11 Juli 2008
MEMBUMIKAN INDONESIA BANGKIT
Bangkit itu tidak ada….tidak ada kata putus asa dan kata menyerah. Salah satu penggalan puisi bangkit yang dibacakan Deddy Mizwar terasa menohok relung hati kita. Bulu kuduk ini serasa berdiri saat menyimak kata demi kata yang disuarakan dengan intonasi pelan sampai menggelegar dari aktor pemeran Naga Bonar tersebut. Puisi yang ditulis dari negatif ke tindakan yang positif menyadarkan diri kita bahwa masih banyak persoalan yang mendera bangsa kita. Sudah lama bangsa ini mengalami keterpurukan. Namun sudah lama pula kita tidak mampu keluar dari permasalahan tersebut. Hanya satu kata yang wajib kita lakukan yaitu ”Bangkit”.
Peringatan hari kebangkitan nasional 20 Mei 2008 hendaknya dijadikan momentum awal kebangkitan bangsa Indonesia. Slogan Indonesia bangkit telah dicanangkan dengan gegap gempita di stadion Gelora Bung Karno memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional. Slogan itu hendaknya jangan hanya manis di mulut namun harus diwujudkan menjadi kekuatan dasyat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.
Selama kurun waktu 53 tahun sejak merdeka, bangsa Indonesia terus berusaha membangun. Sudah enam presiden memimpin negeri ini. Dari orde baru ke orde lama sampai dengan orde reformasi mengawal pembangunan di Indonesia. Demokrasi yang dipasung selama dibawah kepemimpinan orde lama maupun baru sudah mendapat ruang yang lebih leluasa. Otonomi daerah dan sistim pemilihan kepala daerah yang langsung dipilih oleh rakyat wujud dari demokrasi tersebut. Namun euforia demokrasi dilakukan secara berlebihan.
Demontrasi marak terjadi dimana-mana. Kalah dalam pilkada, ingin menjatuhkan lawan politik, memprotes berbagai kebijakan pemerintah atau masalah lain adalah berbagai permasalahan di belakang maraknya demonstrasi. Ironisnya, demonstrasi kadang dibarengi dengan tindakan yang anarkis. Sejumlah kantor pemerintah dibakar, perkelahian antar pendukung dan tindakan anarkis lainnya menjadi potret buram dari pelaksanaan demokrasi yang kebablasan. Kesemuanya ini menunjukkan masih belum siap dan dewasanya rakyat berpolitik.
Pembangunan di bidang ekonomi juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Ekonomi yang tumbuh 6,32 % dan laju inflasi 6,59% masih dibawah target yang ditetapkan pemerintah di 2007 belum banyak dirasakan oleh masyarakat luas. Angka indikator yang mengesankan tersebut tidak tercermin di kehidupan sehari-hari. Angka kemiskinan dan pengangguran terus bertambah. Harga-harga terus merangkak naik yang dipicu meroketnya harga minyak dan komoditi pangan. Daya beli masyarakat semakin menurun. Konsumsi masyarakat yang menurun memukul sektor industri. Omset penjualan industri terus menurun. Akibat tidak mampu menutup kerugian, satu demi satu pabrik-pabrik tersebut gulung tikar. Yang paling menderita tentu kaum buruh yang harus kehilangan mata pencahariannya. Angka kemiskinan dan penggangguran semakin meningkat.
Kinerja ekonomi Indonesia saat ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Singapura dan Malaysia telah lama meninggalkan kita. Padahal dahulu di awal kemerdekaan Malaysia berguru dengan kita. Banyak kalangan pendidik dikirim kenegeri Jiran tersebut untuk mengajar. Demikian pula beberapa pemimpin yang duduk di pemerintahan Malaysia saat ini pernah menimba ilmu di universitas-universitas di Indonesia. Keberhasilan pembangunan di Malaysia karena memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia sebagi ujung tombak pembangunan.
Kinerja konomi yang tertinggal dan sistim politik yang tidak stabil membuat Indonesia menjadi macan ompong di tataran ASEAN. Singapura, Malaysia dan Thailand saat ini saling berebut untuk menjadi pemimpin di forum ini. Padahal dahulu, Indonesia sangat disegani di ASEAN. Bahkan di tataran yang lebih luas seperti APEC, Non-Blok maupun forum internasional lainnya nama Indonesia masih diperhitungkan. Namun dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit wibawa Indonesia terkikis. Prestasi di bidang olahraga juga menyedihkan. Indonesia dahulu begitu perkasa di ajang SEA Games dengan menyandang juara umum beberapa kali.Saat ini gelar tersebut jauh dari jangkauan kita. Dominasi kita di bulutangkis juga sudah disalip oleh China. Piala Thomas dan Uber Cup sudah lama tidak singgah di negeri tercinta ini.
Sangat menyedihkan melihat kenyataan-kenyataan ini. Bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam luar biasa besarnya ternyata tidak dapat memanfatkan kekayaan alamnya tesebut. Sangat ironis, bukan kita yang menikmati manisnya sumber daya alam yang berlimpah malah justru para investor-investor asing yang mengeruk kekayaan kita. Exxon, Freeport dan Caltex adalah beberapa nama investor asing yang berpesta pora menikmati gurihnya kekayaaan alam Indonesia.
Eksplorasi yang berlebihan menyebabkan kerusakan dimana-mana. Hutan gundul, pencemaran air, laut dan udara menjadi pemandangan umum. Akibatnya musibah bencana alam banjir, tanah longsor dan hilangnya habitat satwa langka tak terhindarkan. Parahnya instansi yang seharusnya steril dari kepemilikan asing juga mulai diobok-obok. Saat ini mayoritas kepemilikan saham Indonesia dimiliki Singapura. Demikian perbankan asing juga sudah mulai mendominasi kepemilikan di perbankan domestik. Kesemuanya ini menjadikan kita seolah-olah bekerja di negara lain.
Momentum peringatan kebangkitan nasional saat ini harus kita jadikan pijakan awal kebangkitan kita. Indonesia harus kembali lagi menjadi bangsa besar dan disegani. Paling tidak ditataran ASEAN kita harus mulai unjuk gigi. Perubahan harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Bangkit, bangkit..dan bangkit harus menjadi peluru kita untuk mengatasi berbagai permasalahan. Pemerintah, parlemen, akademisi, pengusaha, aparat penegak hukum dan kelompok masyarakat lainnya harus bahu membahu untuk membangun negeri tercinta ini. Setidaknya mulailah dari diri kita untuk memperbaiki diri, kemudian keluarga, masyarakat dan akhirnya pada negeri tercinta ini. Kalau setiap insan Indonesia berpikir dan bertindak seperti ini sudah dipastikan bangsa ini akan dapat mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang makmur.
Kunci untuk menuju sukses adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Malaysia telah membuktikan hal tersebut. Dikuranginya subsidi pendidikan telah menjadikan pendidikan saat ini semakin mahal. Sulit sekarang bagi anak-anak dari golongan kaum menengah kebawah dapat melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Dengan pengurangaan subsidi menyebabkan kalangan perguruan tinggi negeri juga berlomba-lomba menarik dana yang sebesar-besarnya dari mahasiswa. Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut maka bagi anak-anak dari kalangan petani miskin hanyalah mimpi untuk menjadi dokter atau ”tukang insinyur”. Untuk diterima di fakultas kedokteran puluhan sampai ratusan juta rupiah harus dibayarkan mahasiswa baru. Sudah saatnya pemerintah meninjau ulang kebijakan pengurangan subsidi ini. Kalau perlu pemerintah melakukan pengurangan anggaran di tempat lain untuk menambah subsidi pendidikan. Anggaran untuk pendidikan harus mendapatkan porsi yang besar kalau pemerintah ingin Indonesia menjadi bangsa yang maju.
Selain itu korupsi yang merajalela dan penegakan hukum yang mandul harus dibabat tuntas seakar-akarnya. Sudah menjadi rahasia umum Indonesia menduduki ranking tinggi untuk korupsi baik di lingkup regional maupun dunia Bahaya korupsi sangat merugikan bagi pembangunan di negeri ini. Demikian juga geliat politik yang tidak stabil harus dikendalikan. Selain permasalahan lainnya, kedua hal tersebut berkontribusi besar menyebabkan hengkangnya sejumlah investor asing. Sony Electronic, Aiwa, Nike dan Gillette memindahkan usahanya ke Malaysia dan Vietnam akibat iklim investasi yang tidak kondusif. Kesemuanya itu menjadi potret buram Indonesia berdampak negatif bagi pembangunan. Sudah saatnya supremasi hukum harus ditegakkan untuk menanggulangi kejahatan korupsi ini. Kalau perlu hukuman berat dijatuhkan bagi pelaku korupsi. Di China tidak ada ampun lagi bagi pelaku korupsi. Mereka dihukum mati di hadapan masyarakat. Efek jera terbukti sangat ampuh mengurangi tindak kejahatan korupsi.
Marilah kita bersama-sama membumikan slogan Indonesia bangkit. Mewujudkan slogan tersebut dengan tindakan nyata untuk bangkit dari berbagai keterpurukan. Dengan demikian tidak sia-sia pemerintah mengeluarkan biaya yang sangat besar pada saat mencanangkan Indonesia bangkit. Tulisan ini ditutup dengan potongan terakhir puisi bangkit Deddy Mizwar yaitu Bangkit itu aku.....untuk Indonesia. Semoga
02 Juli 2008
BANJIR SMS KOMERSIAL
Teknologi komunikasi yang melesat bak meteor telah menjadi lahan bisnis menggiurkan bagi pengusaha. Penjualan telepon seluler laris manis seperti layaknya jualan pisang goreng. Harga yang semakin murah dan tersedianya voucher isi ulang sampai pecahan terkecil Rp5000 menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu penjualan HP didukung oleh jaringan distribusi yang sudah menembus sampai ke pelosok-pelosok desa. Tidak heran kelompok ekonomi kelas bawahpun dapat memilikinya. Sudah menjadi pemandangan umum tukang sayur, tukang batu sampai tukang sampah pun diikat pinggangnya terselip HP. Padahal dahulu untuk sekedar memimpikan saja mereka tidak berani karena harganya yang sangat mahal.
Operator-operator telepon seluler berebut pasar Indonesia karena memiliki potensi pasar yang sangat besar. Jumlah penduduknya yang mencapai sekitar 220 juta menjadi daya tarik tersendiri. Kalau mereka berhasil menggarap 30% saja, sudah lebih dari 70 juta orang potensi pasarnya. Jumlah ini tiga kali lipat penduduk Australia. Potensi pasar semakin besar, karena tidak sedikit orang yang memiliki lebih dari 2 HP. Tidak heran saat ini perang tarif semakin gencar dilancarkan para operator seluler untuk berebut ”kue” yang lezat ini. Berbagai jurus iklan pun dilancarkan para operator.
Kemudahan yang ditawarkan dalam berkomunikasi dimanapun berada menjadi promosi yang menarik. Perang tarif pun terus dilakukan antar operator telepon seluler. Masyarakat menjadi terbuai. Bahkan berlembar-lembar ratusan ribu rupiah yang mereka dapatkan dengan susah payah rela dikeruk para operator telepon seluler. Ironisnya para operator telepon seluler secara berjamaah telah berkonspirasi menerapkan tarif SMS yang mencekik leher. Mereka mematok harga tiga kali lipat dari harga yang sebenarnya. Triliunan rupih pun mereka raup dari bisnis ini. Untungnya KPPU mencium aroma konspirasi yang tidak etis ini. Sanksi tegas ditegakkan dengan denda dan mengharuskan penurunan tarif yang wajar.
Bayangan untung besar yang ditangguk dari berbisnis dengan memanfaatkan SMS juga dilirik oleh kalangan televisi. Kita semua menyaksikan berbagai ajang lomba dari Indonesia Idol, Dangdut Mania, AFI, dan lainnya memanfaatkan SMS yang harga nya per SMS jauh lebih mahal dari harga normal. Untuk menarik agar masyarakat membanjiri SMS kepada jago-jagonya mereka diiming-imingi hadiah yang menggiurkan. Walau para penyelenggara ini harus menyediakan berbagai hadiah namun untung yang mereka raih jauh lebih besar. Anggap saja untuk setiap SMS yang dikirim, penyelenggara acara mendapat keuntungan bersih 50%. Dengan tarif Rp1000,- per SMS berarti keuntungan yang diraup Rp.500 kali sekian juta SMS masuk. Bisa kita bayangkan besarnya dana yang mengalir ke pundi-pundi penyelenggara acara. Oleh karena itu tidak heran kalau saat ini TV kita disesaki acara-acara seperti ini.
Tengah malam di saat orang pada terlelap tidur, kalau kita iseng menyetel TV maka kita menemukan acara yang memanfaatkan SMS komersial. Dipandu gadis manis dengan berbalut baju seksi mengajak pemirsa untuk main tebak-tebakan dari tebak nama, wajah atau menyusun kata yang hruf-hurufnya sudah diacak. Sebenarnya Anak SD pun akan mudah menebaknya. Namun yang diincar adalah banjirnya SMS orang-orang yang bernafsu ingin memperoleh hadiah-hadiah yang ditawarkan.
Belum lama berselang Roncar, produk pengaman kendaraan bermotor dari pencurian yang ikut-ikutan berbisnis dengan memanfaatkan SMS ini. Untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan para pemirsa tidak perlu membeli produk tersebut cukup hanya mengirim SMS. Menurut saya, hal ini sangat naif karena dimanapun kalau berdagang yang dijual produknya. Tapi dalam kasus ini, pemirsa cukup hanya mengirim SMS sebanyak-banyaknya mengadu nasib untuk memperoleh hadiah yang ditawarkan. Boleh dibilang produk yang ditawarkan hanya tempelan saja. Yang diincar bajirnya kiriman SMS komersial dari para penonton.
Berbagai bisnis dengan memanfaatkan SMS komersial berbalut acara-acara lomba hanyalah perjudian dalam bentuk lain. Setelah porkas, SDSB maupun lainnya dilarang, maka bentuk seperti inilah yang saat ini lagi marak. Pemirsa tidak sadar dengan mengirim SMS sebanyak-banyaknya pada jagonya masing-masing hanyalah menguntungkan penyelenggara. Demikian pula para peserta, tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk mengirim SMS pada diri mereka. Hal ini dilakukan agar mereka lolos tahap demi tahap dalam ajang lomba tersebut. Ajang lomba ini seolah-olah menjadi dewa penyelamat mereka untuk merubah nasib. Menjadi terkenal itulah impian yang ingin diraih. Namun terbukti sudah hanya segelintir dari mereka yang sampai saat ini mampu bertahan di jalur hiburan saat ini.
Dalam kasus SMS komersial ini hendaknya pemerintah harus mewaspadai akan efek negatif yang ditimbulkan. Harus benar-benar diatur secara ketat. Apa yang dilakukan Roncar harus dilarang karena sudah melenceng dari ranah bisnisnya. Demikian masyarakat pemirsa pun harus jeli. Mereka harus bisa memiliah-milah acara-acara TV yang ditontonnya. Ada acara yang betul-betul menghibur dan tidak sedikit pula yang menguras kantong mereka melalui SMS-SMS yang dikirimkannya.
09 Juni 2008
Pintar Itu Berbahaya........
Di daerah Tebet tempat tinggal saya saat ini telah menjadi kantong bisnis lembaga-lembaga yang mengais rejeki di bidang pendidikan. Bahkan peningkatannya luar biasa. Bertebaran lembaga-lembaga tersebut tidak hanya yang sudah punya nama seperti Primagama, Ganesha, lembaga-lembaga baru pun mencari peruntungan di bidang ini. Belum lagi yang menawarkan secara instan untuk menjadi ahli matematika dengan berbagai metode dari sempoa, kumon dan metode lainnya. Bisnis ini pun telah meraup miliaran rupiah. Timbul pertanyaan kenapa bisnis ini menjadi marak?. Di tengah himpitan biaya hidup yang semakin berat karena kenaikan BBM, para orang tua rela menyisihkan dana jutaan rupiah untuk memasukkan anak-anaknya ke lembaga tersebut. Lulus UAN (ujian Akhir Nasional) yang nampaknya dibidik oleh para orang tua.
UAN saat ini telah menjadi momok yang menakutkan. Jutaan siswa harus gigit jari karena gagal melewati nilai batas minimal yang ditetapkan pemerintah. Bahkan ada sekolah yang tidak ada satu pun siswa yang lulus UAN. Kelulusan mereka hanya ditentukan dalam hitungan hari bahkan lamanya jam ujian. Itu pun hanya hanya beberapa mata pelajaran yang dianggap mampu merepresentasikan kepintaran siswa. Pelajaran lain seakan-akan hanya menjadi asesoris saja. Pendidikan yang mereka jalani selama 3 (tiga) tahun seakan-akan tidak ada artinya dibandingkan dengan UAN tersebut. Kondisi ini yang menyebabkan para orang tua dan guru berjibaku untuk berkonsentrasi hanya pada mata pelajaran yang diujikan dalam UAN.
Sekolah-sekolah dianggap sukses apabila mampu meluluskan sebagian besar atau 100% siswanya. Tidak heran untuk mengejar ambisi ini para siswa harus mengikuti pelajaran tambahan. Merasa bekal di sekolah tidak cukup para orang tua memasukkan anak-anaknya ke lembaga-lembaga kursus. Malam harinya anak-anak masih dipaksa belajar oleh orang tuanya yang ketakutan anaknya tidak lulus UAN. Semua energi dicurahkan pada mata pelajaran yang diujikan di UAN. Porsi pelajaran yang lain semakin terpinggirkan. Anak-anak diarahkan untuk menjadi pintar namun melupakan esensi yang hemat saya sangat penting yaitu pelajaran budi pekerti. Padahal anak pintar tidak berbudi jauh berbahaya dibandingkan kurang pintar namun mempunyai budi pekerti yang baik.
Pintar saja hemat saya tidak cukup. Sebaiknya generasi muda dibekali tidak hanya pintar tetapi juga mempunyai akhlak yang mulia. Masa depan negara ini akan suram seandainya generasi muda hanya mengandalkan kepintaran saja. Sudah dipastikan karena budi pekertinya kurang baik, mudah terjadi friksi maupun pertentangan antar mereka. Belum lagi kalau kepintaran itu dipergunakan untuk mengejar ambisi diri sendiri tanpoa memikirkan kepentingan banyak pihak. Bisa terjadi malah membahayakan kehidupan manusia. Dapat kita bayangkan betapa berbahayanya nuklir kalau dipergunakan sebagai mesin perang dibandingkan untuk energi alternatif.
Saya tidak alergi bahwa anak didik menjadi pintar. Bahkan sangat setuju kalau generasi muda ke depan sudah seharusnya lebih pintar dari kita. Kepintaran saja yang dikejar tanpa dimbangi pendidikan budi pekerti malah menjadi berbahaya. Kalau dihadapkan pada dua pilihan yang ekstrem yaitu anak pintar tidak berbudi dan anak kurang pintar tapi berbudi saya akan menetapkan pilihan pada alternatif kedua. Saya yakin anak yang kurang pintar namun mempunyai kelakukan yang santun, tenggang rasa dan suka menolong akan membuat hidup saya menjadi tenang. Sebaliknya anak pintar namun mempunyai kelakukan yang buruk akan membuat hidup saya penuh dengan kekhawatiran. Takut perbuatannya mencelakakan orang lain, bahkan bukan tidak mungkin terhadap kita juga tidak ada rasa hormat sebagai orang tua. Kalau pintar yang seperti inilah yang tidak penting dan harus kita hindari. Tentu yang ingin saya tekankan dalam mendidik anak adalah menjadikan mereka pintar dan berbudi luhur.
Tulisan saya kali ini bukannya menentang sistim pendidikan yang diharapkan melahirkan anak-anak pintar dan berbakat. Namun sisi yang perlu saya tonjolkan adalah sebaiknya kita jangan melupakan pendidikan budi pekerti. Artinya walaupun UAN sudah ditasbihkan menjadi keharusan yang harus dilewati siswa, akan tetapi para guru dan orang tua hendaknya jangan bosan-bosannya untuk tetap memberikan porsi yang besar bagi pendidikan akhlak pada anak didik atau anaknya. Harus kita ingat kekuatan bangunan ditentukan oleh seberapa kokohnya fondasi bangunan tersebut. Demikian pula pada anak-anak kita kalau kita dari kecil telah membekali mereka dengan dasar pendidikan agama yang kuat sudah dipastikan mereka tidak akan mudah goyah dari pengaruh negatif yang siap menerkamnya. Semoga.
04 Juni 2008
SEMANGAT PAGI
Percakapan menarik saya simak dari radio saat perjalanan menuju kantor. Masalah yang diangkat adalah berpikir positif. Sebenarnya tema seperti ini sudah sering saya dengar dan juga saya baca dari berbagai buku. Tapi penjelasan yang disampaikan melalui radio cukup menarik karena selain dilakukan interaktif juga diberikan contoh-contoh yang mudah untuk dicerna.
Ternyata banyak manfaat yang dapat kita petik dari berpikir positif. Pikiran kita menjadi tenang karena sesuatu dilihat dari sisi baiknya. Saat menghadapi pekerjaan menumpuk dan dikejar dengan dead line, kita menganggap bahwa pekerjaan tersebut suatu tantangan yang akan membawa peningkatan karir yang lebih baik. Satu ungkapan menarik yang saya sitir dari percakapan tersebut adalah motto yang dilontarkan oleh seorang penelpon yaitu ”semangat pagi”. Menurut saya motto ini luar biasa karena memberikan dorongan motivasi yang kuat. Pagi hari adalah saat mulai kita beraktivitas. Semangat yang ditanamkan dalam sanubari kita jelas akan memompa gairah kita untuk mengerjakan seluruh aktivitas kita menjadi lebih baik. Kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan akan membuat hidup kita menjadi menyenangkan.
Berpikir positif tentu tidak serta merta meninggalkan kewaspadaan kita. Tidak boleh membabi buta harus juga dilakukan dengan berhati-hati. Misalnya ada orang yang tidak kita kenal tiba-tiba ingin menginap di rumah kita. Dalam pikiran kita pasti akan berfikir siapa orang asing tersebut, kenapa sampai kemalaman dan tujuannya datang ke kota ini mau apa. Kalau kita hanya mengandalkan cara berpikir positif kita beranggapan si orang asing tersebut pasti kemalaman dan tidak punya uang yang cukup sehingga butuh tumpangan untuk menginap. Waspada harus kita lakukan dengan melakukan berbagai hal yang dapat mengurangi kemungkinan terburuk. Bisa saja kita meminta identitasnya, melapor kepada RT dan mengamankan harta-harta kita dari kemungkinan dicuri oleh si orang asing tersebut.
Pernah kejadian yang saya alami mirip dengan contoh yang saya berikan. Saat tengah malam menunggu kereta terakhir dari Semarang yang membawa istri, saya melihat seorang ibu yang kelihatan cemas duduk di ruang tunggu. Penasaran saya hampiri Ibu tersebut. Ternyata dia dari Jawa yang menyusul suaminya yang dinas di Bogor. Berhubung waktu sudah tengah malam maka dia harus menunggu jadual kereta paling pagi untuk pergi ke Bogor. Malam itu terpaksa harus menginap di stasiun. Sambil mendengarkan cerita ibu tersebut saya pandangan saya arahkan di sekeliling. Tidak ada satupun wanita yang tidur di Stasiun. Karena berpikir positif maka saya tawarkan Ibu tersebut untuk menginap di rumah saya. Terus terang tidak sampai hati saya melihat seorang Ibu tidur di tempat yang rawan dengan kriminalitas.
Keputusan tersebut akan saya diskusikan dengan istri. Alahmadullilah saat hal tersebut kusampaikan ke Istri ternyata setuju. Satu malam Ibu tersebut mengindap di rumah dan paginya saya antarkan ke stasiun. Namun kewaspadaan tetap saya lakukan. Selain melapor pada ketua RT, saat menginap di rumah si Ibu tersebut ditemani oleh Ibu saya.
Berpikir positif selain membuat hati tenang juga dapat meningkatkan produktivitas kita. Pikiran yang selalu melihat sisi baik dari setiap masalah maka akan mendorong kita bekerja lebih baik. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Setiap sisi buruk sseorang pasti ada sisi baiknya. Setiap ada musibah pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya kalau kita berpikir negatif yaitu melihat sisi buruk dari suatu masalah akan membuat hidup kita susah. Pikiran kita menjadi tidak tenang, takut dan konflik dengan banyak orang. Lebih berbahaya kalau pikiran negatif menguasai kita bisa membuat kita menjadi apatis dan mudah putus asa.
Auditor yang biasa mempratekkan negative thinking untuk melakukan pemeriksaan juga sudah sedikit demi sedikit merubah paradigma tersebut. Saat ini pendekatan yang mereka lakukan pada kliennya lebih kepada mitra kerja dibanding antara pemeriksa dan yang diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan diharapkan dapat memperbaiki kinerja organisasi yang diperiksanya. Namun bagi oknum yang melakukan perbuatan melanggar hukum tetap mendapatkan sanksi sesuai dengan perbuatannya.
Dari acara bincang-bincang di pagi hari tersebut, saya sudah menetapkan dalam hati saya mulai saat ini berpikir postif menjadi motto hidup saya. Tentu dukungan istri dan anak sangat diperlukan. Oleh karena itu sudah sewajarnya kalau satu keluarga menerapkan prinsip ”Semangat pagi” yang dilontarkan oleh seorang penelepon pada diskusi mengenai berpikir positif. Saya yakin dan percaya bahwa kehidupan sayadan keluarga akan lebih bermakna kalau saya bisa menerapkan prinsip ini dengan baik. Semoga.
BLT- BIKIN LANGSUNG TERPURUK- RAKYAT MISKIN
Tidak peduli besarnya gelombang protes yang dilancarkan banyak pihak, pemerintah SBY-JK bersikeras program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetap jalan terus. Pemerintah berkilah BLT mampu mengentaskan masyarakat miskin dari himpitan kenaikan harga yang dipicu oleh melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Paket ini menelan biaya sampai sebesar Rp14,1 triliun dan diharapkan dapat menolong sebanyak 19,1 juta orang miskin. Benarkah BLT mampu mencapai tujuan tersebut?
Di tengah meroketnya kebutuhan hidup, BLT sebesar Rp100.000 per bulan selama 7 bulan hanya mampu untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup warga miskin. Dalam hitungan hari uang tersebut akan habis. Setelah itu, roda kehudupan penerima BLT kembali berputar untuk dapat bertahan hidup. Tidak hanya itu, BLT mengajarkan pada masyarakat miskin untuk menjadi bangsa pengemis. Jiwa pemalas menjadikan kehidupan mereka semakin sulit. BLT yang melenceng dari sasaran bisa diplesetkan, Bikin Langsung Terpuruk bagi rakyat miskin. Kalau tidak tepat sasaran bukan tidak mungkin BLT malah menambah masalah baru.
Berbagai persoalan yang mengemuka pada BLT 2005 seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Banyak kasus mewarnai BLT dari data penerima yang kurang akurat, dana yang disunat, aksi anarkis masa sampai pelaksanaan pembagian dana yang berantakan. Namun itu semua tidak membuat pemerintah menjadi jera. Bahkan tanpa persiapan matang BLT 2008 ini seolah jadi senjata pemungkas untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Tragisnya, walau sudah tidak up to date pemerintah menggunaan data 2005 sebagai dasar pembagian BLT. Seharusnya pemerintah memperbaharui data tersebut karena selama 3 tahun bukan tidak mungkin sudah banyak terjadi perubahan. Selain itu pada 2005 disinyalir penerima BLT termasuk warga yang masih tergolong mampu. Ironisnya warga yang benar-benar miskin malah tidak termasuk dalam daftar. Hal ini bisa terjadi karena permainan oknum petugas lapangan.
Pelaksanaan pembagian BLT tidak semulus yang diperkirakan. Tidak sedikit aparat kelurahan/ desa yang menjadi garda terdepan pelaksanaan BLT menjadi sasaran kemarahan masa. Tidak puas dengan pelaksanaan BLT mereka mengintimidasi para petugas. Kondisi ini menjadi peristiwa traumatis bagi mereka. Tidak berlebihan kalau mereka menentang keras pelaksanaan BLT 2008 ini. Namun ancaman sangsi yang akan dikenakan petugas yang menolak BLT menyurutkan langkah penentangannya.
Bahaya utama yang perlu diwaspadai dari peluncuran program BLT adalah menjadikan mental pengemis bagi kaum miskin. Budaya ini jelas sangat merugikan. Seharusnya bantuan kail jauh lebih baik daripada ikan. Bekerja menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan hidup yang dihadapi rakyat miskin. Bukan mustahil dengan bekerja suatu saat mereka mampu keluar dari jeratan kemiskinan. Sementara BLT hanya menjadikan mereka menjadi bangsa pemalas.
Langkah yang ditempuh pemerintah dalam program BLT ini nampaknya hanya untuk mengatasi permasalahan jangka pendek tidak menyentuh pada akar permasalahan. Uang berapapun diberikan akan habis dalam waktu sekejap. Berbeda dengan bekal keahlian maupun ketrampilan akan mendatangkan uang bukan menghabiskan uang. Bantuan berupa modal kerja, ketrampilan, pendidikan maupun bantuan lainnya merupakan langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah. Mengintensifkan Balai Latihan Kerja, mendirikan bank-bank mikro, dan memberikan bantuan ketrampilan lainnya jauh lebih baik dibandingkan BLT.
Kita pun seharusnya bisa menyerap pelajaran berharga dari bangsa Jepang. Kekalahan perang, kondisi negara yang hancur lebur dihantam bom atom dan sumber daya alam yang tidak bersahabat bukanlah menjadi halangan bagi mereka untuk maju. Mereka selalu bekerja keras untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kegigihan mereka telah membawa bangsa Jepang menjadi bangsa yang makmur.
BLT bukan solusi terbaik. Potensi bahayanya lebih besar dari manfaat yang ingin diraih. Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah mengganti program BLT dengan program yang lebih baik. Memberikan kail jauh lebih baik daripada ikan. Kalau itu semua bisa dijalankan dapat dipastikan akan terbuka kesempatan kerja yang luas bagi rakyat miskin. Ke depan istilah BLT dapat diplesetkan menjadi Buka Lapangan Tenaga Kerja. Semoga.
08 Mei 2008
Arti Ekonomi Pemilihan Presiden AS
Genderang perebutan kursi kepresidenan Amerika Serikat telah riuh ditabuh. Kandidat-kandidat presiden dari Partai Demokrat dan Republik telah menyelesaikan pemilihan pendahuluan tingkat partai (primary) di Iowa dan New Hampshire.
Pemilihan-pemilihan pendahuluan di negara bagian lain segera menyusul. Ujungnya, sebanyak 20 negara bagian serentak akan menyenggarakan pemilihan pendahuluan pada Selasa, 5 Februari 2008. Pada hari itu, dikenal dengan Super Tuesday, akan muncul masing-masing satu pemenang dari Partai Demokrat dan Partai Republik untuk bertarung memperebutkan kursi kepresidenan pada bulan November mendatang.
Meski masih sekitar 4 minggu lagi menuju Super Tuesday, praktis kini tinggal dua kandidat Partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton, yang berebut tiket partai ke pemilihan presiden. Persaingan tiket Partai Republik sebaliknya masih terbuka dan sulit ditebak, dengan Mitt Romney, Mike Huckabee, John McCain, dan Rudi Guiliani berpeluang sama besar.
Apa arti ekonomi Pemilihan Presiden AS kali ini? Di tengah ekonomi AS yang melambat sebagai dampak krisis kredit subprime dan tingginya harga minyak, Presiden Bush diyakini memilih kebijakan ekonomi populis untuk mendongkrak popularitas di tahun pemilu 2008. Lalu apa kira-kira kebijakan ekonomi yang ditempuh Obama, Clinton, dan kandidat Partai Republik bila terpilih sebagai Presiden AS? Dengan pangsa hampir 20% terhadap PDB dunia, pemilihan presiden di AS berpengaruh besar bukan hanya bagi ekonomi AS tapi juga dunia ke depan.
Political Business Cycle
Pendekatan Political Business Cycle (PBC) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun sebelum pemilu AS rata-rata lebih tinggi daripada tahun sesudahnya. Politikus digambarkan dalam PBC sebagai pihak yang hanya mengedepankan keuntungan diri sendiri, yang belum tentu sejalan dengan kepentingan masyarakat. Dengan pemilih cenderung hanya memiliki perspektif jangka pendek, dorongan begitu besar bagi politikus untuk memanipulasi kebijakan ekonomi guna memaksimalkan kepentingan, yakni (tetap) duduk di pemerintahan.
Data mendukung prediksi PBC ini. Rata-rata pertumbuhan PDB AS per tahun pada tahun keempat baik pemerintahan Demokrat maupun Republik sejak tahun 1949 tercatat sebesar 3,7%, atau 0,3% lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata pada tahun pertama. Hanya prediksi PBC bahwa tingkat inflasi rata-rata pada tahun keempat pemerintahan yang seharusnya lebih tinggi daripada tahun pertama tidak sepenuhnya didukung oleh data.
Cukup realistiskah peluang Bush meluncurkan kebijakan populis di tahun terakhir pemerintahannya? Bila jawabannya positif, apa dampaknya pada ekonomi 2008?
Ekonomi AS terancam melambat, meski masih jauh dari resesi. Krisis kredit subprime dikuatirkan telah menyeret sektor ekonomi lain. Indeks manufaktur ISM kini turun di bawah 50. Pasar saham AS mengalami tekanan jual. Angka pengangguran Desember melonjak ke 5% dari 4,7% bulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menopang ekonomi terancam melemah. Data-data terakhir mengindikasikan ekonomi AS di tahun 2008 tumbuh sekitar 2%, terendah dalam lima tahun terakhir.
Tekanan inflasi sebaliknya merangkak naik. Inflasi inti PCE, rujukan inflasi terpenting bagi Federal Reserve, terakhir tercatat 2,2% per tahun, di atas rentang toleransi Federal Reserve sebesar 1-2%. Tingginya harga minyak dan penurunan suku bunga kebijakan fedfund beberapa waktu lalu telah mendorong kenaikan ekspektasi inflasi ke depan.
Di tengah kondisi ekonomi tersebut, tidak heran bila isu ekonomi menurut hasil jajak pendapat Associated Press-Ipsos terakhir telah dianggap sama pentingnya dengan perang Irak di mata masyarakat pemilih. Dengan ketidak-pastian seputar kesempatan kerja, perumahan, pasar saham, harga BBM berlanjut, masalah ekonomi diyakini akan menjadi isu paling dominan dalam pemilihan presiden AS.
Desakan bagi Bush untuk meluncurkan paket stimulus ekonomi terdengar di sana-sini. Presiden Bush sendiri awal tahun ini mengakui bahwa ekonomi AS memasuki masa yang sulit. Bush diperkirakan akan mengumumkan paket kebijakan untuk mencegah resesi pada kesempatan penyampaian State of Union pada 28 Januari mendatang. Menyimak pola kebijakan Bush terdahulu, paket kebijakan tersebut kemungkinan besar berupa pemotongan bea pajak secara menyeluruh.
Paket kebijakan ekonomi dimaksud dan paket bantuan bagi sebagian nasabah kredit subprime yang telah diluncurkan Bush akhir tahun lalu diharapkan dapat menahan perlambatan ekonomi AS di tahun 2008. Ekonomi AS diharapkan mendapat stimulus tambahan apabila Federal Reserve memotong suku bunga kebijakan sebesar 50 bps pada pertemuan akhir bulan ini seperti diperkirakan banyak kalangan. Namun, tidak ada makan siang gratis. Semua langkah tersebut berisiko makin meningkatkan tekanan inflasi AS ke depan.
Platform Ekonomi Kandidat Presiden
Siapapun pemenang pemilihan presiden 2008 akan mewarisi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan. Defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan masih membebani. Ekonomi melambat dan tekanan inflasi relatif tinggi. Krisis kredit subprime dan tingginya harga minyak dunia kemungkinan juga belum akan berakhir.
Selain isu perang Irak dan pemanasan global, kandidat-kandidat presiden dari Partai Demokrat kini cenderung mengedepankan tema ekonomi. Mereka setuju paket stimulus ekonomi, dengan memotong pajak khususnya untuk kelompok pekerja dan menengah. Mereka juga menginginkan pelayanan kesehatan untuk setiap orang. Keseimbangan anggaran ditempuh dengan menaikkan pajak untuk kelompok kaya.
Dua kandidat favorit Partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton, menempati titik yang hampir sama dalam spektrum ideologi dibandingkan dengan kandidat presiden lainnya dari Partai Demokrat dan Partai Republik. Mereka berada di sebelah kanan John Edwards, kandidat ketiga Partai Demokrat yang masih bertarung dalam pemilihan pendahuluan, yang menginginkan peran aktif pemerintah. Mereka sebaliknya berada di sebelah kiri dari semua kandidat Partai Republik.
Meski demikian, Obama dan Clinton berbeda tentang bagaimana pemerintah bekerja. Pola kebijakan ekonomi Hillary Clinton diyakini merupakan warisan Bill Clinton suaminya. Pola itu didasari kombinasi antara peran aktif pemerintah dan agen ekonomi yang rasional. Pada prakteknya pola diwarnai oleh kebijakan-kebijakan yang terfokus untuk mendorong perilaku ekonomi tertentu, seperti keringanan pajak untuk biaya kuliah, pelayanan kesehatan, dan tabungan pensiun.
Obama menganut pandangan yang lebih realistis dan meragukan rasionalitas sempurna dari agen ekonomi. Menurutnya, kebijakan yang sederhana dan mudah dipahami adalah lebih efektif. Obama misalnya mengusulkan keringanan pajak USD1.000 bagi semua keluarga yang berada dalam kelompok pendapatan 90% terbawah.
Kandidat-kandidat Partai Republik umumnya masih membawa tema-tema ekonomi konservatif, seperti pajak rendah, disiplin fiskal, dan deregulasi peraturan. Namun berbeda dengan pemerintahan Bush yang gemuk, mereka ingin kembali memiliki pemerintahan yang ramping dan memangkas belanja pemerintah secara besar-besaran.
Dalam isu perdagangan luar negeri, hampir semua kandidat presiden mengambil sikap yang cenderung sama, yakni lebih proteksionis. Obama sejak awal menyuarakan tentangannya terhadap kebijakan pro-liberalisasi perdagangan Presiden Bush. Kebijakan tersebut dianggap hanya merugikan kepentingan pekerja AS dan menguntungkan China.
Hillary Clinton, yang suaminya menggolkan perjanjian perdagangan NAFTA, juga cenderung menghindar isu yang tidak populer bagi kalangan pekerja ini. Terlebih defisit perdagangan AS dengan China kini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sikap yang sama ditempuh kandidat-kandidat Partai Republik yang secara tradisionil sebenarnya mendukung perdagangan bebas dunia.
Penutup
Arti ekonomi pemilihan presiden AS layak dicermati. Di tengah ancaman perlambatan ekonomi, kebijakan ekonomi pro-pertumbuhan diperkirakan ditempuh oleh Presiden Bush dan penggantinya. Harga yang harus dibayar adalah tekanan inflasi yang tetap tinggi ke depan. Defisit fiskal diperkirakan akan berkurang sehubungan dengan langkah-langkah disiplin anggaran. Defisit transaksi berjalan diyakini akan turun signifikan sebagai dampak lemahnya dollar Amerika dan dominannya semangat proteksionisme dalam kebijakan perdagangan luar negeri AS ke depan.
26 Maret 2008
Financial Exclusion
Penerbit : Palgrave Macmillan, New York USA
Halaman : xv + 184, (2005)
Oleh : Heri Ispriyahadi
Tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga keuangan baik perbankan maupun non bank memainkan peranan yang sangat penting untuk mendukung kemajuan perekonomian suatu negara. Dengan memainkan fungsi sebagai lembaga intermediary perbankan dapat berperan untuk menampung pihak-pihak yang kelebihan dana (deposan) dan menyalurkan kepada investor sebagai pihak yang membutuhkan dana. Demikian pula untuk lembaga keuangan non bank seperti asuransi, leasing, modal ventura dan lembaga lainnya dapat berperan secara aktif sesuai dengan bidang kegiatannya masing-masing. Mengingat sedemikian penting peran yang dimainkan, maka diperkirakan semakin maju suatu negara maka fasilitas yang disediakan lembaga-lembaga keuangan menjadi menu sehari-hari kebutuhan masyarakatnya baik kalangan bisnis maupun non bisnis. Namun dalam kenyataannya, di negara-negara maju masih terdapat sebagian masyarakat yang sama sekali tidak tersentuh dan bersinggungan dengan pelayanan dan fasilitas yang disediakan lembaga-lembaga keuangan karena berbagai alasan yang bermuara pada pokok permasalahan utama yaitu kemiskinan. Kondisi ini dikenal dengan istilah “Financial Exclusion”.
Buku ini ditulis dengan semangat mengangkat topik financial exclusion yang menjadi sorotan utama di negara USA, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya karena terindikasi semakin bertambah masyarakat yang tidak merasakan jasa pelayanan lembaga keuangan. Selain mengupas secara luas hasil kajian perbandingan financial exclusion di negara-negara maju tersebut, penulis buku ini juga menyajikan dan mendiskusikan financial exclusion di negara-negara berkembang. Tujuan sajian 2 kutub yang berbeda mengenai financial exclusion yaitu di negara-negara maju dan berkembang dengan pertimbangan beberapa hal yaitu mendapatkan gambaran secara mendalam mengenai sudut pandang yang berbeda mengenai masalah tersebut, konsekuensi ekonomi yang terjadi, pemilihan kebijakan yang akan dilakukan dan menghasilkan analisis informasi strategis yang menyajikan dampak financial exclusion bagi perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
Aspek-aspek yang menjadi penyebab terjadinya financial exclusion adalah Access exclusion, condition exclusion, price exclusion, marketing exclusion dan self exclusion (halaman 5). Sebagai gambaran, saat ini di Inggris sekitar 1,5 juta (7%) dari kelompok rumah tangga mengalami kekurangan pelayanan produk-produk keuangan. Faktor penting yang secara langsung dan tidak langsung menyumbang terjadinya financial exclusion adalah restrukturisasi industri keuangan pada tahun 1980 an dan tahun 1990 an. Pada tahun 1980 an, industri keuangan di Inggris mengarah pada segmentasi customer dan pada periode resesi tahun 1990 an lebih menekankan kualitas pada customer yang berdampak terjadinya financial exclusion. Masalah financial exclusion tidak hanya menarik kalangan pemerintah Inggris namun juga industri lembaga keuangan dan consumer groups. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah Inggris mendirikan the Social Exclusion Unit (SEU) yang didukung oleh Bank of England dan Financial Service Authority (FSU) melalui sejumlah penelitian dam mereview kebijakan tentang financial exclusion. Dengan demikian Inggris lebih menggunakan pendekatan partnership yang melibatkan pemerintah pusat, pembuat kebijakan, pemerintah lokal, organisasi komersil dan non komersil untuk mengatasi masalah financial exclusion.
Walau dikenal memiliki perbankan dan industri keuangan terkemuka di dunia, ternyata financial exclusion juga masih menjadi masalah di Amerika terbukti pada tahun 2001 dari survey yang diadakan oleh the Survey of Consumer Finances (SCF) terdapat 9,0 % keluarga tidak memiliki giro maupun tabungan terutama pada keluarga berpendapatan rendah. Berdasarkan penelitian alasan utama dibalik permasalahan tersebut adalah tidak ada sisa uang yang dapat ditabung setiap bulannya. Selain alasan tersebut biaya bank dan saldo minimum merupakan faktor lain yang menjadi penyebab keluarga miskin di AS tidak berhubungan dengan bank. Dalam menghadapi financial exclusion, pemerintah Amerika lebih memilih pendekatan regulasi yaitu dengan mengeluarkan Community Reinvesment Act (CRA) yang dikeluarkan pada tahun 1977 dan terus dilakukan modifikasi. Tujuan dikeluarkannya CRA tersebut adalah untuk menjamin agar lembaga keuangan dapat menyalurkan kredit sesuai dengan komunitasnya. Selain CRA, pemerintah AS juga mengeluarkan regulasi pada tahun 1999 yang meminta semua negara federal untuk transfer pembayaran dilakukan secara elektronik yang dikenal dengan nama Electronic Transfer Account (ETAs). Kelebihan dengan sistim ini adalah tidak diperlukan lagi saldo minimum.
Dalam European Union (EU), financial exclusion menjadi masalah besar dan menjadi permasalahan yang serius untuk diatasi. Namun dengan beragamnya baik sistim dan kondisi perbankan di negara-negara Eropa, maka model yang dipergunakan untuk mengatasi financial exclusion juga berbeda. Negara-negara Spanyol, Yunani, Irlandia dan Italia yang mempunyai karakteristik relatif rendah penggunaan banking service, dalam mengatasi financial exclusion lebih menekankan pada agenda politik. Sementara negara-negara seperti Perancis, Jerman dan Belgia, opini masyarakat dan perhatian pemerintah telah merangsang asosiasi-asosiasi professional untuk mengembangkan kontrak-kontrak yang berhubungan dengan masalah financial exclusion. Namun dalam mengatasi masalah financial exclusion di Eropa peran perbankan merupakan faktor kunci.
Meskipun disadari bahwa perbankan dan lembaga keuangan di negara-negara berkembang masih jauh tertinggal dengan lembaga keuangan di negara maju, namun financial exclusion yang terjadi di negara-negara berkembang tetap menarik untuk dikaji. Financial exclusion di negara-negara berkembang terkait dengan jumlah penduduk miskin yang relatif besar dan ketiadaan sumber-sumber modal. Selain faktor tersebut juga terkait erat masalah kelembagaan yaitu belum berkembangnya lembaga-lembaga keuangan yang efisien ditambah masalah struktur sosial ekonomi pedesaan yang jauh dari jangkauan lembaga keuangan. Untuk mengatasi masalah financial exclusion terutama di pedesaan tersebut, terdapat 2 alternatif yang dapat dikembangkan yaitu melalui pengembangan informal lembaga keuangan maupun micro finance. Kedua cara tersebut untuk mengatasi permasalahan relatif mahal biaya yang harus ditanggung perbankan apabila akan mendirikan cabangnya di pedesaan. Sehubungan dengan hal tersebut, the Grameen Bank merupakan contoh keberhasilan micro finance yang dikembangkan di pedesaan negara Bangladesh. Grameen bank yang lebih menfokuskan pada keluarga miskin didirikan oleh Professor Muhammad Yunus pada tahun 1976 dan pada posisi bulan Juli 2004 mempunyai 1.267 cabang yang melayani 46.000 desa atau lebih 68% dari total desa di Bangladesh.
Kelebihan buku ini terletak pada kemampuan penulis untuk menyusun alur bahasan yang runtut dari permasalahan financial exclusion secara umum dan diikuti dengan pembahasan secara mendalam untuk kasus-kasus financial exclusion di negara Inggris, Amerika dan negara-negara Eropa lainnya. Dengan mengangkat masalah financial exclusion di negara-negara berkembang membuat buku menjadi lebih menarik karena penulis mencoba untuk membuka wawasan pembaca mengenai perbandingan permasalahan financial exclusion antara negara maju dan berkembang yang dapat dipastikan memiliki kondisi lembaga keuangan yang sangat berbeda. Selain itu, buku ini dikemas dengan bahasa ilmiah dan dilengkapi dengan hasil-hasil penelitian baik yang dilakukan kalangan universitas, perbankan, bank sentral maupun lembaga–lembaga peneliti membuat isi buku ini cukup berbobot. Buku ini akan menjadi lebih menarik apabila penulis dapat melengkapi masalah financial exclusion yang terjadi di negara-negara Afrika dan Asia Pasific. Namun demikian, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini sangat baik untuk menjadi acuan praktis terutama kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya untuk mengatasi masalah-masalah financial exclusion pada masing-masing negaranya. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah perbankan, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan masalah-masalah yang dihadapi perbankan di negara-negara lain.