah argo amalan kita setelah meninggal dunia yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak yang soleh dan sholehah. Untuk itu marilah kita konsentrasikan hidup kita agar kita memperbanyak amalan sehingga disaat berada di pelabuhan terakhir kehidupan sudah banyak tabungan amalan kita. Selalu mengingat kematian adalah cara terbaik untuk mengendalikan hidup kita. Adanya lonceng kematian yang akan dihadapi menyadarkan kita untuk selalu berbuat baik dan menjauhkan dari perbuatan yang dilarang agama.
Bukan berarti ingat kematian menjadikan kita apatis dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Kita harus harus selalu optimis dan berpikir positip untuk menjalankan kehidupan ini. Keseimbangan dunia dan akhirat yang menjadi tujuan kita. Berbuatlah baik seolah-olah besok kita akan mati dan bekerja keras lah seolah-olah kita akan hidup selamanya. Prinsip ini harus kita pegang teguh sehingga kita merasa nyaman dalam menata kehidupan ini. Bekerja untuk menafkahi keluarga merupakan ibadah, kekayaan yang banyak yang digunakan di jalan Allah SWT akan menambah argo amalan kita dan mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah merupakan investasi yang tak ternilai harganya.
Pelabuhan terakhir adalah sesuatu yang pasti dihadapi manusia, hanya saja kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Untuk itu marilah kita perbanyak amal ibadah kita, berusaha menjalankan amal ma’ruf nahi munkar dan kita songsong akhir kehidupan ini dengan husnul khotimal. Amin 3x

10 Maret 2008

Membedah Roda Bisnis Investment Banking

Judul : The Business of Investment Banking: A comprehensive Overview.
Editor : K. Thomas Liaw
Penerbit : John Wiley & Sons, Inc
Halaman : XII + 440, (2006)

Oleh : Heri Ispriyahadi

Kemajuan teknologi informasi yang pesat dan kerjasama yang semakin erat antar negara di bidang keuangan membuat hubungan pasar modal internasional semakin terintegrasi. Aliran dana dalam jumlah besar melintasi batas negara dan semakin banyak negara yang mengakses pasar keuangan internasional. Keterlibatan investment banking dalam pasar global tidak hanya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada kliennya, namun juga akan meningkatkan pendapatan mereka. Untuk mencapai target ini investment banking harus selalu bergerak dinamis mengikuti perubahan yang terjadi. Cakupan bisnis menjadi beragam dan persaingan semakin ketat tidak hanya melibatkan pelaku bisnis domestik namun juga asing. Selain itu penggunaan mata uang tunggal di kawasan Uni Eropa, masuknya China ke WTO, deregulasi keuangan di sejumlah negara besar juga ikut merombak peta bisnis invesment banking.
Berbagai kemudahan yang diberikan sejumlah negara dengan melakukan deregulasi di bidang keuangan telah membuat peningkatan eskalasi bisnis investment banking. Di Amerika Serikat, peraturan baru di bidang keuangan mengijinkan perbankan, perusahaan asuransi dan sekuritas melakukan afiliasi dalam bentuk holding company. Diberlakukannya peraturan ini membuat holding company menjelma menjadi raksasa di bidang keuangan karena dapat melayani hampir semua layanan baik kredit maupun produk-produk yang ditawarkan investment bank. Hal ini jelas menambah tekanan bagi Investment banks yang tidak ikut dalam holding company.
Namun di sisi lain skandal keuangan Enron dan WorldCom, membuat para pembuat kebijakan dan shareholders lebih meningkatkan kewaspadaan pada masalah transparasi, akuntabilitas dan corporate governance. Dikeluarkan the Sarbanes-Oxley Act of 2002 adalah sebagai respon untuk menjamin akuntabilitas korporasi dan mengembalikan kepercayaan publik. Dibawah Undang-Undang ini, the Public Company Accounting Oversight Boards (PCAOB) diberi wewenang untuk menerapkan sanksi disiplin pada perusahaan-perusahaan go public yang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku. Selain itu untuk menjamin transparansi, semua transaksi koreksi (adjusment) dan rekening administrasi (off-balance sheet) harus diungkapkan ke publik.

Bisnis Yang Dinamis
Invesment banking merupakan bisnis yang sangat cair dan dinamis. Untuk melakukan bisnis ini harus selalu melihat peluang dan mengantisipasi tren pasar dengan sumber daya yang ada untuk menghasilkan keputusan terbaik. Oleh karena itu kinerja investment banking harus memberikan keputusan yang cerdas bagi kliennya. Beberapa hal penting yang berkembang saat ini. Pertama, regulatory complience dan high standard governance telah menjadi bagian dari bisnis. Kedua, Eropa dan Asia telah mengalami perkembangan yang pesat. Terakhir, banyak perusahaan menerapkan strategi diversifikasi produk untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang berkesinambungan.
Pada awalnya bisnis Investment bank adalah memberikan jasa bagi kalangan perusahaan, investor maupun pemerintah yang akan melakukan merger, akuisisi, divestiture, menerbitkan saham atau obligasi. Namun dalam perkembangannya cakupan bisnis semakin luas merambah bisnis trading sekuritas, sekuritisasi, rekayasa keuangan, merchant banking, manajemen investasi dan jasa sekuritas.
Pendapatan yang diterima dari bisnis invetsment banking berupa underwriting spread, fee, komisi, dan keuntungan dari principal transactions. Selain menggunakan modal dari investor, investment bank juga menggunakan dana sendiri untuk menjalankan bisnisnya, seperti proprietory trading. Bahkan sejumlah investment banks seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sach dan Citigroup juga menyediakan dana kepada kliennya dengan melakukan pembelian sekuritas.

Full Services versus Boutique
Dalam menjalankan roda bisnis, kalangan investment bank dapat memilih satu dari dua bentuk jenis usaha yaitu full service atau boutique. Full service memberikan pelayanan yang komplit dari underwriting, trading, Merger’s and Acquisitions (M&A), merchant banking, jasa sekuritas, manajemen investasi sampai riset. Goldman Sach, Morgan Stanley dan Merril lynch yang merupakan kelompok Investment bank dan Citigroup, HSBC, Credit Suisse, JP Morgan Chase dari kelompok holding company termasuk perusahaan yang menjalankan usaha full service. Sementara Boutique khusus melayani segment market tertentu (niche market). Contoh perusahaan-perusahaan dari kelompok ini adalah Sandlers O’neill yang mengkhususkan diri pada financial institutions, Greenhill fokus pada M&A, resrukturisasi keuangan dan merchant banking, dan Lazard spesialisasi pada financial advisory dan asset management.
Dalam berbisnis, Investment bank tentu dihadapkan pada sejumlah resiko seperti market risk, credit risk, operating risk, reputation risk, legal risk dan funding risk. Untuk menghadapi resiko tersebut manajemen investment banks perlu memilih dan menerapkan strategi yang tepat dan efektif sehingga resiko dapat diminimalisir. Sukses dalam mengelola resiko yang diikuti dengan perluasan cakupan bisnis usaha akan membantu investment bank mencapai tujuan pertumbuhan yang berkelanjutan (sustain).

Asia, China dan Emerging Market Makin Terbuka
Untuk mendongkrak perkembangan pasar modal, negara-negara di Asia dan emerging market lainnya menjadi lebih akomodatif. China membuka pasarnya bagi investment bank asing agar ikut berkiprah menjalankan bisnis di negara tersebut sepanjang telah melakukan merger dengan perusahaan China. Bergabungnya China dengan WTO pada tahun 2001 dengan rekor pertumbuhan ekonominya yang fantastis akhir-akhir ini menjadi magnet kuat bagi kalangan investment banks global. Goldman Sach, Morgan Stanley dan Citigroup bersaing memperebutkan pasar yang potensial di China.
Perkembangan pasar modal di negara-negara Asia lainnya maupun emerging market juga berkembang pesat. Selain perbankan, pasar modal menjadi alternatif penting bagi perusahaan-perusahaan untuk mencari sumber dana. Bagi kalangan investor, pasar modal menjadi lahan yang menarik untuk berinvestasi. Untuk menarik minat investor-investor asing menjadikan pasar modal Asia menjadi outlet berinvestasi maka negara-negara Asia dan emerging market memperlonggar peraturan yang berlaku. Kondisi ini ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menguat, mengundang kehadiran holding company maupun investment banks global meramaikan aktivitas pasar modal di negara-negara tersebut.

Rujukan Bagi Banyak Kalangan
Buku ini ditulis Dr Liaw dengan semangat memperluas cakupan materi sekaligus melakukan revisi atas buku edisi pertama. Sebagai buku yang banyak dirujuk kalangan profesional dan akademisi yang menggeluti bidang keuangan, materi yang disajikan cukup komprehensif. Untuk memberikan pemahaman yang lengkap kepada pembaca, setiap produk investment banking dibahas dalam setiap bab tersendiri yang dilengkapi dengan data dan informasi dari hasil survey maupun riset oleh lembaga-lembaga peneliti yang kredibel. Selain itu penulis juga menyajikan perkembangan usaha dari raksasa bisnis invesment bank maupun holding company seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sach dan Citigroup dalam buku ini.
Sajian tentang Pasar sekuritas di China dan negara-negara emerging market lainnya merupakan daya tarik tersendiri buku ini. China yang dulu dikenal dengan tirai bambunya sekarang sudah berubah wajah menjadi negara yang terbuka sejak bergabung dengan WTO pada tahun 2001. Perkembangan pasar modal di China dan emerging market diulas dengan gamblang dalam buku ini. Sebagai presiden Chinese American Academic dan penulis buku China’s and banking secutires market, maka bukan hal yang sulit bagi Dr. Liaw untuk mengupas habis peluang dan tantangan bagi investment bank berbisnis di pasar modal China.
Selain memberikan pembekalan pengetahuan yang mendalam mengenai bisnis investment banking, para pembaca buku ini yang ingin berkarir dalam bisnis investment banking dapat memperoleh informasi tersebut pada bab 4. Demikian pula bagaimana proses kliring dan penyelesaian transaksi (clearing and settlement) juga diulas pada bab tersendiri. Pada akhir penulisan, buku ini ditutup dengan bab yang memprediksi potensi perkembangan investment banking di masa mendatang. Secara keseluruhan buku ini cukup tebal karena memuat 20 bab yang masing-masing bab nya dijelaskan secara detail. Namun demikian kemampuan penulis mengolah materi buku dengan kemasaan bahasa yang tidak terlalu ilmiah dan alur bahasan yang runtut membuat buku ini menarik untuk dibaca sampai tuntas.
Setelah membaca dan mengerti isi buku ini, maka para pembaca dapat mengikuti perkembangan topik yang masih hangat saat ini yaitu anjlognya subprime mortgage bond market di Amerika Serikat. Subprime mortgage bond merupakan salah bentuk sekuritisasi dari kredit perumahan. Dalam buku ini bahasan mengenai sekuritisasi aset baik dalam bentuk Mortgage Back Securities (MBS) maupun Asset Back Securities (ABS) dikupas secara gamblang pada bab 9. Seperti diketahui bahwa kegagalan bisnis subprime mortgage bond ini telah menimbulkan sentimen negatif dan menjadi virus yang mempunyai efek tular luar biasa. Pasar modal di berbagai pelosok dunia ikut bergejolak. Kalangan investment banks yang mempunyai eksposur subprime motgage bond mengalami tekanan hebat seperti kerugian yang dialami Goldman Sach dan Bear Stern.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi acuan praktis terutama kalangan profesional di bidang keuangan, pengamat pasar modal, perbankan, bank sentral, investor, pembuat kebijakan maupun pelaku bisnis terkait investment banking. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah investment banking, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan yang dimilikinya

Kemajuan Iptek Mendongkrak Kebangkitan Ekonomi India

Judul : India, Bangkitnya Raksasa Baru Asia (Calon Pemain Utama Dunia
di Era Globalisasi)
Editor : Irwan Suhanda
Penerbit : PT Kompas Media Nusantara
Halaman : XXIII + 247, (2007)

Oleh: Heri Ispriyahadi

Kinerja ekonomi India yang tumbuh fantastis dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat perhatian dunia. India mencatat rekor tumbuh tercepat kedua setelah China. Bahkan ke depan diperkirakan India bersama China akan menjelma menjadi kekuatan besar setara dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kebangkitan ekonomi India bagai magnet yang menyedot banyak pihak untuk mempelajari lebih dalam mengenai India. Untuk menjawab kebutuhan ini hadir ditengah-tengah kita buku-buku maupun artikel-artikel yang ditulis oleh berbagai kalangan yang mendalami ekonomi India. Demikian pula hadirnya buku ini juga dimaksudkan untuk menuntaskan dahaga para pembaca yang haus akan informasi tentang India. Dari berbagai buku dan artikel tersebut dapat ditarik benang merah bahwa kunci sukses kemajuan ekonomi India terletak pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang maju pesat.
Buku ini merupakan bunga rampai tulisan-tulisan yang dimuat surat kabar harian Kompas tentang India dari berbagai sudut pandang. Catatan penting yang patut digarisbawahi dari kemajuan India terletak pada tiga hal yaitu liberalisasi dan reformasi ekonomi, kekuatan internal dan dukungan lingkungan eksternal. Sejak merdeka tahun 1947 sampai tahun 1990, aktivitas ekonomi India berjalan sangat lamban. Kondisi ini akibat kebijakan ekonominya tidak pro pasar, campur tangan pemerintah yang sangat kuat dan mengandalkan subtitusi impor. Namun sejak terjadi kesulitan neraca pembayaran tahun 1991 memaksa India harus melakukan reformasi di berbagai bidang baik ekonomi maupun non ekonomi. Perubahan paradigma ini ternyata berdampak positif pada ekonomi India tercermin dari peningkatan perdagangan luar negeri, aliran modal asing mengalir deras baik dalam bentuk PI (Portfolio Investment) maupun FDI (Foreign Direct Investment) dan aktivitas ekonomi yang mulai bergairah.
India selama ini dikenal sebagai negara yang relatif tertutup dan pasarnya sulit ditembus oleh pihak asing. Faktor dominan adalah menisbikan kekuatan pasar diikuti semangat swadesi (memenuhi kebutuhan sendiri) yang kental. Peran pemerintah sangat dominan yaitu mengatur segalanya. Strategi ini ternyata tidak ampuh menjadi kekuatan pembangunan bahkan hasil yang diperoleh kemiskinan semakin merajelela. Di bawah kepemimpinan PM PV Nashimha Rao dan Menteri Keuangan Manmohan Sigh (kini menjabat PM) sejak tahun 1991 India mulai membuka diri dengan melakukan liberalisasi ekonomi. Pemerintah mulai melucuti Lisensi Raja (dalam hal investasi, industri dan lisensi impor), mengakhir monopoli negara di banyak sektor, dan mengijinkan investor asing menggeluti bisnis domestik. Perubahan paradigma pada kekuatan pasar dan sentuhan asing membawa India menjadi kekuatan dunia.
Dua sektor yang luput dari campur tangan pemerintah yaitu bidang teknologi informasi dan industri film ternyata malah menjadi kekuatan besar India di kemudian hari. Kemajuan IT(Information Technology) India sangat fenomena, bahkan kota Bangalore telah menjadi pusat IT dunia. Hampir semua industri IT raksasa membuka kantor di kota ini dari Microsoft, IBM, Infosys dan Wipro. Kesemuanya itu didukung oleh kualitas pendidikan teknologi informasi yang memiliki reputasi internasional. Industri film di India merupakan industri layar lebar terbesar di dunia bahkan telah mengalahkan Hollywood dalam jumlah produksi film. Industri film ini mempunyai peran yang sangat besar dalam menyerap tenaga kerja. Sebanyak 2,3 juta orang India bekerja di sektor ini.

Centre of Excellent
Salah satu langkah krusial yang menjadi awal kebangkitan India adalah besarnya perhatian pemerintah pada kualitas pendidikan. Sistim dan kualitas pendidikan di India mempunyai standar dunia. Bahkan India dikenal sebagai pemasok pekerja ahli di dunia. Sebagai gambaran pada tahun 1990 an dari 150.000 pekerja asing yang bekerja di perusahaan IT Amerika Serikat sebanyak 60.000 diantaranya adalah para pakar software dari India. Kemajuan teknologi yang pesat menakutkan negara-negara maju lainnya. Menurut analis JP Morgan, dengan penduduknya yang mayoritas berusia muda dan berpengetahuan tinggi, maka dalam 20-30 tahun mendatang India diunggulkan dalam pelayanan teknologi informasi atau berbasis pengetahuan dengan layanan jarak jauh.
Kemajuan para entrepreneur India sudah mengglobal. Sejumlah perusahaan India dikenal sebagai pemain kelas dunia seperti Tata, Infosys, dan TVS Motor Company. Sepak terjang Tata bahkan telah menjadi pemain dunia yang patut diperhitungkan. Saat ini kiprah Tata telah beroperasi di 40 negara dengan 90 perusahaannya. Diversifikasi bisnis Tata sangat luas dari otomotif, baja, TI dan komunikasi, jasa, consumer products dan pertanian.
Di bidang farmasi India juga dikenal sangat spetakuler dan diperhitungkan di arena global. India memasok 40% kebutuhan dunia untuk obat-obatan curah (bulk). India dewasa ini mampu memproduksi obat-obatan jauh lebih murah dari negara manapun yaitu hanya separuh biaya produksi di Amerika Serikat. Dengan modal intelektual yang sangat kuat, India mampu memproduksi hingga 10 obat generik dalam setahun, sementara produsen asing hanya maksimal 2 produk. India saat ini juga mengincar pasar pelayanan medis. Dengan ongkos 80% lebih rendah di banding di AS, beberapa perusahaan di AS sedang menjajagi jasa perawatan kesehatan di India.

Isu Ketimpangan Pembangunan
Namun ditengah euphoria kemajuan ekonomi yang pesat ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan pemerintah India. India saat ini masih menganut dualisme ekonomi sebagian modern dan sebagian lainnya masih tertinggal. Pembangunan tidak merata tercermin dari pembangunan yang timpang di daerah Selatan dengan Utara. Disparitas tidak hanya dalam hal pertumbuhan ekonomi akan tetapi juga infrastruktur fisik dan sosial, arus investasi dan modal. Pembangunan lebih terkonsentrasi di wilayah India bagian selatan (Southern Corridor). Kondisi ini harus diwaspadai pemerintah India karena ketimpangan makin tinggi akan menjadi persoalan sosial politik di masa mendatang. Ketimpangan internal mengancam kohesi sosial.
Di wilayah selatan tumbuh menjadi kluster pusat pertumbuhan industri dan menjadi tujuan favorit investasi untuk IT, telekomunikasi, manufaktur dan jasa. Bangalore menjadi IT hub dan mendapat julukan lembah silikon-nya India (Silicon Valley of India). Hyderabad menjadi pusat pertumbuhan industri farmasi dan bioteknologi atau Genome Valley of India. Chenal sebagai daerah otomotif yang dikenal sebagai Detroit nya India. Kemiskinan kebanyakan terkonsentrasi di negara-negara bagian utara terutama Bihar, Mardya Pradesh, Rajastan dan Uttar Pradesh (BIMARU).

Isu Kemiskinan
Ironis di tengah kemajuan ekonomi yang mencengangkan banyak orang, persoalan kemiskinan masih menjadi isu di India. Sepertiga sampai setengah miliar penduduk India masih hidup dibawah garis kemiskinan. Meski dikenal sebagai negara superpower di bidang IT dan sangat unggul di bidang pendidikan, indikator pembangunan manusia secara umum masih terbelakang. Tingkat melek huruf di negara ini hanya 69% dan 53% anak usia SD harus drop out karena kemiskinannya. Angka kematian bayi mencapai 5 orang per 1000 kelahiran hidup. Peraih Nobel Ekonomi berdarah India, Amartya Sen, melihat kemiskinan dan kelaparan India sebagai cerminan kegagalan pembangunan sosial ekonomi dari India yang sukses membangun demokrasi di bidang politik dan industri berbasis teknologi.
Pertanian India saat ini sedang dalam persimpangan jalan. Revolusi hijau yang selama ini berhasil menyelamatkan muka India yang terus menerus didera kelaparan ternyata meminta korban yang lebih besar. Eksploitasi lahan dan pemakaian pupuk serta obat-obatan kimia yang berlebihan telah membuat kesuburan tanah menurun. Kemiskinan petani di India tak lepas dari lahan yang kecil. Ketentuan yang menyangkut subsidi pertanian juga tak lagi leluasa diterapkan oleh pemerintah akibat globalisasi dan liberalisasi pasar.


Buku bunga rampai yang disusun dengan memadukan 49 artikel pendek jelas berbeda bila dibandingkan dengan buku-buku tentang India lainnya seperti buku yang diterbitkan IMF yaitu India Goes Global, its Expanding Role in the World Economy dan CHINDIA, How China and India Are Revolutionizing Global Business yang ditulis oleh Pete Engardio. Target yang dibidik buku ini adalah pembaca kalangan luas sehingga informasi-informasi yang disajikan lebih ringkas dengan kemasan gaya bahasa popular. Kaum awam sekalipun dapat dengan mudah mengikuti alur cerita yang dikupas buku ini. Sementara kedua buku terakhir ditargetkan pada pembaca yang mendalami masalah ekonomi sehingga lebih sarat dengan teori dan diperkaya hasil riset tentang India.
Kekuatan sekaligus menjadi kelemahan dari buku ini adalah para pembaca akan mendapat sajian informasi yang cukup lengkap tentang India walau hanya sepotong-potong. Dengan membaca buku ini para pembaca dapat gambaran sisi positif dan negatif terkait dengan kebangkitan ekonomi India. Ditengah euphoria kebangkitan ekonominya, pemerintah India ternyata masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Buku ini akan lebih menarik kalau editor dapat melengkapi dengan tulisan ringkas atau artikel mengenai pelajaran berharga apa yang bisa dipetik dari kebangkitan ekonomi India.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi dorongan semangat bagi semua pihak untuk meniru sisi positif langkah-langkah yang ditempuh India dalam pembangunan ekonominya. Bagi kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya yang bertanggung jawab pada pembangunan ekonomi, buku ini dapat menjadi acuan praktis. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami ekonomi pembangunan, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan akan pembangunan ekonomi yang dilakukan negara lain.