11 Maret 2008

Pelabuhan Terakhir Kehidupan

Oleh : Heri Ispriyahadi

Belum lama berselang saya kehilangan Ayahanda mertua tercinta yang telah berpulang ke rahmatullah. Ruh pun telah berpisah dengan raga. Yang tersisa hanyalah jasad yang terbujur kaku tak berdaya melakukan apapun. Berbagai upacara dilakukan dari memandikan, menyolatkan, mengkafani dan terakhir menguburkan jenasah almarhum ayah tercinta. Tubuh yang sudah tak bernyawa mulai tercerai berai dan menyatu dengan tanah. Betapa Allah SWT begitu kuasanya dan kita makhuk ciptaannya tidak mampu menolak apabila Sang maha pencipta berkehendak memanggil kita untuk kembali ke rumah Allah. Melihat ini semua membuat hati saya miris menerima kenyataan ini. Sehebat apapun kita dengan tubuh yang sangat kuat, harta yang berlimpah, dan jabatan yang sangat tinggi tidak artinya di mata Allah SWT. Semua itu ditinggalkan begitu saja saat kita menghadap sang pencipta . Yang kita bawa hanyalah amalan perbuatan kita di muka bumi.
Betapa menyesalnya kita kalau pada saat napas terhenti ternyata belum banyak pundi-pundi amal ibadah yang kita kumpulkan, sementara perbuatan-perbuatan yang sesat lebih banyak kita lakukan. Terbayang di depan mata betapa pedihnya siksaan di alam kubur dan alam barzah. Demikian pula pintu neraka pun terbuka lebar-lebar bagi kita yang hidupnya selalu dipenuhi perbuatan dosa yang dilarang oleh Allah SWT. Siksaan-siksaan akan mendera kita dan betapa pedihnya kita harus menanggung segala perbuatan kita. Sementara di tempat lain, betapa irinya kita menyaksikan orang-orang yang selama hidupnya dipenuhi tagwa kepada Allah SWT dengan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar menikmati indahnya surga yang disediakan oleh Allah SWT.
Kalau roda kehidupan bisa diputar ulang tentu kita akan mencoba untuk mengisi kembali ruang-ruang hampa kehidupan kita yang jauh dari perbuatan mulia. Masalahnya pada saat Allah SWT telah menetapkan batas akhir kehidupan kita di dunia fana ini, maka semua catatan-catatan amalan dan ibadah kita yang kita ukir selama ini ikut berhenti. Bahkan sedetik pun kita tidak bisa minta pengunduran waktu kepada Allah SWT untuk meminta tambahan waktu memperbanyak amalan-amalan yang dirasa masih kurang.
Dengan kejadian meninggalnya mertua tercinta, mantan presiden Soeharto, mantan penyanyi rock Bangun Sugito dan juga yang lainnya, kita bisa menarik benang merah bahwa Allah SWT tidak peduli siapapun orangnya kalau sudah waktunya tiba maka orang-orang yang dikehendakinya harus berpisah dengan keluarga tercinta. Tidak seperti kehidupan di dunia ini, kita menyaksikan betapa mudahnya hukum dipermainkan dengan kekuatan uang semua bisa diatur. Orang yang bersalah bisa bebas, sebaliknya orang yang tidak bersalah menjadi korban mafia peradilan. Demikian pula dalam mengurus berbagai perijinan, aturan-aturan yang telah ditetapkan diacak-acak oleh kekuatan uang. Orang-orang yang punya jabatan tinggi begitu berkuasanya menabrak berbagai rambu-rambu aturan untuk meraih apa yang diinginkan. Namun semua itu tidak ada artinya di mata Allah SWT, yang ada adalah tanggung jawab mereka atas segala perbuatannya selama ini.
Segala urusan dunia akan terputus begitu kita menghadap sang pencipta. Namun ada tiga amalan yang masih bisa menambah argo amalan kita setelah meninggal dunia yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak yang soleh dan sholehah. Untuk itu marilah kita konsentrasikan hidup kita agar kita memperbanyak amalan sehingga disaat berada di pelabuhan terakhir kehidupan sudah banyak tabungan amalan kita. Selalu mengingat kematian adalah cara terbaik untuk mengendalikan hidup kita. Adanya lonceng kematian yang akan dihadapi menyadarkan kita untuk selalu berbuat baik dan menjauhkan dari perbuatan yang dilarang agama.
Bukan berarti ingat kematian menjadikan kita apatis dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Kita harus harus selalu optimis dan berpikir positip untuk menjalankan kehidupan ini. Keseimbangan dunia dan akhirat yang menjadi tujuan kita. Berbuatlah baik seolah-olah besok kita akan mati dan bekerja keras lah seolah-olah kita akan hidup selamanya. Prinsip ini harus kita pegang teguh sehingga kita merasa nyaman dalam menata kehidupan ini. Bekerja untuk menafkahi keluarga merupakan ibadah, kekayaan yang banyak yang digunakan di jalan Allah SWT akan menambah argo amalan kita dan mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah merupakan investasi yang tak ternilai harganya.
Pelabuhan terakhir adalah sesuatu yang pasti dihadapi manusia, hanya saja kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Untuk itu marilah kita perbanyak amal ibadah kita, berusaha menjalankan amal ma’ruf nahi munkar dan kita songsong akhir kehidupan ini dengan husnul khotimal. Amin 3x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar