03 Maret 2008

SANG ‘PELAYAN RAKYAT’ DARI NEGERI KAUM MULLAH

. Judul Buku : Ahmadinejad David di Tengah Angkara Murka Goliath Dunia
• Penulis: Muhsin Labib, Ibrahim Muharam, Musa Alfian Hamzah
• Penerbit: Jakarta Hikmah (PT. Mizan Publika)
• Cetakan: ke V Februari 2007
• Tebal : 303 halaman

Keberanian Ahmadinejad menentang segala bentuk intimidasi Amerika dan kroninya atas program pengembangan energi nuklir Iran mengejutkan banyak orang di belahan bumi ini. Pamor Ahmadinejad langsung melambung bahkan telah menjelma menjadi simbol perlawanan dunia Islam atas hegemoni barat. Siapa gerangan sosok Ahmadinejad yang tiba-tiba muncul dalam percaturan politik global menarik untuk disimak dalam buku ini.

Napak tilas jejak karir politik Mahmoud Ahmadinejad, akan menemukan lorong-lorong peristiwa yang membuat tercengang banyak orang. Berbekal dana dan pengalaman politik yang minim, dia mampu menjungkalkan kandidat-kandidat lain yang sarat pengalaman dan lebih dijagokan oleh banyak pihak. Semua itu berawal dari kekecewaan rakyat Iran yang sudah mencapai titik nadir akibat sepak terjang para pemimpin. Mereka lebih sibuk berebut kekuasaan dibandingkan memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, kehadiran Ahmadinejad sebagai kandidat presiden bagai setetes embun yang memuaskan dahaga rakyat Iran. Sosok Ahmadinejad dikenal dengan pribadi yang jujur, sederhana, berani dan apa adanya saat menjabat walikota Tehran menjadi mesin penyedot simpati rakyat.

Langkah Berani
Setelah menjadi Presiden, doktor bidang transportasi ini membuat langkah besar dengan melakukan pengayaan nuklir untuk pengembangan energi. Tindakan ini membuat gerah banyak pihak terutama Israel, Amerika dan kroninya yang merasa terancam. Untuk menghentikan program nuklir tersebut, mereka telah melakukan segala bentuk intimidasi dari ancaman sanksi ekonomi bahkan sampai serangan militer. PBB pun telah dilibatkan untuk menambah bobot tekanan ke Iran. Namun Ahmadinejad tidak bergeming karena program nuklir dimaksudkan untuk pengembangan energi bukan untuk tujuan militer. Langkah berani Ahmadinejad ini mengejutkan banyak pihak karena hanya segelintir orang yang berani menentang Amerika, si polisi dunia. Keberanian Ahmadinejad mengangkat pamornya menjadi simbol perlawanan dunia Islam atas hegemoni Barat.
Sebagaimana buku-buku otobiografi lainnya, buku ini mengulas sosok si tokoh dari masa kecil, perjalanan karir politik dan sepak terjangnya sampai sekarang. Namun kekuatan dari buku ini adalah pengalaman para penulisnya yang pernah mengeyam pendidikan di Iran. Informasi yang didapat langsung dari sumbernya dan juga keterlibatan emosional para penulis dalam merasakan denyut nadi politik Iran menjadi warna dan kekhasan buku ini. Penulis mampu menyajikan secara gamblang dan utuh peristiwa-peristiwa politik yang mewarnai Iran sejak jaman Syah Iran sampai saat ini.

Pemimpin Berkarakter
Setelah berakhirnya kejayaan shah Iran yang dikenal korup dan otoriter, kaum politisi tampil di panggung kekuasaan Iran. Namun kenerja para politisi tidak memuaskan di mata ulama Iran (kaum mullah), mendorong mereka untuk mengambil alih kursi kepempinan. Tindakan ini jelas melenceng dari konsep “Felayate Faqih” yang seharusnya mendudukan para mullah sebagai pengawas pemerintah. Konsep ini yang dengan gigih diperjuangkan Ayatullah Khomeini dalam revolusi 1979. Setelah berjalan sekian lama, terpilihnya Ahmadinejad, menjadi presiden Republik Islam Iran pada tahun 2005 mengakhiri kejayaan kaum mullah.
Menjadi pemimpin harus menempatkan sebagai pelayan rakyat bukan sebagai penguasa. Prinsip ini yang nampaknya dipegang erat oleh Ahmadinejad dan bukan hanya manis di ucapan namun diwujudkan dalam tindakan nyata. Sejumlah langkah konkrit telah dilakukan saat menjadi walikota Tehran sebagai wujud nyata mempraktekkan ajaran ini. Dia lebih memilih tinggal di rumahnya yang sederhana dan berada di gang sempit, sementara rumah dinas walikota dijadikan musium publik. Semua gaji yang diperoleh disumbangkan untuk membantu kaum miskin dan mengandalkan gaji sebagai dosen untuk menghidupi keluarganya. Tidak segan-segan Ahmadinejad ikut terjun langsung untuk menjaga kebersihan kota seperti ikut menyapu jalanan yang kotor. Selain itu Ahmadinejad juga dikenal sosok yang berani dengan berbagai tindakannya yang seringkali berbenturan dengan kemapanan yang telah dinikmati oleh sejumlah pihak. Kesemuanya ini menjadikan popularitas Ahmadinejad langsung meroket di mata rakyat.
Sementara itu, pemimpin sebelum Ahmadinejad baik Syah Iran sampai dengan kaum mullah lebih peduli pada bagaimana melanggengkan kekuasaan. Bahkan pada saat Syah Iran memegang tampuk kekuasaan, rakyat sarat penderitaan dan hanya menjadi penonton saat kekayaaan negara dikeruk untuk kepentingan penguasa. Berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaan dilakukan dari membentuk pasukan rahasia dan menempatkan kroni-kroninya menduduki pusat-pusat kekuasaan yang strategis. Namun saat kekecewaan semakin menumpuk berubah menjadi bola salju liar yang meluluh lantakan semuanya. Kekuatan people power yang maha dasyat menghancurkan kekuasaan Syah Iran. Terusir dari negaranya dan harus menjalani akhir hayatnya di pengasingan.
Setelah syah Iran turun tahta, secara bergantian kaum politisi dan para mullah menduduki kursi pimpinan. Namun tampilnya para mullah teryata bukan sebagai dewa penyelamat. Alih-alih mensejahterakan rakyat, kaum mullah juga terjebak pada perebutan kekuasaan. Kesejahteraan rakyat semakin menjauh. Terpilihnya Ahmadinejad pada awalnya sebagai bentuk wujud protes rakyat atas kinerja para mullah dan politisi. Namun dengan pola kepemimpinan yang lebih mementingkan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi membuat Ahmadinejad semakin dicintai rakyat Iran. Nyalinya yang besar saat melakukan perlawanan atas segala tekanan Amerika dan kroninya untuk membatalkan program nuklir membuat populer di mata rakyatnya. Popularitasnya tidak hanya di kalangan domestik, namun sudah melewati lintas batas negara. Bahkan dunia Islam menampilkan Ahamdinejad sebagai simbol perlawanan akan kesewenang-wenangan dan ketidak adilan yang dilakukan negara-negara barat.

Pelajaran Berharga Para Pemimpin
Di penghujung buku diselipkan dua suguhan yang menarik. Pertama, surat dari Ahmadinejad kepada George W Bush dan rakyat Amerika Serikat. Kedua, hasil wawancara Ahmadinejad dengan harian Der Spiegel Jerman. Banyak hal yang mengemuka dalam surat tersebut antara lain invasi Amerika ke Irak, tahanan-tahanan di Guantanamo, masalah Israel-Palestina, nuklir Iran dan lain-lain. Dengan kecerdasannya semua permasalahan tersebut disampaikan dengan bahasa dan alur pemikiran yang jelas diserta argumentasi yang kuat sehingga sulit bagi Bush untuk menyangkalnya. Demikian pula hasil wawancara menunjukkan bahwa Ahmadinejad merupakan figur yang cerdas, terbuka, jujur dan berani.

Disampaikan dengan bahasa popular yang mudah dimengerti, sistimatika penulisan yang tertata rapi dan dilengkapi dengan indeks, tidak heran buku biografi ini menjadi best seller, bahkan sudah mengalami pencetakan yang ke V sejak diterbitkan pertama kalinya pada tanggal 1 Agustus 2006. Bagi pembaca yang haus akan informasi tentang Ahmadinejad, sang ikon perlawanan atas ketidakadilan global, buku ini dapat menuntaskan dahaga tersebut. Demikian pula bagi pemimpin negeri ini, buku ini setidaknya dapat menjadi rujukan dan pelajaran yang berharga untuk menjadi pemimpin dicintai rakyat dengan lebih memposisikan sebagai pelayan rakyat bukan sebagai penguasa.

(Heri Ispriyahadi, Penikmat Buku Tinggal di Jakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar