Oleh : Wahyu Pratomo dan Heri Ispriyahadi
Genderang perebutan kursi kepresidenan Amerika Serikat telah riuh ditabuh. Kandidat-kandidat presiden dari Partai Demokrat dan Republik telah menyelesaikan pemilihan pendahuluan tingkat partai (primary) di Iowa dan New Hampshire.
Pemilihan-pemilihan pendahuluan di negara bagian lain segera menyusul. Ujungnya, sebanyak 20 negara bagian serentak akan menyenggarakan pemilihan pendahuluan pada Selasa, 5 Februari 2008. Pada hari itu, dikenal dengan Super Tuesday, akan muncul masing-masing satu pemenang dari Partai Demokrat dan Partai Republik untuk bertarung memperebutkan kursi kepresidenan pada bulan November mendatang.
Meski masih sekitar 4 minggu lagi menuju Super Tuesday, praktis kini tinggal dua kandidat Partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton, yang berebut tiket partai ke pemilihan presiden. Persaingan tiket Partai Republik sebaliknya masih terbuka dan sulit ditebak, dengan Mitt Romney, Mike Huckabee, John McCain, dan Rudi Guiliani berpeluang sama besar.
Apa arti ekonomi Pemilihan Presiden AS kali ini? Di tengah ekonomi AS yang melambat sebagai dampak krisis kredit subprime dan tingginya harga minyak, Presiden Bush diyakini memilih kebijakan ekonomi populis untuk mendongkrak popularitas di tahun pemilu 2008. Lalu apa kira-kira kebijakan ekonomi yang ditempuh Obama, Clinton, dan kandidat Partai Republik bila terpilih sebagai Presiden AS? Dengan pangsa hampir 20% terhadap PDB dunia, pemilihan presiden di AS berpengaruh besar bukan hanya bagi ekonomi AS tapi juga dunia ke depan.
Political Business Cycle
Pendekatan Political Business Cycle (PBC) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun sebelum pemilu AS rata-rata lebih tinggi daripada tahun sesudahnya. Politikus digambarkan dalam PBC sebagai pihak yang hanya mengedepankan keuntungan diri sendiri, yang belum tentu sejalan dengan kepentingan masyarakat. Dengan pemilih cenderung hanya memiliki perspektif jangka pendek, dorongan begitu besar bagi politikus untuk memanipulasi kebijakan ekonomi guna memaksimalkan kepentingan, yakni (tetap) duduk di pemerintahan.
Data mendukung prediksi PBC ini. Rata-rata pertumbuhan PDB AS per tahun pada tahun keempat baik pemerintahan Demokrat maupun Republik sejak tahun 1949 tercatat sebesar 3,7%, atau 0,3% lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata pada tahun pertama. Hanya prediksi PBC bahwa tingkat inflasi rata-rata pada tahun keempat pemerintahan yang seharusnya lebih tinggi daripada tahun pertama tidak sepenuhnya didukung oleh data.
Cukup realistiskah peluang Bush meluncurkan kebijakan populis di tahun terakhir pemerintahannya? Bila jawabannya positif, apa dampaknya pada ekonomi 2008?
Ekonomi AS terancam melambat, meski masih jauh dari resesi. Krisis kredit subprime dikuatirkan telah menyeret sektor ekonomi lain. Indeks manufaktur ISM kini turun di bawah 50. Pasar saham AS mengalami tekanan jual. Angka pengangguran Desember melonjak ke 5% dari 4,7% bulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menopang ekonomi terancam melemah. Data-data terakhir mengindikasikan ekonomi AS di tahun 2008 tumbuh sekitar 2%, terendah dalam lima tahun terakhir.
Tekanan inflasi sebaliknya merangkak naik. Inflasi inti PCE, rujukan inflasi terpenting bagi Federal Reserve, terakhir tercatat 2,2% per tahun, di atas rentang toleransi Federal Reserve sebesar 1-2%. Tingginya harga minyak dan penurunan suku bunga kebijakan fedfund beberapa waktu lalu telah mendorong kenaikan ekspektasi inflasi ke depan.
Di tengah kondisi ekonomi tersebut, tidak heran bila isu ekonomi menurut hasil jajak pendapat Associated Press-Ipsos terakhir telah dianggap sama pentingnya dengan perang Irak di mata masyarakat pemilih. Dengan ketidak-pastian seputar kesempatan kerja, perumahan, pasar saham, harga BBM berlanjut, masalah ekonomi diyakini akan menjadi isu paling dominan dalam pemilihan presiden AS.
Desakan bagi Bush untuk meluncurkan paket stimulus ekonomi terdengar di sana-sini. Presiden Bush sendiri awal tahun ini mengakui bahwa ekonomi AS memasuki masa yang sulit. Bush diperkirakan akan mengumumkan paket kebijakan untuk mencegah resesi pada kesempatan penyampaian State of Union pada 28 Januari mendatang. Menyimak pola kebijakan Bush terdahulu, paket kebijakan tersebut kemungkinan besar berupa pemotongan bea pajak secara menyeluruh.
Paket kebijakan ekonomi dimaksud dan paket bantuan bagi sebagian nasabah kredit subprime yang telah diluncurkan Bush akhir tahun lalu diharapkan dapat menahan perlambatan ekonomi AS di tahun 2008. Ekonomi AS diharapkan mendapat stimulus tambahan apabila Federal Reserve memotong suku bunga kebijakan sebesar 50 bps pada pertemuan akhir bulan ini seperti diperkirakan banyak kalangan. Namun, tidak ada makan siang gratis. Semua langkah tersebut berisiko makin meningkatkan tekanan inflasi AS ke depan.
Platform Ekonomi Kandidat Presiden
Siapapun pemenang pemilihan presiden 2008 akan mewarisi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan. Defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan masih membebani. Ekonomi melambat dan tekanan inflasi relatif tinggi. Krisis kredit subprime dan tingginya harga minyak dunia kemungkinan juga belum akan berakhir.
Selain isu perang Irak dan pemanasan global, kandidat-kandidat presiden dari Partai Demokrat kini cenderung mengedepankan tema ekonomi. Mereka setuju paket stimulus ekonomi, dengan memotong pajak khususnya untuk kelompok pekerja dan menengah. Mereka juga menginginkan pelayanan kesehatan untuk setiap orang. Keseimbangan anggaran ditempuh dengan menaikkan pajak untuk kelompok kaya.
Dua kandidat favorit Partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton, menempati titik yang hampir sama dalam spektrum ideologi dibandingkan dengan kandidat presiden lainnya dari Partai Demokrat dan Partai Republik. Mereka berada di sebelah kanan John Edwards, kandidat ketiga Partai Demokrat yang masih bertarung dalam pemilihan pendahuluan, yang menginginkan peran aktif pemerintah. Mereka sebaliknya berada di sebelah kiri dari semua kandidat Partai Republik.
Meski demikian, Obama dan Clinton berbeda tentang bagaimana pemerintah bekerja. Pola kebijakan ekonomi Hillary Clinton diyakini merupakan warisan Bill Clinton suaminya. Pola itu didasari kombinasi antara peran aktif pemerintah dan agen ekonomi yang rasional. Pada prakteknya pola diwarnai oleh kebijakan-kebijakan yang terfokus untuk mendorong perilaku ekonomi tertentu, seperti keringanan pajak untuk biaya kuliah, pelayanan kesehatan, dan tabungan pensiun.
Obama menganut pandangan yang lebih realistis dan meragukan rasionalitas sempurna dari agen ekonomi. Menurutnya, kebijakan yang sederhana dan mudah dipahami adalah lebih efektif. Obama misalnya mengusulkan keringanan pajak USD1.000 bagi semua keluarga yang berada dalam kelompok pendapatan 90% terbawah.
Kandidat-kandidat Partai Republik umumnya masih membawa tema-tema ekonomi konservatif, seperti pajak rendah, disiplin fiskal, dan deregulasi peraturan. Namun berbeda dengan pemerintahan Bush yang gemuk, mereka ingin kembali memiliki pemerintahan yang ramping dan memangkas belanja pemerintah secara besar-besaran.
Dalam isu perdagangan luar negeri, hampir semua kandidat presiden mengambil sikap yang cenderung sama, yakni lebih proteksionis. Obama sejak awal menyuarakan tentangannya terhadap kebijakan pro-liberalisasi perdagangan Presiden Bush. Kebijakan tersebut dianggap hanya merugikan kepentingan pekerja AS dan menguntungkan China.
Hillary Clinton, yang suaminya menggolkan perjanjian perdagangan NAFTA, juga cenderung menghindar isu yang tidak populer bagi kalangan pekerja ini. Terlebih defisit perdagangan AS dengan China kini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sikap yang sama ditempuh kandidat-kandidat Partai Republik yang secara tradisionil sebenarnya mendukung perdagangan bebas dunia.
Penutup
Arti ekonomi pemilihan presiden AS layak dicermati. Di tengah ancaman perlambatan ekonomi, kebijakan ekonomi pro-pertumbuhan diperkirakan ditempuh oleh Presiden Bush dan penggantinya. Harga yang harus dibayar adalah tekanan inflasi yang tetap tinggi ke depan. Defisit fiskal diperkirakan akan berkurang sehubungan dengan langkah-langkah disiplin anggaran. Defisit transaksi berjalan diyakini akan turun signifikan sebagai dampak lemahnya dollar Amerika dan dominannya semangat proteksionisme dalam kebijakan perdagangan luar negeri AS ke depan.
08 Mei 2008
Langganan:
Komentar (Atom)