04 Juni 2008

BLT- BIKIN LANGSUNG TERPURUK- RAKYAT MISKIN

Oleh : Heri Ispriyahadi

Tidak peduli besarnya gelombang protes yang dilancarkan banyak pihak, pemerintah SBY-JK bersikeras program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetap jalan terus. Pemerintah berkilah BLT mampu mengentaskan masyarakat miskin dari himpitan kenaikan harga yang dipicu oleh melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Paket ini menelan biaya sampai sebesar Rp14,1 triliun dan diharapkan dapat menolong sebanyak 19,1 juta orang miskin. Benarkah BLT mampu mencapai tujuan tersebut?

Di tengah meroketnya kebutuhan hidup, BLT sebesar Rp100.000 per bulan selama 7 bulan hanya mampu untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup warga miskin. Dalam hitungan hari uang tersebut akan habis. Setelah itu, roda kehudupan penerima BLT kembali berputar untuk dapat bertahan hidup. Tidak hanya itu, BLT mengajarkan pada masyarakat miskin untuk menjadi bangsa pengemis. Jiwa pemalas menjadikan kehidupan mereka semakin sulit. BLT yang melenceng dari sasaran bisa diplesetkan, Bikin Langsung Terpuruk bagi rakyat miskin. Kalau tidak tepat sasaran bukan tidak mungkin BLT malah menambah masalah baru.

Berbagai persoalan yang mengemuka pada BLT 2005 seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Banyak kasus mewarnai BLT dari data penerima yang kurang akurat, dana yang disunat, aksi anarkis masa sampai pelaksanaan pembagian dana yang berantakan. Namun itu semua tidak membuat pemerintah menjadi jera. Bahkan tanpa persiapan matang BLT 2008 ini seolah jadi senjata pemungkas untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Tragisnya, walau sudah tidak up to date pemerintah menggunaan data 2005 sebagai dasar pembagian BLT. Seharusnya pemerintah memperbaharui data tersebut karena selama 3 tahun bukan tidak mungkin sudah banyak terjadi perubahan. Selain itu pada 2005 disinyalir penerima BLT termasuk warga yang masih tergolong mampu. Ironisnya warga yang benar-benar miskin malah tidak termasuk dalam daftar. Hal ini bisa terjadi karena permainan oknum petugas lapangan.

Pelaksanaan pembagian BLT tidak semulus yang diperkirakan. Tidak sedikit aparat kelurahan/ desa yang menjadi garda terdepan pelaksanaan BLT menjadi sasaran kemarahan masa. Tidak puas dengan pelaksanaan BLT mereka mengintimidasi para petugas. Kondisi ini menjadi peristiwa traumatis bagi mereka. Tidak berlebihan kalau mereka menentang keras pelaksanaan BLT 2008 ini. Namun ancaman sangsi yang akan dikenakan petugas yang menolak BLT menyurutkan langkah penentangannya.
Bahaya utama yang perlu diwaspadai dari peluncuran program BLT adalah menjadikan mental pengemis bagi kaum miskin. Budaya ini jelas sangat merugikan. Seharusnya bantuan kail jauh lebih baik daripada ikan. Bekerja menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan hidup yang dihadapi rakyat miskin. Bukan mustahil dengan bekerja suatu saat mereka mampu keluar dari jeratan kemiskinan. Sementara BLT hanya menjadikan mereka menjadi bangsa pemalas.

Langkah yang ditempuh pemerintah dalam program BLT ini nampaknya hanya untuk mengatasi permasalahan jangka pendek tidak menyentuh pada akar permasalahan. Uang berapapun diberikan akan habis dalam waktu sekejap. Berbeda dengan bekal keahlian maupun ketrampilan akan mendatangkan uang bukan menghabiskan uang. Bantuan berupa modal kerja, ketrampilan, pendidikan maupun bantuan lainnya merupakan langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah. Mengintensifkan Balai Latihan Kerja, mendirikan bank-bank mikro, dan memberikan bantuan ketrampilan lainnya jauh lebih baik dibandingkan BLT.

Kita pun seharusnya bisa menyerap pelajaran berharga dari bangsa Jepang. Kekalahan perang, kondisi negara yang hancur lebur dihantam bom atom dan sumber daya alam yang tidak bersahabat bukanlah menjadi halangan bagi mereka untuk maju. Mereka selalu bekerja keras untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kegigihan mereka telah membawa bangsa Jepang menjadi bangsa yang makmur.

BLT bukan solusi terbaik. Potensi bahayanya lebih besar dari manfaat yang ingin diraih. Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah mengganti program BLT dengan program yang lebih baik. Memberikan kail jauh lebih baik daripada ikan. Kalau itu semua bisa dijalankan dapat dipastikan akan terbuka kesempatan kerja yang luas bagi rakyat miskin. Ke depan istilah BLT dapat diplesetkan menjadi Buka Lapangan Tenaga Kerja. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar