Start the day with smile dan have a good day. Don’t forget to pray before you start your day (Stephen Covey).
Oleh: Heri Ispriyahadi
Dalam kehidupan sehari-hari kata stress rasanya sangat akrab ditelinga kita. Bahkan tidak sedikit orang yang pernah merasakan stress walau kadang sebagian dari mereka tidak menyadari karena kadarnya yang masih ringan. Berbagai persoalan dapat menjadi pemicu stress antara lain kesulitan ekonomi, pekerjaan yang menumpuk, kegagalan dalam berkarir dan rumah tangga yang tidak harmonis. Kalau dicari sumbernya pemicu stress bisa berasal dari dalam diri kita sendiri maupun dari eksternal. Dari internal terkait dengan kepribadian, kebutuhan, nilai, tujuan,umur dan kondisi kesehatan kita. Sementara dari sisi eksternal, bersumber pada lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja maupun berbagai sumber lain.
Kesimpulan umum yang diyakini banyak orang stress berkonotasi negatif karena bisa menyebabkan kontra produktif. Stress sebenarnya dapat membantu ingatan, terutama pada ingatan jangka pendek dan tidak terlalu kompleks. Stress dapat menyebabkan peningkatan glukosa yang menuju otak, yang memberikan energi lebih pada neuron. Hal ini menjadi pendorong untuk meningkatkan pembentukan dan pengembalian ingatan. Di sisi lain, jika stress terjadi secara terus-menerus, dapat menghambat pengiriman glukosa dan mengganggu ingatan.
Komponen stress
Stress diartikan pengalaman yang bersifat internal yang menciptakan adanya ketidak seimbangan pisik dan psikis dalam diri seseorang sebagai akibat dari faktor lingkungan eksternal, organisasi atau orang lain (Szilagy, 1990). Dari pengertian tersebut ada tiga komponen penting dari stress yaitu komponen stimulus, komponen respon dan komponen intereaksi. Pertama komponen stimulus adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab adanya ketegangan atau stress. Contoh yang umum terjadi di dalam dunia kerja adalah adanya pekerjaan-pekerjaan yang sangat ketat jadualnya sehingga membuat ketegangan meningkat. Kedua, komponen respon merupakan reaksi fisik dan psikis atau perilaku terhadap stress. Dua hal yang sering terjadi dalam respon ini yaitu frustasi dan gelisah. Terakhir, komponen interaksi yaitu terjadinya interaksi faktor stimulus dan respon.
Dr. Hans Selye membagi respon terhadap stress dalam tiga tingkatan yaitu alarm (alarm), perlawanan (resitance) dan peredaan (exhaustation). Pertama, alarm merupakan peringatan dini atas terjadinya stress yang ditandai dengan reaksi tubuh terhadap adanya tekanan atau stress. Gejala umum yang terjadi adalah otot menegang, tekanan darah meningkat, denyut jantung meningkat dan sebagainya. Tahap kedua, munculnya perlawanan yang ditandai dengan kegelisahan, kelesuan dan lain sebagainya yang menandakan seseorang sedang melakukan perlawanan terhadap stress. Hasil dari perlawanan tersebut dapat berupa kecelakaan, keputusan yang ceroboh dan kondisi badan yang sakit-sakitan. Akhirnya, berujung pada tahap peredaan yang merupakan runtuhnya perlawanan. Pada tahap ini muncul berbagai penyakit seperti darah tinggi, kencing manis, jantung koroner dan sebagainya.
Dalam dunia kerja yang kita jalani selama ini banyak hal yang berpotensi menimbulkan stress. Permasalahan dari pekerjaan yang menumpuk berkejaran dari dead line satu ke dead line yang lain, kegagalan berkali-kali akibat sistim promosi yang tidak transparan, pimpinan yang terlalu otoriter membuat diri kita merasa tidak nyaman dan tertekan dalam bekerja. Kondisi tersebut membuat kita menjadi cemas, gelisah bahkan ujung-ujungnya bisa membuat frustasi. Terlebih kalau kemampuan yang kita miliki masih jauh dari standar pekerjaan yang diharapkan. Hal ini akan terus membebani pikiran kita, rasanya setiap bangun pagi kepala terasa berat dan suasana kantor seolah-olah menjadi ladang penyiksaan. Kalau hal ini dibiarkan tidak hanya merugikan diri kita sendiri yaitu kesehatan terganggu, namun di sisi lain organisasi terkena dampaknya karena produktivitas akan menurun.
Sementara penyebab stress yang berasal dari lingkungan kerja misalnya kondisi kerja yang tidak nyaman seperti lampu yang terlalu terang atau buram, situasi kerja yang ramai, tidak ada mesin penyejuk sehingga terlalu panas, tugas yang tidak jelas, beban kerja yang berat dan lain sebagainya. Selain itu mekanisme kerja dalam organisasi juga bisa menimbulkan stress seperti organisasi yang terlalu kaku (birokratis), jalan karir yang tidak jelas, pimpinan yang terlalu otoriter. Keluarga berkontribusi besar dalam meningkatkan stress seseorang. Keluarga yang tidak harmonis dapat menambah beban stress pegawai.
Bagaimana cara mengatasi stres
Seperti pada penjelasan diawal tulisan ini stress dapat berpengaruh positip dan negatif terhadap prestasi kerja. Pada saat stress rendah atau tidak ada stress, pekerja pada umumnya bekerja pada tingkat prestasi yang dicapainya. Tidak ada dorongan untuk beprestasi lebih dari yang dilakukan selama ini. Studi empiris membuktikan bahwa stress pada tingkat rendah sampai moderat menunjukkan pekerja lebih termotivasi untuk memperbaiki prestasi kerjanya. Stress dalam hal ini menjadi dorongan motivasi untuk bekerja lebih baik. Namun skala stress yang sudah terlalu tinggi bukannya menjadi pendorong tetapi menjadi faktor penghalang untuk berprestasi. Pada tahap ini prestasi kerja secara menurun drastis karena perhatian dan tenaganya lebih tercurah untuk mengatasi stress ketimbang untuk meningkatkan prestasi kerjanya.
Stress yang sudah mengganggu ini yang harus diatasi. Goliszek (2005) menyatakan bahwa usaha untuk memecahkan kebiasaan stress sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik dengan; (1) mempelajari apa itu stress, (2) mengenali gejala stres yang terjadi dalam diri, (3) mengubah pola perilaku dan (4)memanfaatkan serangkaian teknik dan relaksasi dari manajemen stres yang cepat dan sederhana.
Bagi individu stress mempunyai dampak signifikan karena akan mempengaruhi kehidupannya yaitu produktivitas, kesehatan maupun penghasilan. Oleh karena itu penanganan stress mutlak untuk dilakukan. Sementara bagi organisasi stress dapat mempengaruhi kinerja organisasi terkait dengan kemungkinan tidak tercapainya tujuan organisasi. Untuk mengatasi stress ada dua pendekatan yaitu pendekatan individu dan organisasi. Dalam pendekatan individu yang menjadi prioritas adalah upaya-upaya membuat individu itu merasa nyaman, percaya diri dan bugar sehingga bekerja menjadi pekerjaan yang menyenangkan dan tidak membosankan. Namun penanganan individu saja tidak akan berhasil kalau tidak didukung dengan perubahan-perubahan dalam organisasi.
Salah satu alasan kenapa stress tinggi harus dibuang jauh-jauh, kita simak penjelasan menarik dari Stephen Covey, pakar manajemen stress untuk menggambarkan stress dalam bekerja. Dia menerangkan kepada mahasiswanya bagaimana gelas yang beratnya hanya sekitar 200 gr-500 gr bisa menjadi beban yang berbeda-beda tergantung berapa lama dia memegangnya. Apabila kita pegang hanya 1 menit belum bermasalah, selama 1 jam mulai bermasalah karena lengan terasa sakit dan apabila seharian gelas menjadi sangat berat dan bukan tidak mungkin kita harus dirawat di rumah sakit. Dari cerita ini kita bisa menarik kesimpulan jika beban kerja kita bawa terus menerus lambat laun kita tidak mampu membawanya lagi.. Demikian pula dalam bekerja sebaiknya pekerjaan jangan dibawa ke rumah kecuali sangat terpaksa. Apapun beban yang ada di pundak setiap harinya, cobalah ditinggalkan sejenak. Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi Setelah istirahat cukup baru diambil lagi. Tips lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi stress dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Penanggulangan Stress Secara Individual dan Organisasi
Secara individual :
Meningkatkan keimanan
Melakukan meditasi dan pernapasan
Melakukan kegiatan olahraga
Melakukan relaksasi
Dukungan teman-teman dan keluarga
Menghindari kebiasaan rutin yang membosankan
Meningkatkan ketahan tubuh
Istirahat yang cukup dapat meredakan stress
Secara organisasi
Menciptakan suasana kerja yang kondusif
Melakukan perbaikan terhadap lingkungan fisik
Menyediakan sarana olahraga
Melakukan analisa kejelasan tugas dan menempatkan pegawai sesuai dengan kemampuannya (direct man direct job)
Meningkatkan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan
Melakukan restrukturisasi tugas
Menyediakan berbagai program pelatihan dan training untuk meningkatkan kapabilitas pegawai
Sumber: Indriyo Gitosudarmo dkk, 2000, diolah.
Berdasarkan uraian diatas, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mencoba menghindari atau menurunkan kadar stress misalnya dengan melakukan relaksasi, menjalankan hobby yang kita senangi seperti berolahraga dan berkebun. Namun apabila stress sulit untuk dihindari maka sebaiknya melatih untuk mengubah cara pandang kita yaitu dengan lebih mengenali stress, meningkatkan reaksi tubuh kita dan membuat pengaturan diri kita terhadap stress. Selain itu yang terpenting adalah jika kita tidak mampu melawan atau menghindari stress maka cobalah berjalan seiring dengannya dan memanfaatkannya secara produktif.
27 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar