09 Juni 2008

Pintar Itu Berbahaya........

Oleh: heri Ispriyahadi

Di daerah Tebet tempat tinggal saya saat ini telah menjadi kantong bisnis lembaga-lembaga yang mengais rejeki di bidang pendidikan. Bahkan peningkatannya luar biasa. Bertebaran lembaga-lembaga tersebut tidak hanya yang sudah punya nama seperti Primagama, Ganesha, lembaga-lembaga baru pun mencari peruntungan di bidang ini. Belum lagi yang menawarkan secara instan untuk menjadi ahli matematika dengan berbagai metode dari sempoa, kumon dan metode lainnya. Bisnis ini pun telah meraup miliaran rupiah. Timbul pertanyaan kenapa bisnis ini menjadi marak?. Di tengah himpitan biaya hidup yang semakin berat karena kenaikan BBM, para orang tua rela menyisihkan dana jutaan rupiah untuk memasukkan anak-anaknya ke lembaga tersebut. Lulus UAN (ujian Akhir Nasional) yang nampaknya dibidik oleh para orang tua.
UAN saat ini telah menjadi momok yang menakutkan. Jutaan siswa harus gigit jari karena gagal melewati nilai batas minimal yang ditetapkan pemerintah. Bahkan ada sekolah yang tidak ada satu pun siswa yang lulus UAN. Kelulusan mereka hanya ditentukan dalam hitungan hari bahkan lamanya jam ujian. Itu pun hanya hanya beberapa mata pelajaran yang dianggap mampu merepresentasikan kepintaran siswa. Pelajaran lain seakan-akan hanya menjadi asesoris saja. Pendidikan yang mereka jalani selama 3 (tiga) tahun seakan-akan tidak ada artinya dibandingkan dengan UAN tersebut. Kondisi ini yang menyebabkan para orang tua dan guru berjibaku untuk berkonsentrasi hanya pada mata pelajaran yang diujikan dalam UAN.
Sekolah-sekolah dianggap sukses apabila mampu meluluskan sebagian besar atau 100% siswanya. Tidak heran untuk mengejar ambisi ini para siswa harus mengikuti pelajaran tambahan. Merasa bekal di sekolah tidak cukup para orang tua memasukkan anak-anaknya ke lembaga-lembaga kursus. Malam harinya anak-anak masih dipaksa belajar oleh orang tuanya yang ketakutan anaknya tidak lulus UAN. Semua energi dicurahkan pada mata pelajaran yang diujikan di UAN. Porsi pelajaran yang lain semakin terpinggirkan. Anak-anak diarahkan untuk menjadi pintar namun melupakan esensi yang hemat saya sangat penting yaitu pelajaran budi pekerti. Padahal anak pintar tidak berbudi jauh berbahaya dibandingkan kurang pintar namun mempunyai budi pekerti yang baik.
Pintar saja hemat saya tidak cukup. Sebaiknya generasi muda dibekali tidak hanya pintar tetapi juga mempunyai akhlak yang mulia. Masa depan negara ini akan suram seandainya generasi muda hanya mengandalkan kepintaran saja. Sudah dipastikan karena budi pekertinya kurang baik, mudah terjadi friksi maupun pertentangan antar mereka. Belum lagi kalau kepintaran itu dipergunakan untuk mengejar ambisi diri sendiri tanpoa memikirkan kepentingan banyak pihak. Bisa terjadi malah membahayakan kehidupan manusia. Dapat kita bayangkan betapa berbahayanya nuklir kalau dipergunakan sebagai mesin perang dibandingkan untuk energi alternatif.
Saya tidak alergi bahwa anak didik menjadi pintar. Bahkan sangat setuju kalau generasi muda ke depan sudah seharusnya lebih pintar dari kita. Kepintaran saja yang dikejar tanpa dimbangi pendidikan budi pekerti malah menjadi berbahaya. Kalau dihadapkan pada dua pilihan yang ekstrem yaitu anak pintar tidak berbudi dan anak kurang pintar tapi berbudi saya akan menetapkan pilihan pada alternatif kedua. Saya yakin anak yang kurang pintar namun mempunyai kelakukan yang santun, tenggang rasa dan suka menolong akan membuat hidup saya menjadi tenang. Sebaliknya anak pintar namun mempunyai kelakukan yang buruk akan membuat hidup saya penuh dengan kekhawatiran. Takut perbuatannya mencelakakan orang lain, bahkan bukan tidak mungkin terhadap kita juga tidak ada rasa hormat sebagai orang tua. Kalau pintar yang seperti inilah yang tidak penting dan harus kita hindari. Tentu yang ingin saya tekankan dalam mendidik anak adalah menjadikan mereka pintar dan berbudi luhur.
Tulisan saya kali ini bukannya menentang sistim pendidikan yang diharapkan melahirkan anak-anak pintar dan berbakat. Namun sisi yang perlu saya tonjolkan adalah sebaiknya kita jangan melupakan pendidikan budi pekerti. Artinya walaupun UAN sudah ditasbihkan menjadi keharusan yang harus dilewati siswa, akan tetapi para guru dan orang tua hendaknya jangan bosan-bosannya untuk tetap memberikan porsi yang besar bagi pendidikan akhlak pada anak didik atau anaknya. Harus kita ingat kekuatan bangunan ditentukan oleh seberapa kokohnya fondasi bangunan tersebut. Demikian pula pada anak-anak kita kalau kita dari kecil telah membekali mereka dengan dasar pendidikan agama yang kuat sudah dipastikan mereka tidak akan mudah goyah dari pengaruh negatif yang siap menerkamnya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar