Oleh: Heri Ispriyahadi
Judul : Mukjizat Shalat Malam : Pembuka Pintu Kesuksesan & Kebahagiaan
Pengarang : H. Roni Tabrono
Penerbit : DAR! Mizan
Halaman : 186 halaman
Cetakan : Pertama (Januari 2009)
Aku dekat engkau dekat, aku jauh engkau jauh”, adalah bait penggalan lagu yang dinyanyikan Bimbo. Bait ini sangat cocok untuk menggambarkan hubungan manusia dengan sang khalik. Allah SWT akan menyayangi hambanya yang rajin dan taat beribadah. Sebaliknya mengacuhkan orang-orang yang sengaja menjauh dari Nya. Kendaraan apa yang sangat ampuh untuk membina hubungan mesra dengan Allah SWT?. Ternyata shalat tahajud menjadi jawabannya. Shalat ini adalah ibadah sunah yang menduduki ranking tertinggi. Keutamaan shalat Tahajud tidak diragukan lagi.
Bagi yang rutin menjalankan shalat tahajud dengan ikhlas akan memperoleh kemulian baik di dunia maupun akhirat. Siapapun sangat dianjurkan untuk menjalankan shalat malam ini. Tidak kecuali para remaja yang menjadi target dari buku ini. Sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang, para remaja harus digarap dengan serius. Mereka perlu dibimbing dan diarahkan agar tidak terjerumus pada tindakan yang negatif seperti narkoba atau tindakan kriminal lainnya.
Masa remaja merupakan masa yang labil karena saat pencarian jati diri. Apabila pencariannya tepat sasaran, mereka akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dewasa dalam berfikir maupun bertindak. Namun sebaliknya, salah bergaul akan membawa bencana di kemudian hari. Oleh karena itu, para remaja perlu bimbingan, arahan dan petunjuk yang mengantarkan mereka pada jalan kebenaran. Melalui buku ini, penulis mengajak para pembaca remaja agar menjadikan shalat tahajud menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Untuk menggapai tujuan tersebut, penulis membedah secara tuntas mengenai shalat tahajud. Ternyata banyak keistemewaan yang akan kita unduh dengan melakukan shalat tahajud.
Penulis menyadari bahwa para remaja sulit ditaklukkan hanya dengan sentuhan penjelasan berdasarkan tuntunan agama. Fakta dan hasil-hasil studi empiris diperlukan untuk memperkuat argumentasi keutamaan shalat tahajud. Melalui pendekatan ini, para remaja terbuka pikirannya betapa dasyatnya mukjizat yang terkandung shalat sunah tahajud.
Tidak dipungkiri bahwa musuh terbesar yang dihadapi kita bukan tentara musuh dengan peralatan yang super canggih. Namun musuh tersebut berada pada diri kita sendiri. Setan yang berada disekiling kita akan selalu berupaya menggagalkan kita agar tidak menjalankan shalat tahajud. Terlebih shalat malam ini dilakukan di tengah malam saat orang lain terlelap tidur dengan nyenyaknya. Rasa kantuk dan malas merupakan godaan terberat. Apalagi kalau semalaman kita begadang. Namun kesemua itu akan sirna setelah membaca dan menghayati isi buku ini. Dalam buku ini para pembaca remaja akan memperoleh tip-tip mengenai tidur dan shalat tahajud serta bagaimana agar terbiasa menjalankan shalat tahajud.
Sistematika dan alur penulisan buku ini tertata rapi dan runtut. Namun gaya bahasa populer yang dipilih masih tergolong standar. Padahal sasaran yang dituju ini adalah kaum remaja. Akan lebih menarik kalau penulis mampu membawakan gaya tulisan yang disukai anak muda. Bahasa gaul dan jargon-jargon yang populer di kalangan remaja bisa dipertimbangkan untuk diselipkan. Strategi ini diharapkan dapat membawa emosi para remaja larut didalamnya. Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini layak dikonsumsi para remaja. Kehadiran buku ini diharapkan mampu menjadi perekat para remaja untuk lebih intensif berkomunikasi dengan sang khalik. Kalau shalat tahajud sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri remaja, sudah dipastikan masa depan bangsa ini akan menuju kearah yang lebih baik.
30 Januari 2009
29 Januari 2009
Resensi Buku : KEKUATAN UNTUK MEMILIH PIKIRAN
Oleh : Heri Ispriyahadi
Judul : The 7 Laws of Happiness Tujuh rahasia Hidup Yang Bahagia
Pengarang : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Kaifa (Mizan Group)
Halaman : 428 halaman
Cetakan : Kedua (Januari 2009)
Episentrum kehidupan ada di pikiran kita. Semua yang terjadi pada diri kita merupakan buah dari apa yang berulangkali kita pikirkan. Untuk itu sudah sewajarnya, pikiran kita hendaknya diisi dengan hal-hal yang baik. Ibarat makanan, kita pilih makanan bergizi dan hindari makanan sampah (junk food). Apa saja asupan yang sebaiknya mengisi pikiran kita?. Buku ini menawarkan tujuh makanan bergizi yang akan membawa hidup bahagia. Jurus yang diberi nama the 7 Laws of happiness merupakan hasil perjalanan panjang penulis dari perenungan, pembelajaran dan pengalaman hidup. Dengan membangun kekuatan memilih pikiran, kita akan meraih tujuan hidup yaitu mencapai kebahagiaan.
Sepintas apa yang ditawarkan dalam buku ini mirip dengan the 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey yang sangat terkenal. Persamaannya terletak pada struktur yaitu 3+3+1 dan penerapannya yang musti berjenjang. Namun kalau didalami lebih lanjut ternyata terdapat perbedaan yang mencolok. Covey lebih menekankan pada memilih tindakan untuk meraih sukses. Sementara Arvan Pradiansyah (penulis buku ini) menukik lebih dalam lagi yaitu memilih pikiran agar hidup bahagia. Sebagai ilustrasi menolong merupakan hasil suatu tindakan. Di balik tindakan tersebut terdapat beberapa latar belakang pikiran. Menolong karena kasihan, ingin mendapat pahala dari Tuhan atau ingin memberikan sesuatu pada orang lain. Tindakan sama namun ternyata didasari pikiran yang berbeda-beda. Tentu, pada pilihan terakhir kita akan memperoleh kebahagian tak ternilai.
Kesuksesan itu tidak identik dengan kebahagian. Sebaliknya, kebahagiaan akan berujung kepada kesuksesan. Artinya, kalau kita merasa bahagia, apapun hasil yang kita kerjakan selalu sukses di mata kita. Tidak lagi terbelenggu pada target-target tertentu. Hal tersebut yang menjadi inti dari buku ini. Penulis dengan gamblang menyajikan kiat-kiat meraih kesempurnaan hidup melalui penerapan formula 3+3+1. 3 pertama yaitu sabar (patience), syukur(gratefulness) dan sederhana (simplicity) untuk mencapai kebahagian pribadi. Berikutnya kasih (love), memberi (giving) dan memaafkan (forgiving) dalam rangka mencari kebahagian dari hubungan dengan orang lain. Dan puncaknya adalah pasrah (surrender) yang merupakan pencapaian kebahagiaan hakiki yang merefleksikan hubungan dengan Tuhan. Setelah semua tahapan dilalui tentunya kita pasrahkan kepada Tuhan. Apapun keputusan Tuhan itulah yang terbaik bagi kita.
Membaca buku ini, kita akan memperoleh banyak pelajaran berharga bagaimana sebaiknya mengarungi roda kehidupan ini. Terutama dalam hal memilih pikiran. Kebahagiaan yang kita angan-angankan bukanlah fatamorgana. Hal tersebut dapat diwujudkan kalau kita benar-benar mampu menghayati dan melaksanakan ajaran-ajaran dalam buku ini. Agar mudah dipahami, penulis juga melengkapi dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Walau buku ini cukup tebal, namun pilihan gaya bahasa populer membuat buku ini tidak membosankan dan mudah dipahami oleh siapapun. Latar belakang penulis yang sarat pengalaman di bidang SDM, membuat pemikiran-pemikiran yang disampaikan sangat menarik. Ramuan kemampuan yang dimiliki penulis baik di bidang akademis (Master of Science dalam bidang Industrial Relation and Human resources dari The London School of Economics) dan pengalaman sebagai konsultan SDM (pernah bekerja sebagai konsultan di DDI dan Dunamis yang mempunyai reputasi internasional) tertuang secara apik, runtut dan logis. Pembaca akan memperoleh sajian secara utuh bagaimana penulis sampai kepada formula yang dikenal the 7 Laws of Happiness.
Untuk membumikan pemahaman pembaca, pada setiap Bagian dilengkapi dengan box-box yang berisi kasus-kasus nyata. Hal unik lain yang juga menjadi kekuatan buku ini adalah pencetakan kata atau kalimat yang dianggap penting. Penggunaan huruf yang lebih besar dan dicetak tebal dipilih penulis sebagai sinyal yang harus diperhatikan pada setiap halaman pembahasan. Strategi jitu ini akan menggiring pembaca agar lebih mudah menangkap makna dari pesan yang disampaikan penulis.
Sulit untuk menemukan titik lemah dari buku ini. Kalau pun ada kritik sangat minor. Salah satunya adalah huruf yang dipakai pada box “Cermin Sikap Warga Jakarta” (halaman 271) terlalu kecil. Terlepas dari kekurangan minor tersebut, buku ini sangat layak bagi para pembaca yang menginginkan kebahagiaan. Kehidupan yang kita jalani ini bukan vertikal yang terus naik keatas, namun seperti lingkaran. Dimulai dari suatu titik dan akan kembali ke titik tersebut. Keyakinan inilah yang diusung penulis. Dengan berbagai kelebihan yang ada pada buku ini, tidak berlebihan dalam waktu singkat sudah mengalami pencetakan kedua kali dan meraih best seller.
Judul : The 7 Laws of Happiness Tujuh rahasia Hidup Yang Bahagia
Pengarang : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Kaifa (Mizan Group)
Halaman : 428 halaman
Cetakan : Kedua (Januari 2009)
Episentrum kehidupan ada di pikiran kita. Semua yang terjadi pada diri kita merupakan buah dari apa yang berulangkali kita pikirkan. Untuk itu sudah sewajarnya, pikiran kita hendaknya diisi dengan hal-hal yang baik. Ibarat makanan, kita pilih makanan bergizi dan hindari makanan sampah (junk food). Apa saja asupan yang sebaiknya mengisi pikiran kita?. Buku ini menawarkan tujuh makanan bergizi yang akan membawa hidup bahagia. Jurus yang diberi nama the 7 Laws of happiness merupakan hasil perjalanan panjang penulis dari perenungan, pembelajaran dan pengalaman hidup. Dengan membangun kekuatan memilih pikiran, kita akan meraih tujuan hidup yaitu mencapai kebahagiaan.
Sepintas apa yang ditawarkan dalam buku ini mirip dengan the 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey yang sangat terkenal. Persamaannya terletak pada struktur yaitu 3+3+1 dan penerapannya yang musti berjenjang. Namun kalau didalami lebih lanjut ternyata terdapat perbedaan yang mencolok. Covey lebih menekankan pada memilih tindakan untuk meraih sukses. Sementara Arvan Pradiansyah (penulis buku ini) menukik lebih dalam lagi yaitu memilih pikiran agar hidup bahagia. Sebagai ilustrasi menolong merupakan hasil suatu tindakan. Di balik tindakan tersebut terdapat beberapa latar belakang pikiran. Menolong karena kasihan, ingin mendapat pahala dari Tuhan atau ingin memberikan sesuatu pada orang lain. Tindakan sama namun ternyata didasari pikiran yang berbeda-beda. Tentu, pada pilihan terakhir kita akan memperoleh kebahagian tak ternilai.
Kesuksesan itu tidak identik dengan kebahagian. Sebaliknya, kebahagiaan akan berujung kepada kesuksesan. Artinya, kalau kita merasa bahagia, apapun hasil yang kita kerjakan selalu sukses di mata kita. Tidak lagi terbelenggu pada target-target tertentu. Hal tersebut yang menjadi inti dari buku ini. Penulis dengan gamblang menyajikan kiat-kiat meraih kesempurnaan hidup melalui penerapan formula 3+3+1. 3 pertama yaitu sabar (patience), syukur(gratefulness) dan sederhana (simplicity) untuk mencapai kebahagian pribadi. Berikutnya kasih (love), memberi (giving) dan memaafkan (forgiving) dalam rangka mencari kebahagian dari hubungan dengan orang lain. Dan puncaknya adalah pasrah (surrender) yang merupakan pencapaian kebahagiaan hakiki yang merefleksikan hubungan dengan Tuhan. Setelah semua tahapan dilalui tentunya kita pasrahkan kepada Tuhan. Apapun keputusan Tuhan itulah yang terbaik bagi kita.
Membaca buku ini, kita akan memperoleh banyak pelajaran berharga bagaimana sebaiknya mengarungi roda kehidupan ini. Terutama dalam hal memilih pikiran. Kebahagiaan yang kita angan-angankan bukanlah fatamorgana. Hal tersebut dapat diwujudkan kalau kita benar-benar mampu menghayati dan melaksanakan ajaran-ajaran dalam buku ini. Agar mudah dipahami, penulis juga melengkapi dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Walau buku ini cukup tebal, namun pilihan gaya bahasa populer membuat buku ini tidak membosankan dan mudah dipahami oleh siapapun. Latar belakang penulis yang sarat pengalaman di bidang SDM, membuat pemikiran-pemikiran yang disampaikan sangat menarik. Ramuan kemampuan yang dimiliki penulis baik di bidang akademis (Master of Science dalam bidang Industrial Relation and Human resources dari The London School of Economics) dan pengalaman sebagai konsultan SDM (pernah bekerja sebagai konsultan di DDI dan Dunamis yang mempunyai reputasi internasional) tertuang secara apik, runtut dan logis. Pembaca akan memperoleh sajian secara utuh bagaimana penulis sampai kepada formula yang dikenal the 7 Laws of Happiness.
Untuk membumikan pemahaman pembaca, pada setiap Bagian dilengkapi dengan box-box yang berisi kasus-kasus nyata. Hal unik lain yang juga menjadi kekuatan buku ini adalah pencetakan kata atau kalimat yang dianggap penting. Penggunaan huruf yang lebih besar dan dicetak tebal dipilih penulis sebagai sinyal yang harus diperhatikan pada setiap halaman pembahasan. Strategi jitu ini akan menggiring pembaca agar lebih mudah menangkap makna dari pesan yang disampaikan penulis.
Sulit untuk menemukan titik lemah dari buku ini. Kalau pun ada kritik sangat minor. Salah satunya adalah huruf yang dipakai pada box “Cermin Sikap Warga Jakarta” (halaman 271) terlalu kecil. Terlepas dari kekurangan minor tersebut, buku ini sangat layak bagi para pembaca yang menginginkan kebahagiaan. Kehidupan yang kita jalani ini bukan vertikal yang terus naik keatas, namun seperti lingkaran. Dimulai dari suatu titik dan akan kembali ke titik tersebut. Keyakinan inilah yang diusung penulis. Dengan berbagai kelebihan yang ada pada buku ini, tidak berlebihan dalam waktu singkat sudah mengalami pencetakan kedua kali dan meraih best seller.
07 Januari 2009
Pesta Barbeque Ala Tebet
Momentum setiap pergantian tahun merupakan peristiwa yang selalu ditunggu-tunggu. Berbagai ajang pesta digelar untuk menyambut datangnya tahun baru. Bagi kalangan berduit merayakan peristiwa tersebut di hotel-hotel berbintang. Sementara kalangan wong cilik membanjiri panggung-panggung hiburan gratis yang digelar oleh pemerintah daerah. Para Artis meraup rejeki yang besar dari berbagai pesta menyambut tahun baru. Penjual terompet juga tidak ketinggalan mendapatkan limpahan rejeki dari acara tersebut. Anak-anak muda tumpah ruah di jalan protokol. Semua bergembira, seakan tidak mau ketinggalan prosesi perpindahan tahun 2008 menuju tahun 2009.
Tanggal 31 Desember 2008 yang merupakan penghujung tahun, saya pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah tenggelam dengan pekerjaan yang menumpuk dalam beberapa hari terakhir, akhirnya saya bisa bernapas lega. Pada hari itu sisa pekerjaan yang harus diselesaikan berkurang banyak. Oleh karena itu, tengah hari saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Rasanya hari itu, saya dan teman-teman sudah tidak konsentrasi bekerja. Di pikiran kita adalah cepat pulang ke rumah dan merayakan tahun baru dengan keluarga. Saya sendiri, bingung karena belum punya rencana apapun untuk menyongsong datangnya tahun baru. Mau keliling kota, sudah kebayang betapa macetnya jalananan di setiap sudut kota jakarta. Merayakan pesta tahun baruan di hotel, selain biayanya mahal, saya juga belum booking hotel. Saat memasuki gang menuju rumah tempat tinggal. Saya terkejut di depan rumah sudah berdiri tenda. Bapak-bapak di lingkungan tempat tinggal saya, nampak lagi sibuk mempersiapkan suatu acara. Saat saya lagi melintas, salah seorang tetangga mengundang saya untuk hadir dalam acara perayaan menyambut datangnya tahun baru.
Saya lihat, di bawah tenda sudah disiapkan satu kotak besar yang ternyata isinya ikan-ikan segar yang langsung dibeli dari pasar Ikan Muara Karang. Ternyata para tetangga sedang mempersiapkan pesta menyambut tahun baru dengan mengadakan pesta ikan dan ayam bakar. Asyik, akhirnya saya punya acara untuk merayakan datangnya tahun baru. Acara ini istemewa bagi saya karena setelah 17 tahun meretas hidup di Jakarta baru sekali ini mengadakan pesta ikan bakar untuk merayakan tahun baru. Pesta bakar membakar daging segar di taman-taman kota pernah saya lakukan bersama-sama teman waktu sekolah di Canberra-Australia. Setelah berkutat dengan ujian yang memusingkan kepala, beramai-ramai kita menuju taman kota, masing-masing pelajar membawa potongan daging segar untuk melakukan pesta barbeque. Di taman kota biasanya disediakan tungku pemanas untuk melakukan pesta barbeque.
Pesta bakar ikan di Tebet ini, berbeda dengan yang pernah saya alami. Berbekal tungku pembakar yang biasanya digunakan tukang sate, para pembakar ikan amatir dengan riang gembira mulai membakar ikan-ikan segar tersebut. Sementara itu, bapak-bapak yang lain asyik bersenda gurau berdiskusi berbagai topik sambil menanti bergeraknya jarum jam menuju angka 24.00 WIB. Cira rasa menjadi urusan yang kesekian. Berkumpulnya bapak-bapak yang selama ini jarang kumpul karena kesibukan masing-masing sudah menjadi bumbu penyedap dari acara pesta ikan bakar. Bahkan cuaca pun bersahabat mendukung pelaksanaan acara tahun baru di tempat tinggal saya. Satu persatu ikan sudah mulai siap santap . Bapak-bapak sambil asyik ngobrol juga mulai mencicipi gurihnya ikan bakar ala barbeque Tebet. Tidak ketinggalan saya pun ikut menyantap ikan kakap bakar dengan dibumbui kecap yang dicampur potongan cabe rawit. Semakin malam obrolan semakin memanas dan mengasyikkan. Topik bensin dan gas yang tiba-tiba menghilang, pemilihan presiden baru di 2009, jam sekolah anak-anak sekolah yang dimajuin pukul 06.30, ramalan-ramalan dari paranormal tentang peristiwa-peristawa yang akan terjadi di tahun 2009 terus bergulir dalam obrolan tersebut.
Tak terasa waktu terus bergerak dan jarum pendek dan panjang jam menunjukkan angka 24.00 WIB. Kita pun langsung meniup terompet begitu angka jarum panjang bergerak ke angka 12. Tak berapa lama kemudian, langitpun menjadi berwarna-warni saat ratusan kembang api diluncurkan. Suasana menjadi ramai karena petasan-petasan ikut meningkahi keramaian memasuki tahun baru 2009. Suasana betul-betul menjadi semarak karena ternyata ibu-ibu yang tadinya melakukan acara ngrumpi di tempat lain ikut bergabung. Suasana betul-betul meriah seakan datangnya tahun baru memberi harapan yang lebih baik.
Saat jam menunjukkan angka 02.00 WIB tanggal 1 Januari 2009, mata ini sulit untuk kompromi, saya undur diri dari acara tersebut. Tahun 2009 sudah datang, pikiran pun dipenuhi dengan rencana-rencana yang akan dilakukan dalam tahun ini. Tentu, keinginan dan harapan saya tahun 2009, memberikan peruntungan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Semoga.
Tanggal 31 Desember 2008 yang merupakan penghujung tahun, saya pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah tenggelam dengan pekerjaan yang menumpuk dalam beberapa hari terakhir, akhirnya saya bisa bernapas lega. Pada hari itu sisa pekerjaan yang harus diselesaikan berkurang banyak. Oleh karena itu, tengah hari saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Rasanya hari itu, saya dan teman-teman sudah tidak konsentrasi bekerja. Di pikiran kita adalah cepat pulang ke rumah dan merayakan tahun baru dengan keluarga. Saya sendiri, bingung karena belum punya rencana apapun untuk menyongsong datangnya tahun baru. Mau keliling kota, sudah kebayang betapa macetnya jalananan di setiap sudut kota jakarta. Merayakan pesta tahun baruan di hotel, selain biayanya mahal, saya juga belum booking hotel. Saat memasuki gang menuju rumah tempat tinggal. Saya terkejut di depan rumah sudah berdiri tenda. Bapak-bapak di lingkungan tempat tinggal saya, nampak lagi sibuk mempersiapkan suatu acara. Saat saya lagi melintas, salah seorang tetangga mengundang saya untuk hadir dalam acara perayaan menyambut datangnya tahun baru.
Saya lihat, di bawah tenda sudah disiapkan satu kotak besar yang ternyata isinya ikan-ikan segar yang langsung dibeli dari pasar Ikan Muara Karang. Ternyata para tetangga sedang mempersiapkan pesta menyambut tahun baru dengan mengadakan pesta ikan dan ayam bakar. Asyik, akhirnya saya punya acara untuk merayakan datangnya tahun baru. Acara ini istemewa bagi saya karena setelah 17 tahun meretas hidup di Jakarta baru sekali ini mengadakan pesta ikan bakar untuk merayakan tahun baru. Pesta bakar membakar daging segar di taman-taman kota pernah saya lakukan bersama-sama teman waktu sekolah di Canberra-Australia. Setelah berkutat dengan ujian yang memusingkan kepala, beramai-ramai kita menuju taman kota, masing-masing pelajar membawa potongan daging segar untuk melakukan pesta barbeque. Di taman kota biasanya disediakan tungku pemanas untuk melakukan pesta barbeque.
Pesta bakar ikan di Tebet ini, berbeda dengan yang pernah saya alami. Berbekal tungku pembakar yang biasanya digunakan tukang sate, para pembakar ikan amatir dengan riang gembira mulai membakar ikan-ikan segar tersebut. Sementara itu, bapak-bapak yang lain asyik bersenda gurau berdiskusi berbagai topik sambil menanti bergeraknya jarum jam menuju angka 24.00 WIB. Cira rasa menjadi urusan yang kesekian. Berkumpulnya bapak-bapak yang selama ini jarang kumpul karena kesibukan masing-masing sudah menjadi bumbu penyedap dari acara pesta ikan bakar. Bahkan cuaca pun bersahabat mendukung pelaksanaan acara tahun baru di tempat tinggal saya. Satu persatu ikan sudah mulai siap santap . Bapak-bapak sambil asyik ngobrol juga mulai mencicipi gurihnya ikan bakar ala barbeque Tebet. Tidak ketinggalan saya pun ikut menyantap ikan kakap bakar dengan dibumbui kecap yang dicampur potongan cabe rawit. Semakin malam obrolan semakin memanas dan mengasyikkan. Topik bensin dan gas yang tiba-tiba menghilang, pemilihan presiden baru di 2009, jam sekolah anak-anak sekolah yang dimajuin pukul 06.30, ramalan-ramalan dari paranormal tentang peristiwa-peristawa yang akan terjadi di tahun 2009 terus bergulir dalam obrolan tersebut.
Tak terasa waktu terus bergerak dan jarum pendek dan panjang jam menunjukkan angka 24.00 WIB. Kita pun langsung meniup terompet begitu angka jarum panjang bergerak ke angka 12. Tak berapa lama kemudian, langitpun menjadi berwarna-warni saat ratusan kembang api diluncurkan. Suasana menjadi ramai karena petasan-petasan ikut meningkahi keramaian memasuki tahun baru 2009. Suasana betul-betul menjadi semarak karena ternyata ibu-ibu yang tadinya melakukan acara ngrumpi di tempat lain ikut bergabung. Suasana betul-betul meriah seakan datangnya tahun baru memberi harapan yang lebih baik.
Saat jam menunjukkan angka 02.00 WIB tanggal 1 Januari 2009, mata ini sulit untuk kompromi, saya undur diri dari acara tersebut. Tahun 2009 sudah datang, pikiran pun dipenuhi dengan rencana-rencana yang akan dilakukan dalam tahun ini. Tentu, keinginan dan harapan saya tahun 2009, memberikan peruntungan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Semoga.
Langganan:
Komentar (Atom)