Judul : The Business of Investment Banking: A comprehensive Overview.
Editor : K. Thomas Liaw
Penerbit : John Wiley & Sons, Inc
Halaman : XII + 440, (2006)
Oleh : Heri Ispriyahadi
Kemajuan teknologi informasi yang pesat dan kerjasama yang semakin erat antar negara di bidang keuangan membuat hubungan pasar modal internasional semakin terintegrasi. Aliran dana dalam jumlah besar melintasi batas negara dan semakin banyak negara yang mengakses pasar keuangan internasional. Keterlibatan investment banking dalam pasar global tidak hanya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada kliennya, namun juga akan meningkatkan pendapatan mereka. Untuk mencapai target ini investment banking harus selalu bergerak dinamis mengikuti perubahan yang terjadi. Cakupan bisnis menjadi beragam dan persaingan semakin ketat tidak hanya melibatkan pelaku bisnis domestik namun juga asing. Selain itu penggunaan mata uang tunggal di kawasan Uni Eropa, masuknya China ke WTO, deregulasi keuangan di sejumlah negara besar juga ikut merombak peta bisnis invesment banking.
Berbagai kemudahan yang diberikan sejumlah negara dengan melakukan deregulasi di bidang keuangan telah membuat peningkatan eskalasi bisnis investment banking. Di Amerika Serikat, peraturan baru di bidang keuangan mengijinkan perbankan, perusahaan asuransi dan sekuritas melakukan afiliasi dalam bentuk holding company. Diberlakukannya peraturan ini membuat holding company menjelma menjadi raksasa di bidang keuangan karena dapat melayani hampir semua layanan baik kredit maupun produk-produk yang ditawarkan investment bank. Hal ini jelas menambah tekanan bagi Investment banks yang tidak ikut dalam holding company.
Namun di sisi lain skandal keuangan Enron dan WorldCom, membuat para pembuat kebijakan dan shareholders lebih meningkatkan kewaspadaan pada masalah transparasi, akuntabilitas dan corporate governance. Dikeluarkan the Sarbanes-Oxley Act of 2002 adalah sebagai respon untuk menjamin akuntabilitas korporasi dan mengembalikan kepercayaan publik. Dibawah Undang-Undang ini, the Public Company Accounting Oversight Boards (PCAOB) diberi wewenang untuk menerapkan sanksi disiplin pada perusahaan-perusahaan go public yang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku. Selain itu untuk menjamin transparansi, semua transaksi koreksi (adjusment) dan rekening administrasi (off-balance sheet) harus diungkapkan ke publik.
Bisnis Yang Dinamis
Invesment banking merupakan bisnis yang sangat cair dan dinamis. Untuk melakukan bisnis ini harus selalu melihat peluang dan mengantisipasi tren pasar dengan sumber daya yang ada untuk menghasilkan keputusan terbaik. Oleh karena itu kinerja investment banking harus memberikan keputusan yang cerdas bagi kliennya. Beberapa hal penting yang berkembang saat ini. Pertama, regulatory complience dan high standard governance telah menjadi bagian dari bisnis. Kedua, Eropa dan Asia telah mengalami perkembangan yang pesat. Terakhir, banyak perusahaan menerapkan strategi diversifikasi produk untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang berkesinambungan.
Pada awalnya bisnis Investment bank adalah memberikan jasa bagi kalangan perusahaan, investor maupun pemerintah yang akan melakukan merger, akuisisi, divestiture, menerbitkan saham atau obligasi. Namun dalam perkembangannya cakupan bisnis semakin luas merambah bisnis trading sekuritas, sekuritisasi, rekayasa keuangan, merchant banking, manajemen investasi dan jasa sekuritas.
Pendapatan yang diterima dari bisnis invetsment banking berupa underwriting spread, fee, komisi, dan keuntungan dari principal transactions. Selain menggunakan modal dari investor, investment bank juga menggunakan dana sendiri untuk menjalankan bisnisnya, seperti proprietory trading. Bahkan sejumlah investment banks seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sach dan Citigroup juga menyediakan dana kepada kliennya dengan melakukan pembelian sekuritas.
Full Services versus Boutique
Dalam menjalankan roda bisnis, kalangan investment bank dapat memilih satu dari dua bentuk jenis usaha yaitu full service atau boutique. Full service memberikan pelayanan yang komplit dari underwriting, trading, Merger’s and Acquisitions (M&A), merchant banking, jasa sekuritas, manajemen investasi sampai riset. Goldman Sach, Morgan Stanley dan Merril lynch yang merupakan kelompok Investment bank dan Citigroup, HSBC, Credit Suisse, JP Morgan Chase dari kelompok holding company termasuk perusahaan yang menjalankan usaha full service. Sementara Boutique khusus melayani segment market tertentu (niche market). Contoh perusahaan-perusahaan dari kelompok ini adalah Sandlers O’neill yang mengkhususkan diri pada financial institutions, Greenhill fokus pada M&A, resrukturisasi keuangan dan merchant banking, dan Lazard spesialisasi pada financial advisory dan asset management.
Dalam berbisnis, Investment bank tentu dihadapkan pada sejumlah resiko seperti market risk, credit risk, operating risk, reputation risk, legal risk dan funding risk. Untuk menghadapi resiko tersebut manajemen investment banks perlu memilih dan menerapkan strategi yang tepat dan efektif sehingga resiko dapat diminimalisir. Sukses dalam mengelola resiko yang diikuti dengan perluasan cakupan bisnis usaha akan membantu investment bank mencapai tujuan pertumbuhan yang berkelanjutan (sustain).
Asia, China dan Emerging Market Makin Terbuka
Untuk mendongkrak perkembangan pasar modal, negara-negara di Asia dan emerging market lainnya menjadi lebih akomodatif. China membuka pasarnya bagi investment bank asing agar ikut berkiprah menjalankan bisnis di negara tersebut sepanjang telah melakukan merger dengan perusahaan China. Bergabungnya China dengan WTO pada tahun 2001 dengan rekor pertumbuhan ekonominya yang fantastis akhir-akhir ini menjadi magnet kuat bagi kalangan investment banks global. Goldman Sach, Morgan Stanley dan Citigroup bersaing memperebutkan pasar yang potensial di China.
Perkembangan pasar modal di negara-negara Asia lainnya maupun emerging market juga berkembang pesat. Selain perbankan, pasar modal menjadi alternatif penting bagi perusahaan-perusahaan untuk mencari sumber dana. Bagi kalangan investor, pasar modal menjadi lahan yang menarik untuk berinvestasi. Untuk menarik minat investor-investor asing menjadikan pasar modal Asia menjadi outlet berinvestasi maka negara-negara Asia dan emerging market memperlonggar peraturan yang berlaku. Kondisi ini ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menguat, mengundang kehadiran holding company maupun investment banks global meramaikan aktivitas pasar modal di negara-negara tersebut.
Rujukan Bagi Banyak Kalangan
Buku ini ditulis Dr Liaw dengan semangat memperluas cakupan materi sekaligus melakukan revisi atas buku edisi pertama. Sebagai buku yang banyak dirujuk kalangan profesional dan akademisi yang menggeluti bidang keuangan, materi yang disajikan cukup komprehensif. Untuk memberikan pemahaman yang lengkap kepada pembaca, setiap produk investment banking dibahas dalam setiap bab tersendiri yang dilengkapi dengan data dan informasi dari hasil survey maupun riset oleh lembaga-lembaga peneliti yang kredibel. Selain itu penulis juga menyajikan perkembangan usaha dari raksasa bisnis invesment bank maupun holding company seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sach dan Citigroup dalam buku ini.
Sajian tentang Pasar sekuritas di China dan negara-negara emerging market lainnya merupakan daya tarik tersendiri buku ini. China yang dulu dikenal dengan tirai bambunya sekarang sudah berubah wajah menjadi negara yang terbuka sejak bergabung dengan WTO pada tahun 2001. Perkembangan pasar modal di China dan emerging market diulas dengan gamblang dalam buku ini. Sebagai presiden Chinese American Academic dan penulis buku China’s and banking secutires market, maka bukan hal yang sulit bagi Dr. Liaw untuk mengupas habis peluang dan tantangan bagi investment bank berbisnis di pasar modal China.
Selain memberikan pembekalan pengetahuan yang mendalam mengenai bisnis investment banking, para pembaca buku ini yang ingin berkarir dalam bisnis investment banking dapat memperoleh informasi tersebut pada bab 4. Demikian pula bagaimana proses kliring dan penyelesaian transaksi (clearing and settlement) juga diulas pada bab tersendiri. Pada akhir penulisan, buku ini ditutup dengan bab yang memprediksi potensi perkembangan investment banking di masa mendatang. Secara keseluruhan buku ini cukup tebal karena memuat 20 bab yang masing-masing bab nya dijelaskan secara detail. Namun demikian kemampuan penulis mengolah materi buku dengan kemasaan bahasa yang tidak terlalu ilmiah dan alur bahasan yang runtut membuat buku ini menarik untuk dibaca sampai tuntas.
Setelah membaca dan mengerti isi buku ini, maka para pembaca dapat mengikuti perkembangan topik yang masih hangat saat ini yaitu anjlognya subprime mortgage bond market di Amerika Serikat. Subprime mortgage bond merupakan salah bentuk sekuritisasi dari kredit perumahan. Dalam buku ini bahasan mengenai sekuritisasi aset baik dalam bentuk Mortgage Back Securities (MBS) maupun Asset Back Securities (ABS) dikupas secara gamblang pada bab 9. Seperti diketahui bahwa kegagalan bisnis subprime mortgage bond ini telah menimbulkan sentimen negatif dan menjadi virus yang mempunyai efek tular luar biasa. Pasar modal di berbagai pelosok dunia ikut bergejolak. Kalangan investment banks yang mempunyai eksposur subprime motgage bond mengalami tekanan hebat seperti kerugian yang dialami Goldman Sach dan Bear Stern.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi acuan praktis terutama kalangan profesional di bidang keuangan, pengamat pasar modal, perbankan, bank sentral, investor, pembuat kebijakan maupun pelaku bisnis terkait investment banking. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah investment banking, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan yang dimilikinya
10 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar