Oleh: Heri Ispriyahadi
Seorang tokoh filsuf yang hidup 500 tahun sebelum Masehi, Heraclites mengatakan bahwa segala sesuatu dapat berubah kecuali hukum perubahan. Diibaratkan batu yang dijatuhkan ke sungai tidak akan mengalami kondisi yang sama. Aliran sungai yang mengalir deras membuat partikel-partikel yang ada di sungai setiap detik selalu berubah. Demikian pula dengan kehidupan manusia, hidup ini mengalir seperti aliran sungai tersebut yang selalu diwarnai dengan berbagai perubahan. Perubahan politik, sosial dan teknologi telah mengubah tatanan pola hidup kita.
Salah satu sorotan di dunia modern saat ini adalah kemajuan teknologi. Teknologi yang berkembang pesat membuat organisasi dan individu-individu yang ada didalamnya harus selalu bergerak dinamis. Gelombang kemajuan teknologi harus disikapi dengan perubahan dalam bentuk organisasi dan peningkatan kapabilitas para pegawainya.
Kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi membuat dunia semakin terintegrasi sehingga batas negara semakin kabur. Tidak hanya aliran modal yang begitu mudahnya masuk dan keluar suatu negara, pekerjaanpun juga dapat ditransfer ke negara lain. Kesemuanya itu diselesaikan melalui alat-alat canggih yang dikenal dengan nama “internet”. Melalui media serat-serat optik dan bantuan satelit pekerjaan lintas negara dapat dengan mudah diselesaikan. Negara yang sadar akan pentingnya Informasi teknologi seperti India telah memetik banyak keuntungan dari bisnis ini. Bahkan bisnis IT telah memberikan sumbangan signifikan bagi ekspor India. Kemajuan tekonologi informasi terbukti mampu membuka ruang kesempatan bagi pihak-pihak yang jeli memanfaatkan ini. Kondisi ini telah mendorong Thomas L Friedman mengibatkan the world is flat sebagai wujud dari globalisasi tingkat 3 yang mengibaratkan setiap pihak pada playing field yang sama dengan kecenderungan dunia yang semakin menyatu.
Teknologi informasi tidak hanya menyebabkan pekerjaan menjadi efisien dan cepat, namun juga menuntut peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dari pelaku bisnis maupun dunia kerja. Mereka dituntut untuk selalu tanggap dengan kemajuan teknologi tersebut. ”Gaptek” (gagap teknologi) yang menggambarkan ketidaksiapan kita menghadapi gelombang kemajuan teknologi harus dibuang jauh kalau tidak mau terlindas dengan mesin perubahan itu.
Perubahan menjadi suatu keniscayaan yang tidak terbantahkan. Demikian pula dalam dunia kerja harus selalu berkembang dinamis. Tuntutan perubahan tidak hanya organisasinya, namun juga karyawannya. Pilihan statis sangat tidak dianjurkan karena dapat dengan mudah terlibas dalam era persaingan yang semakin ketat. Mau tidak mau kita harus mengupdate diri kita sebagi pribadi yang dinamis yang dapat menyesuaikan dengan segala perubahan yang terjadi.
Dunia kerja saat ini selalu bergerak dinamis seiiring dengan pengaruh lingkungan eskternal dan intenal. Struktur organisasi telah berungkali dirubah untuk merespon perubahan teknologi. Tidak hanya itu, sarana dan prasarana dalam bekerja juga terus mengalami perubahan. Mesin ketik sudah lama ditinggalkan digantikan dengan personal computer yang terpasang hampir di setiap meja karyawan. Selain itu internet yang menjadi jendela bagi pegawai untuk meng update informasi terbaru telah menjadi menu pokok sehari-hari pegawai. Kemajuan teknologi ini menuntut pegawai untuk juga meningkatkan kapabilitasnya untuk menjawab setiap tantangan yang terjadi. Kesemuanya itu dilakukan untuk mencapai efisiensi dalam mencapai tujuan yang telah dicanangkan.
Disadari bahwa merubah struktur organisasi jauh lebih mudah dibandingkan dengan menginginkan perubahan kepada pegawai. Setiap perubahan yang diusung akan dilihat sebagai ancaman bagi para pegawai yang sudah nyaman dengan kondisi yang mereka jalani selama ini. Misalnya kehadiran Personal Computer sebagai alat yang menggantikan mesin tik dalam bekerja akan mendapat tentangan yang sangat keras bagi pegawai yang selama ini belum pernah menggunakan komputer. Terlebih bagi mereka yang sudah mahir menggunakan mesin tik, mereka harus belajar lagi dan ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Tidak hanya perangkat keras, hampir semua program kerja memanfaatkan jasa kemajuan era digital.
hampir semua pegawai dari tataran terendah sampai tertinggi bekerja dengan dalam bekerja bersinggungan sudah tidak asing lagi dengan dunia maya seperti internet, sudah seharusnya kita juga wajib untuk selalu mengupdate diri baik pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki. Terlebih ke depan persaingan tidak hanya melibatkan kalangan domestik, namun juga pihak luar luar negeri apabila AEC telah diimplementasikan.
Bagaimana bentuk penyesuaian yang kita lakukan itu yang perlu dipikirkan karena pemilihan strategi efektif akan menuai hasil yang optimal. Tentu, banyak hal yang harus kita persiapkan. Tidak hanya lembaga saja yang berubah, para pegawai juga dituntut untuk selalu dinamis dan mengikuti perubahan yang terjadi. Namun untuk melakukan perubahan pada pegawai bukanlah pekerjaan seperti membalik telapak tangan. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang efektif. Hal ini terkait dengan sifat manusia yang pada dasarnya tidak suku perubahan. Setiap ada perubahan biasanya di respon negatif kalau hanya disertai sepotong informasi yang meyertai perubahan tersebut.
Terlebih kalau pegawai itu merasa sudah nyaman dengan pekerjaan yang mereka lakukan saat ini. Misalnya di era digital saat ini, penggunaan internet dan program-program yang canggih telah mewarnai dunia kerja. Para pekerja yang selama ini tidak bersentuhan dengan dengan hal tersebut jelas merasa teknologi ini akan mengancam keberadaannya. Kemungkinan respon yang terjadi adalah penolakan terhadap keberadaan alat-alat canggih. Kendala ini harus selalu diantisipasi setiap akan melakukan perubahan agar penolakan yang terjadi dapat diminimalisir.
Berdasarkan paparan diatas, nampak bahwa manajemen perubahan mutlak harus dipelajari bagi pihak-pihak yang menghendaki adanya perubahan dalam suatu organisasi. Penguasaan pengetahuan ini membuat langkah perubahan yang diusulkan dapat tercapai dengan baik. Keberhasilan perubahan hanya bisa terjadi kalau disepakati oleh kedua belah pihak yaitu pihak yang membawa perubahan dan pihak yang menerima perubahan.
Perubahan tidak hanya terkait dengan produk namun juga proses kerja. Berkaitan dengan hal tersebut berikut beberapa tips yang manajemen perubahan yang bisa dilakukan:
a. Bagi pihak-pihak yang membawa perubahan
Komunikasi yang transparan tentang perubahan yang diusung haruslah menjadi prasyarat mutlak dalam melakukan perubahan organisasi. Untuk itu pihak-pihak yang bertanggung jawab membawa misi perubahan dapat secara jelas dan transparan menyampaikan kepada semua pihak yang terkena dampak perubahan semua hal terkait dengan perubahan tersebut. Sosialisasi perubahan sebaiknya sampai menyentuh pada harapan dan masa depan pegawai sehingga dapat mereduksi penolakan pegawai yang curiga masa depannya menjadi tidak jelas dengan adanya perubahan tersebut.
b. Pihak-pihak yang menerima perubahan
Bagi pihak-pihak yang terkena perubahan harus menyikapi dengan bijak untuk melihat secara jernih alasan-alasan kenapa perubahan harus dilakukan. Untuk itu sebaiknya proaktif mencari informasi yang sejelas-jelasnya mengenai perubahan yang terjadi di organisasi. Kalau misi perubahan membawa ke arah organisasi ke depan lebih baik tentu kita harus dukung. Caranya kita harus secara mental harus selalu siap untuk menghadapi setiap perubahan dan meningkatkan profesionalisme dalam bekerja. Harus disadari bahwa organisasi yang sukses adalah organisasi yang dipenuhi oleh karyawan-karayawan yang berjiwa kreatif dan inovatif. Terkait dengan kemajuan teknologi yang mau tidak mau akan membawa perubahan kita dalam cara bekerja menuntut kita untuk selalu dinamis dalam bekerja.
Tentu kita tidak bisa menggantungkan bahwa ”one fit for all”, satu cara yang dipilih dalam menyelesaikan semua masalah. Harus ada penyesuaian pada setiap kasus tergantung pada jenis permasalahan dan situasi yang dihadapi. Namun kalau semua itu bisa dialaksanakan dengan baik, kita akan menyongsong masa depan lebih baik.