--------------------------------------------------------------------------------
Rabu, 10 Januari 2007
O P I N I No. 5497
Oleh
Heri Ispriyahadi
Indonesia kini kehilangan daya saing, antara lain karena organisasi-organisasi industrinya lamban beradaptasi dalam persaingan global. Dalam laporan dari IFC dan Bank Dunia mengenai Doing Business 200, dalam hal kemudahan berusaha posisi Indonesia melorot dari ranking 131 menjadi 135, dari 175 negara, jauh dibandingkan Singapura (1), Thailand (18), dan Malaysia (25). Ini karena ketiganya dengan sadar membangun intellectual capital yang andal sebagai faktor utama dalam penerapan Knowledge Management (KM) dalam organisasi industri mereka.
Harus disadari sumber daya manusia (SDM) merupakan aset terpenting dalam mencapai tujuan organisasi. Kecanggihan teknologi, dukungan sumber dana yang sangat besar dan potensi sumber alam yang melimpah menjadi tak berarti kalau individu-individunya kurang kreatif dan apatis dalam bekerja. SDM merupakan faktor kunci untuk mempertahankan dan memelihara tingkat kompetisi. Sudah selayaknya, organisasi menyediakan sarana dan prasarana bagi para pekerja untuk meng-update pengetahuan dan kapabilitas mereka yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi kemajuan organisasi.
Membangun Individu Inovatif
Prasyarat utama untuk menumbuhkan budaya inovasi di dalam organisasi adalah terbentuknya Knowledge Management System (KMS) yang mampu memfasilitasi karyawan mengembangkan kreatifitasnya. Dengan demikian terdapat dua hal yang menjadi prioritas, yaitu pertama, organisasi perlu merancang sistem yang mampu menyediakan segala bentuk pengetahuan baik tacit maupun explicit knowledge yang berasal dari sumber internal maupun eksternal organisasi.
Kedua, membangun individu-individu menjadi inovatif dalam bekerja sehingga mampu melahirkan keunggulan kompetitif. Terbangunnya KMS yang dapat menangkap dan mentransfer internal knowledge dan best practice, akan sangat membantu individu-individu dalam organisasi untuk berproses kreatif dan inovatif.
Masalahnya, bagaimana membangun budaya inovatif menjadi suatu kebutuhan dalam organisasi? Dalam penelitian oleh Marsha Sinetar, dari MIT, mengenai staf ”kreatif” pada akhir tahun 1980 disimpulkan individu inovatif berkembang di tiga wilayah penting a. kebebasan dalam wilayah kerja dan cara menyelesaikan pekerjaan; b. kebebasan melahirkan persoalan-persoalan baru atau menantang; c. kebebasan mengembangkan solusi yang tak biasa atas hal-hal yang mereka kerjakan.
Para individu inovatif bisa muncul di mana saja. Sebagai contoh pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan persaingan di antara para karyawannya, seperti Hewlett Packard, Toyota, dan galangan kapal Kvaener ditemukan bahwa banyak ide datang dari orang-orang front-line (di garis depan), yaitu para manajer atau para pekerja bagian perakitan yang sama sekali tidak memiliki kecenderungan-kcenderungan untuk kreatif, namun bisa menemukan berbagai solusi yang tidak bisa ditemukan oleh staf R&D.
Sembilan Langkah
Terdapat 9 langkah yang dapat dipertimbangkan untuk mengembangkan agar individu-individu menjadi inovatif.
Pertama, fokuskan terlebih dahulu pada individu, sehingga mereka antusias, berkomitmen, santai, dan merasa terlibat secara intelektual sehingga ada peluang mereka mau berbagi ilmu dengan kolega mereka. Harus diyakinkan inovasi bukan monopoli bagian R&D.
Kedua, ciptakan lingkungan kerja yang mampu menfasilitasi berkembangnya ide-ide dengan cepat. Misal, British Airways dan BMW menerapkan strategi kepemilikan ruang kerja yang menjamin dilakukannya sebuah pertemuan penuh ide buat para kolega, yaitu orang-orang dari departemen lain, para tamu, dan para manajer senior untuk secara alami berkumpul.
Ketiga, berikan ”ruang” bagi individu untuk memilih medan kreativitas mereka sendiri, yakni dimana dan kapan mereka bekerja dengan tetap fokus pada tujuan dan target bersama.
Keempat, biarkan individu-individu membangun koneksi-koneksi mereka dengan tepat baik eksternal dan internal. Contoh sumber eksternal misalnya wawasan diperoleh dari jaringan profesional, rapat-rapat, sekolah bisnis, aktivitas-aktivitas waktu senggang dan lain-lain.
Kelima, berikan penghargaan atau pengakuan atas ide-ide yang sukses, berupa reward dan award sebagai apresiasi atas karya mereka yang merupakan motivator kunci. Misalnya, digelar konferensi pers yang memberikan kesempatan individu sebagai pusat perhatian pada saat peluncuran produk hasil kreativitasnya.
Keenam, biarkan individu bekerja sesuai dengan naluri mereka sendiri. Orang yang kreatif umumnya punya cara yang berbeda dalam menyelesaikan pekerjaan, jadi perlu fleksibilitas selama tidak keluar dari koridor tujuan yang ditetapkan perusahaan.
Ketujuh, sediakan tantangan dan tujuan yang tepat. Pemimpin didalam organisasi sebaiknya bersifat adaptif yaitu mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi organisasi dan membingkai persoalan-persoalan kunci, dan jawaban-jawabannya, serta membiarkan karyawan menemukan solusi-solusinya.
Kedelapan, manfaatkan kemudahan yang diberikan teknologi baru, misalnya internet dan intranet, sehingga pekerja bisa berselancar mencari pengetahuan baru dan ide-ide kreatif. Selain itu, komunikasi melalui internet kadang lebih efektif dibandingkan tatap muka.
Kesembilan, namun tetap ingat bahwa perubahan dalam skala ini bisa membahayakan. Dalam praktik harus disadari bahwa apa yang menjadi kebebasan bagi satu orang mungkin berarti ancaman bagi orang lain. Oleh karena itu, pimpinan organisasi harus mengkomunikasi dengan baik latar belakang, manfaat dan tujuan dari perubahan yang dilakukan perusahaan dikaitkan dengan masa depan para karyawannya.
Dengan mengimplementasikan sembilan langkah itu, diharapkan orgasnisasi-organisasi industri mampu mendorong lahirnya produk atau proses baru, demi mengangkat daya saing Indonesia. Pembenahan KMS dan pemberdayaan individu-individu untuk menjadi inovatif dapat dilakukan secara simultan sehingga pada saat telah terbentuk KMS, individu-individu inovatif siap untuk menerapkan ide-ide cemerlangnya untuk keuntungan organisasi. Disadari bahwa meski untuk melaksanakan kedua kegiatan tersebut butuh usaha keras, biaya yang tidak sedikit dan dukungan dari semua pihak, namun mutlak dilaksanakan.
Tulisan ini telah diringkas, merupakan satu dari lima pemenang lomba karya tulis Manajemen Perubahan yang diselenggarakan Unit Khusus Manajemen Informasi, Bank Indonesia, November 2006 lalu, diikuti 98 peserta. Penulis adalah Analis Ekonomi di Ban.
Copyright © Sinar Harapan 2003
27 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar