Oleh : Heri Ispriyahadi
Teknologi komunikasi yang melesat bak meteor telah menjadi lahan bisnis menggiurkan bagi pengusaha. Penjualan telepon seluler laris manis seperti layaknya jualan pisang goreng. Harga yang semakin murah dan tersedianya voucher isi ulang sampai pecahan terkecil Rp5000 menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu penjualan HP didukung oleh jaringan distribusi yang sudah menembus sampai ke pelosok-pelosok desa. Tidak heran kelompok ekonomi kelas bawahpun dapat memilikinya. Sudah menjadi pemandangan umum tukang sayur, tukang batu sampai tukang sampah pun diikat pinggangnya terselip HP. Padahal dahulu untuk sekedar memimpikan saja mereka tidak berani karena harganya yang sangat mahal.
Operator-operator telepon seluler berebut pasar Indonesia karena memiliki potensi pasar yang sangat besar. Jumlah penduduknya yang mencapai sekitar 220 juta menjadi daya tarik tersendiri. Kalau mereka berhasil menggarap 30% saja, sudah lebih dari 70 juta orang potensi pasarnya. Jumlah ini tiga kali lipat penduduk Australia. Potensi pasar semakin besar, karena tidak sedikit orang yang memiliki lebih dari 2 HP. Tidak heran saat ini perang tarif semakin gencar dilancarkan para operator seluler untuk berebut ”kue” yang lezat ini. Berbagai jurus iklan pun dilancarkan para operator.
Kemudahan yang ditawarkan dalam berkomunikasi dimanapun berada menjadi promosi yang menarik. Perang tarif pun terus dilakukan antar operator telepon seluler. Masyarakat menjadi terbuai. Bahkan berlembar-lembar ratusan ribu rupiah yang mereka dapatkan dengan susah payah rela dikeruk para operator telepon seluler. Ironisnya para operator telepon seluler secara berjamaah telah berkonspirasi menerapkan tarif SMS yang mencekik leher. Mereka mematok harga tiga kali lipat dari harga yang sebenarnya. Triliunan rupih pun mereka raup dari bisnis ini. Untungnya KPPU mencium aroma konspirasi yang tidak etis ini. Sanksi tegas ditegakkan dengan denda dan mengharuskan penurunan tarif yang wajar.
Bayangan untung besar yang ditangguk dari berbisnis dengan memanfaatkan SMS juga dilirik oleh kalangan televisi. Kita semua menyaksikan berbagai ajang lomba dari Indonesia Idol, Dangdut Mania, AFI, dan lainnya memanfaatkan SMS yang harga nya per SMS jauh lebih mahal dari harga normal. Untuk menarik agar masyarakat membanjiri SMS kepada jago-jagonya mereka diiming-imingi hadiah yang menggiurkan. Walau para penyelenggara ini harus menyediakan berbagai hadiah namun untung yang mereka raih jauh lebih besar. Anggap saja untuk setiap SMS yang dikirim, penyelenggara acara mendapat keuntungan bersih 50%. Dengan tarif Rp1000,- per SMS berarti keuntungan yang diraup Rp.500 kali sekian juta SMS masuk. Bisa kita bayangkan besarnya dana yang mengalir ke pundi-pundi penyelenggara acara. Oleh karena itu tidak heran kalau saat ini TV kita disesaki acara-acara seperti ini.
Tengah malam di saat orang pada terlelap tidur, kalau kita iseng menyetel TV maka kita menemukan acara yang memanfaatkan SMS komersial. Dipandu gadis manis dengan berbalut baju seksi mengajak pemirsa untuk main tebak-tebakan dari tebak nama, wajah atau menyusun kata yang hruf-hurufnya sudah diacak. Sebenarnya Anak SD pun akan mudah menebaknya. Namun yang diincar adalah banjirnya SMS orang-orang yang bernafsu ingin memperoleh hadiah-hadiah yang ditawarkan.
Belum lama berselang Roncar, produk pengaman kendaraan bermotor dari pencurian yang ikut-ikutan berbisnis dengan memanfaatkan SMS ini. Untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan para pemirsa tidak perlu membeli produk tersebut cukup hanya mengirim SMS. Menurut saya, hal ini sangat naif karena dimanapun kalau berdagang yang dijual produknya. Tapi dalam kasus ini, pemirsa cukup hanya mengirim SMS sebanyak-banyaknya mengadu nasib untuk memperoleh hadiah yang ditawarkan. Boleh dibilang produk yang ditawarkan hanya tempelan saja. Yang diincar bajirnya kiriman SMS komersial dari para penonton.
Berbagai bisnis dengan memanfaatkan SMS komersial berbalut acara-acara lomba hanyalah perjudian dalam bentuk lain. Setelah porkas, SDSB maupun lainnya dilarang, maka bentuk seperti inilah yang saat ini lagi marak. Pemirsa tidak sadar dengan mengirim SMS sebanyak-banyaknya pada jagonya masing-masing hanyalah menguntungkan penyelenggara. Demikian pula para peserta, tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk mengirim SMS pada diri mereka. Hal ini dilakukan agar mereka lolos tahap demi tahap dalam ajang lomba tersebut. Ajang lomba ini seolah-olah menjadi dewa penyelamat mereka untuk merubah nasib. Menjadi terkenal itulah impian yang ingin diraih. Namun terbukti sudah hanya segelintir dari mereka yang sampai saat ini mampu bertahan di jalur hiburan saat ini.
Dalam kasus SMS komersial ini hendaknya pemerintah harus mewaspadai akan efek negatif yang ditimbulkan. Harus benar-benar diatur secara ketat. Apa yang dilakukan Roncar harus dilarang karena sudah melenceng dari ranah bisnisnya. Demikian masyarakat pemirsa pun harus jeli. Mereka harus bisa memiliah-milah acara-acara TV yang ditontonnya. Ada acara yang betul-betul menghibur dan tidak sedikit pula yang menguras kantong mereka melalui SMS-SMS yang dikirimkannya.
02 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar