Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

30 Januari 2009

Resensi Buku : MEMPERERAT HUBUNGAN DENGAN SANG KHALIK

Oleh: Heri Ispriyahadi

Judul : Mukjizat Shalat Malam : Pembuka Pintu Kesuksesan & Kebahagiaan
Pengarang : H. Roni Tabrono
Penerbit : DAR! Mizan
Halaman : 186 halaman
Cetakan : Pertama (Januari 2009)


Aku dekat engkau dekat, aku jauh engkau jauh”, adalah bait penggalan lagu yang dinyanyikan Bimbo. Bait ini sangat cocok untuk menggambarkan hubungan manusia dengan sang khalik. Allah SWT akan menyayangi hambanya yang rajin dan taat beribadah. Sebaliknya mengacuhkan orang-orang yang sengaja menjauh dari Nya. Kendaraan apa yang sangat ampuh untuk membina hubungan mesra dengan Allah SWT?. Ternyata shalat tahajud menjadi jawabannya. Shalat ini adalah ibadah sunah yang menduduki ranking tertinggi. Keutamaan shalat Tahajud tidak diragukan lagi.

Bagi yang rutin menjalankan shalat tahajud dengan ikhlas akan memperoleh kemulian baik di dunia maupun akhirat. Siapapun sangat dianjurkan untuk menjalankan shalat malam ini. Tidak kecuali para remaja yang menjadi target dari buku ini. Sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang, para remaja harus digarap dengan serius. Mereka perlu dibimbing dan diarahkan agar tidak terjerumus pada tindakan yang negatif seperti narkoba atau tindakan kriminal lainnya.

Masa remaja merupakan masa yang labil karena saat pencarian jati diri. Apabila pencariannya tepat sasaran, mereka akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dewasa dalam berfikir maupun bertindak. Namun sebaliknya, salah bergaul akan membawa bencana di kemudian hari. Oleh karena itu, para remaja perlu bimbingan, arahan dan petunjuk yang mengantarkan mereka pada jalan kebenaran. Melalui buku ini, penulis mengajak para pembaca remaja agar menjadikan shalat tahajud menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Untuk menggapai tujuan tersebut, penulis membedah secara tuntas mengenai shalat tahajud. Ternyata banyak keistemewaan yang akan kita unduh dengan melakukan shalat tahajud.
Penulis menyadari bahwa para remaja sulit ditaklukkan hanya dengan sentuhan penjelasan berdasarkan tuntunan agama. Fakta dan hasil-hasil studi empiris diperlukan untuk memperkuat argumentasi keutamaan shalat tahajud. Melalui pendekatan ini, para remaja terbuka pikirannya betapa dasyatnya mukjizat yang terkandung shalat sunah tahajud.

Tidak dipungkiri bahwa musuh terbesar yang dihadapi kita bukan tentara musuh dengan peralatan yang super canggih. Namun musuh tersebut berada pada diri kita sendiri. Setan yang berada disekiling kita akan selalu berupaya menggagalkan kita agar tidak menjalankan shalat tahajud. Terlebih shalat malam ini dilakukan di tengah malam saat orang lain terlelap tidur dengan nyenyaknya. Rasa kantuk dan malas merupakan godaan terberat. Apalagi kalau semalaman kita begadang. Namun kesemua itu akan sirna setelah membaca dan menghayati isi buku ini. Dalam buku ini para pembaca remaja akan memperoleh tip-tip mengenai tidur dan shalat tahajud serta bagaimana agar terbiasa menjalankan shalat tahajud.

Sistematika dan alur penulisan buku ini tertata rapi dan runtut. Namun gaya bahasa populer yang dipilih masih tergolong standar. Padahal sasaran yang dituju ini adalah kaum remaja. Akan lebih menarik kalau penulis mampu membawakan gaya tulisan yang disukai anak muda. Bahasa gaul dan jargon-jargon yang populer di kalangan remaja bisa dipertimbangkan untuk diselipkan. Strategi ini diharapkan dapat membawa emosi para remaja larut didalamnya. Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini layak dikonsumsi para remaja. Kehadiran buku ini diharapkan mampu menjadi perekat para remaja untuk lebih intensif berkomunikasi dengan sang khalik. Kalau shalat tahajud sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri remaja, sudah dipastikan masa depan bangsa ini akan menuju kearah yang lebih baik.

26 Maret 2008

Financial Exclusion

Penulis : Santiago Carbo, Edward PM Gardener dan Philip Molyneux
Penerbit : Palgrave Macmillan, New York USA
Halaman : xv + 184, (2005)

Oleh : Heri Ispriyahadi

Tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga keuangan baik perbankan maupun non bank memainkan peranan yang sangat penting untuk mendukung kemajuan perekonomian suatu negara. Dengan memainkan fungsi sebagai lembaga intermediary perbankan dapat berperan untuk menampung pihak-pihak yang kelebihan dana (deposan) dan menyalurkan kepada investor sebagai pihak yang membutuhkan dana. Demikian pula untuk lembaga keuangan non bank seperti asuransi, leasing, modal ventura dan lembaga lainnya dapat berperan secara aktif sesuai dengan bidang kegiatannya masing-masing. Mengingat sedemikian penting peran yang dimainkan, maka diperkirakan semakin maju suatu negara maka fasilitas yang disediakan lembaga-lembaga keuangan menjadi menu sehari-hari kebutuhan masyarakatnya baik kalangan bisnis maupun non bisnis. Namun dalam kenyataannya, di negara-negara maju masih terdapat sebagian masyarakat yang sama sekali tidak tersentuh dan bersinggungan dengan pelayanan dan fasilitas yang disediakan lembaga-lembaga keuangan karena berbagai alasan yang bermuara pada pokok permasalahan utama yaitu kemiskinan. Kondisi ini dikenal dengan istilah “Financial Exclusion”.
Buku ini ditulis dengan semangat mengangkat topik financial exclusion yang menjadi sorotan utama di negara USA, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya karena terindikasi semakin bertambah masyarakat yang tidak merasakan jasa pelayanan lembaga keuangan. Selain mengupas secara luas hasil kajian perbandingan financial exclusion di negara-negara maju tersebut, penulis buku ini juga menyajikan dan mendiskusikan financial exclusion di negara-negara berkembang. Tujuan sajian 2 kutub yang berbeda mengenai financial exclusion yaitu di negara-negara maju dan berkembang dengan pertimbangan beberapa hal yaitu mendapatkan gambaran secara mendalam mengenai sudut pandang yang berbeda mengenai masalah tersebut, konsekuensi ekonomi yang terjadi, pemilihan kebijakan yang akan dilakukan dan menghasilkan analisis informasi strategis yang menyajikan dampak financial exclusion bagi perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

Aspek-aspek yang menjadi penyebab terjadinya financial exclusion adalah Access exclusion, condition exclusion, price exclusion, marketing exclusion dan self exclusion (halaman 5). Sebagai gambaran, saat ini di Inggris sekitar 1,5 juta (7%) dari kelompok rumah tangga mengalami kekurangan pelayanan produk-produk keuangan. Faktor penting yang secara langsung dan tidak langsung menyumbang terjadinya financial exclusion adalah restrukturisasi industri keuangan pada tahun 1980 an dan tahun 1990 an. Pada tahun 1980 an, industri keuangan di Inggris mengarah pada segmentasi customer dan pada periode resesi tahun 1990 an lebih menekankan kualitas pada customer yang berdampak terjadinya financial exclusion. Masalah financial exclusion tidak hanya menarik kalangan pemerintah Inggris namun juga industri lembaga keuangan dan consumer groups. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah Inggris mendirikan the Social Exclusion Unit (SEU) yang didukung oleh Bank of England dan Financial Service Authority (FSU) melalui sejumlah penelitian dam mereview kebijakan tentang financial exclusion. Dengan demikian Inggris lebih menggunakan pendekatan partnership yang melibatkan pemerintah pusat, pembuat kebijakan, pemerintah lokal, organisasi komersil dan non komersil untuk mengatasi masalah financial exclusion.

Walau dikenal memiliki perbankan dan industri keuangan terkemuka di dunia, ternyata financial exclusion juga masih menjadi masalah di Amerika terbukti pada tahun 2001 dari survey yang diadakan oleh the Survey of Consumer Finances (SCF) terdapat 9,0 % keluarga tidak memiliki giro maupun tabungan terutama pada keluarga berpendapatan rendah. Berdasarkan penelitian alasan utama dibalik permasalahan tersebut adalah tidak ada sisa uang yang dapat ditabung setiap bulannya. Selain alasan tersebut biaya bank dan saldo minimum merupakan faktor lain yang menjadi penyebab keluarga miskin di AS tidak berhubungan dengan bank. Dalam menghadapi financial exclusion, pemerintah Amerika lebih memilih pendekatan regulasi yaitu dengan mengeluarkan Community Reinvesment Act (CRA) yang dikeluarkan pada tahun 1977 dan terus dilakukan modifikasi. Tujuan dikeluarkannya CRA tersebut adalah untuk menjamin agar lembaga keuangan dapat menyalurkan kredit sesuai dengan komunitasnya. Selain CRA, pemerintah AS juga mengeluarkan regulasi pada tahun 1999 yang meminta semua negara federal untuk transfer pembayaran dilakukan secara elektronik yang dikenal dengan nama Electronic Transfer Account (ETAs). Kelebihan dengan sistim ini adalah tidak diperlukan lagi saldo minimum.

Dalam European Union (EU), financial exclusion menjadi masalah besar dan menjadi permasalahan yang serius untuk diatasi. Namun dengan beragamnya baik sistim dan kondisi perbankan di negara-negara Eropa, maka model yang dipergunakan untuk mengatasi financial exclusion juga berbeda. Negara-negara Spanyol, Yunani, Irlandia dan Italia yang mempunyai karakteristik relatif rendah penggunaan banking service, dalam mengatasi financial exclusion lebih menekankan pada agenda politik. Sementara negara-negara seperti Perancis, Jerman dan Belgia, opini masyarakat dan perhatian pemerintah telah merangsang asosiasi-asosiasi professional untuk mengembangkan kontrak-kontrak yang berhubungan dengan masalah financial exclusion. Namun dalam mengatasi masalah financial exclusion di Eropa peran perbankan merupakan faktor kunci.

Meskipun disadari bahwa perbankan dan lembaga keuangan di negara-negara berkembang masih jauh tertinggal dengan lembaga keuangan di negara maju, namun financial exclusion yang terjadi di negara-negara berkembang tetap menarik untuk dikaji. Financial exclusion di negara-negara berkembang terkait dengan jumlah penduduk miskin yang relatif besar dan ketiadaan sumber-sumber modal. Selain faktor tersebut juga terkait erat masalah kelembagaan yaitu belum berkembangnya lembaga-lembaga keuangan yang efisien ditambah masalah struktur sosial ekonomi pedesaan yang jauh dari jangkauan lembaga keuangan. Untuk mengatasi masalah financial exclusion terutama di pedesaan tersebut, terdapat 2 alternatif yang dapat dikembangkan yaitu melalui pengembangan informal lembaga keuangan maupun micro finance. Kedua cara tersebut untuk mengatasi permasalahan relatif mahal biaya yang harus ditanggung perbankan apabila akan mendirikan cabangnya di pedesaan. Sehubungan dengan hal tersebut, the Grameen Bank merupakan contoh keberhasilan micro finance yang dikembangkan di pedesaan negara Bangladesh. Grameen bank yang lebih menfokuskan pada keluarga miskin didirikan oleh Professor Muhammad Yunus pada tahun 1976 dan pada posisi bulan Juli 2004 mempunyai 1.267 cabang yang melayani 46.000 desa atau lebih 68% dari total desa di Bangladesh.
Kelebihan buku ini terletak pada kemampuan penulis untuk menyusun alur bahasan yang runtut dari permasalahan financial exclusion secara umum dan diikuti dengan pembahasan secara mendalam untuk kasus-kasus financial exclusion di negara Inggris, Amerika dan negara-negara Eropa lainnya. Dengan mengangkat masalah financial exclusion di negara-negara berkembang membuat buku menjadi lebih menarik karena penulis mencoba untuk membuka wawasan pembaca mengenai perbandingan permasalahan financial exclusion antara negara maju dan berkembang yang dapat dipastikan memiliki kondisi lembaga keuangan yang sangat berbeda. Selain itu, buku ini dikemas dengan bahasa ilmiah dan dilengkapi dengan hasil-hasil penelitian baik yang dilakukan kalangan universitas, perbankan, bank sentral maupun lembaga–lembaga peneliti membuat isi buku ini cukup berbobot. Buku ini akan menjadi lebih menarik apabila penulis dapat melengkapi masalah financial exclusion yang terjadi di negara-negara Afrika dan Asia Pasific. Namun demikian, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini sangat baik untuk menjadi acuan praktis terutama kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya untuk mengatasi masalah-masalah financial exclusion pada masing-masing negaranya. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah perbankan, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan masalah-masalah yang dihadapi perbankan di negara-negara lain.

13 Maret 2008

Langkah Inovatif Micro Finance Institutions Menembus Pasar Modal

Resensi Buku

Judul : Microfinance Investment Funds: Leveraging Private Capital For Economic Growth and Poverty Reduction
Editor : Ingrid Matthaus-Maier and J.D. von Pischke
Penerbit : Springer
Halaman : XIII + 290, (2006)

Oleh: Heri Ispriyahadi

”Small is beautiful” rasanya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok lembaga keuangan mikro (Micro Finance Institutions). Walau hanya memiliki modal kecil namun tidak menghalangi langkah besar lembaga ini untuk mengentaskan kemiskinan di berbagai pelosok penjuru dunia. Sebagai gambaran Grameen Bank (bank kaum miskin) mampu mendulang sukses memotong lingkaran kemiskinan di Bangladesh. Bahkan perkembangan bank kaum miskin ini telah menggurita baik dilihat dari bidang usaha maupun wilayah operasinya. Sistim Grameen bank telah menginspirasi tumbuhnya bank-bank mikro di berbagai belahan dunia termasuk di Amerika Serikat yang dikenal sebagai pusat perbankan komersial terbesar di dunia.

Satu hal yang perlu digarisbawahi ternyata kaum miskin lebih patuh dibandingkan kelompok debitur lain. Pengembalian kredit oleh kaum miskin di lembaga keuangan mikro hampir mencapai 100%. Ironisnya perbankan komersial yang sama sekali tidak melirik kaum miskin sebagai target kredit malah lebih banyak berkutat dengan masalah kredit macet. Fakta ini jelas mementahkan pandangan skeptis banyak pihak yang percaya bahwa menaruh kaum miskin dalam outlet kredit perbankan hanya memperburuk Non Performing Loan (NPL).

Kredit bagi kaum miskin dianggap sebagai satu-satunya pintu gerbang untuk keluar dari kemiskinan. Kesempatan yang sangat langka ini jelas tidak akan disia-siakan oleh kaum miskin. Mereka berkerja keras memanfaatkan kredit demi merubah nasib sehingga mampu membayar kembali pinjamannya.

Modal Terbatas
Keterbatasan sumber dana menyebabkan peran lembaga keuangan mikro untuk membantu kaum miskin juga terbatas. Hanya mengandalkan sumber dana dari para donatur dan agen pembangunan jelas tidak cukup. Padahal saat ini jutaan kaum miskin mengantri kucuran modal dari lembaga mikro. Tidak ada jalan lain lembaga keuangan mikro harus mulai keluar dari pakem pendanaan hanya mengandalkan para donatur dan agen pembangunan. Salah satu produk dari proses kreatif dan inovatif yang berhasil diluncurkan dikenal dengan nama Micro Finance Investment Funds (MFIFs). MFIFs diluncurkan pertama kali tahun 1990 an dan perkembangannya sampai dengan Oktober 2004, 55 MFIF’s telah dioperasikan.

Buku yang merupakan kumpulan tulisan para ahli micro finance dan diedit oleh Ingrid Matthaus-Maier dan J.D. Von Pischke, managing directors KfW Bankengruppe membahas MFIFs secara detail dan komprehensif. Buku ini merupakan karya ilmiah KfW untuk mempromosikan perkembangan lembaga keuangan mikro. KfW selama ini dikenal mempunyai mempunyai sejarah panjang membantu permodalan maupun technical assistance untuk lembaga keuangan mikro. Tulisan dikelompokkan dua bagian besar yaitu pasar bagi investasi di lembaga keuangan mikro dan resiko & governance investasi di lembaga keuangan mikro.

Jenis dan Strategi Pemasaran MFIFs
MFIFs dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu (i) Commercial Microfinance Investment Fund (target yang dibidik adalah para investor dan lembaga swasta), (ii) Quasi-Commercial Microfinance Investment Funds (target adalah lembaga-lembaga donor baik swasta maupun development agencies) dan (iii) Microfinance Development Funds (target utama adalah para investor yang berasal dari lembaga-lembaga non profit).
Strategi untuk mempromosikan MFIFs meliputi : (i) Grenfield Approach: mendirikan lembaga keuangan mikro baru dan memperluas jaringan, (ii) Down-Scalling Approach: restrukturisasi bank komersial lokal yang mempunyai komitmen untuk membiayai lembaga keuangan mikro, (iii) Up-grading Approach: transformasi organisasi lembaga keuangan mikro menjadi bank mikro dan (iv) Linking Approach: Menghubungkan MFIs dengan bank nasional atau bank Internasional.

Untuk menarik investor-investor agar mau berinvestasi ke lembaga-lembaga keuangan mikro berbagai langkah maju telah dilakukan. Lembaga keuangan mikro melakukan transformasi menjadi bank, menyeimbangkan tujuan sosial dan bisnis serta lebih transparan menyajikan informasi. Perubahan ini di satu sisi membuka pintu lebar-lebar lembaga keuangan mikro untuk inovasi, diversifikasi produk dan lebih profesional dalam melayani para nasabahnya. Namun di sisi lain apabila tidak dikelola dengan baik orientasi lembaga keuangan mikro bisa terjerumus dominasi pada kegiatan bisnis dibandingkan sosial.

Prospek Menjanjikan
Bisnis lembaga keuangan mikro ternyata memberikan keuntungan yang besar. Berdasarkan penelitian Micro’ Rate tahun 2004 pada 30 lembaga keuangan mikro terkemuka di Amerika Latin mencatat hasil yang mengejutkan karena Return on Earning (ROE) nya lebih tinggi dibandingkan Citigroup maupun bank-bank lokal. Hasil studi ini yang membuat optimis banyak kalangan akan keberhasilan peluncuran MFIFs. MFIFs diharapkan menjadi kendaraan bagi sektor keuangan mikro untuk mendapatkan tambahan modal.
Rasa optimisme muncul akan perkembangan MFIFs dengan berbagai alasan yaitu pertama, selama ini telah terbukti bahwa lembaga keuangan mikro atau bank mikro memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Hubungan antara pegawai yang menangani pinjaman dengan nasabah-nasabahnya terjalin hubungan erat dan sangat loyal. Sebagai contoh lembaga-lembaga keuangan mikro di Bangladesh dan Bolivia mampu memberikan langkah besar yang inovatif sehingga mampu memberikan pinjaman dengan biaya yang rendah. Jumlah nasabah potensial sangat besar yaitu besarnya kaum miskin sehingga memberikan harapan akan semakin meningkatnya bisnis lembaga keuangan mikro. Kedua, biaya transaksi yang rendah karena proses kredit yang tidak berbeli-belit menjadi pertimbangan investor yang menghendaki adanya nilai tambah dari uang yang mereka investasikan. Terakhir, keterlibatan investor dalam investasi bisnis lembaga keuangan mikro membuat hidup mereka lebih bermakna dan menyenangkan.

MFIFs diibaratkan menyediakan sepotong kue yang hilang dari sisi suplai (investor dan capital market) dengan sisi permintaan lembaga keuangan mikro. Critical link adalah MFIFs menghubungkan pasar modal dengan microentrepreneurs di seluruh dunia. Dengan demikian menghubungkan antara sektor informal ekonomi dengan formal ekonomi yang menawarkan suatu formula untuk pertumbuhan berkesinambungan bagi berjuta-juta rumah-rumah tangga berpenghasilan rendah dalam operasi ekonomi yang informal. MFIFs mempunyai kontribusi yang potensial untuk memenuhi Millenium Development Goals (MDGs)

Usaha Mandiri
Sebagaimana halnya buku-buku micro finance lainnya, para pembaca dapat memetik pelajaran betapa signifikannya peran lembaga keuangan mikro bagi progam mengentaskan kemiskinan. Namun nilai lebih yang menjadi kekuatan dari buku ini adalah menanamkan semangat kemandirian pada lembaga keuangan mikro. Menjadi usaha mandiri akan mendorong kreativitas, inovasi dan profesional dalam berbisnis.

Peluncuran MFIFs oleh lembaga keuangan mikro merupakan proses kreatif dan inovatif untuk melepaskan ketergantungan pendanaan dari para donatur dan agen pembangunan.
Semangat kemandirian hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi lembaga keuangan mikro di Indonesia. Ketergantungan pada bantuan dana dari pemerintah yang membuat lembaga keuangan mikro mengalami pertumbuhan yang sangat lamban. Kondisi ketidak mandiran ini juga menjadi kritik tajam dari Muhammad Yunus sebagai faktor utama dibalik kegagalan Indonesia menerapkan sistim Grameen bank. Tugas pemerintah hanya sebatas pada memfasilitasi, sedangkan kinerja lembaga keuangan mikro sepenuhnya tergantung pada kreativitas dan integritas dari para pengurus.

Ditengah-tengah momentum meningkatnya intensitas pembahasan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini, kehadiran buku Micro Finance Investment Funds (MFIFs) sangat menarik untuk dibaca. Membaca buku ini akan membuka wawasan tentang inovasi-inovasi yang dilakukan lembaga keuangan mikro di dunia ini.
Dikemas dengan gaya bahasa ilmiah dan diperkaya hasil-hasil penelitian oleh lembaga penelitian yang kredibel membuat buku ini cukup berbobot. Namun, pembaca yang ingin tahu banyak tentang bagaimana perkembangan MFIFs di Asia tidak akan mendapatkannya dalam buku ini. Para penulis lebih banyak menjelaskan perkembangan MFIFs di Eropa dan Amerika Latin.

Buku ini akan menjadi lebih menarik apabila para penulis dapat melengkapi perkembangan MFIFs di Asia. Namun demikian dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi acuan praktis terutama kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya yang berkecimpung dalam pengembangan UMKM maupun program pengantasan kemiskinan. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah lembaga keuangan mikro, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan langkah-langkah inovatif mendiversifikasi sumber pendanaan di negara-negara lain.

03 Maret 2008

SANG ‘PELAYAN RAKYAT’ DARI NEGERI KAUM MULLAH

. Judul Buku : Ahmadinejad David di Tengah Angkara Murka Goliath Dunia
• Penulis: Muhsin Labib, Ibrahim Muharam, Musa Alfian Hamzah
• Penerbit: Jakarta Hikmah (PT. Mizan Publika)
• Cetakan: ke V Februari 2007
• Tebal : 303 halaman

Keberanian Ahmadinejad menentang segala bentuk intimidasi Amerika dan kroninya atas program pengembangan energi nuklir Iran mengejutkan banyak orang di belahan bumi ini. Pamor Ahmadinejad langsung melambung bahkan telah menjelma menjadi simbol perlawanan dunia Islam atas hegemoni barat. Siapa gerangan sosok Ahmadinejad yang tiba-tiba muncul dalam percaturan politik global menarik untuk disimak dalam buku ini.

Napak tilas jejak karir politik Mahmoud Ahmadinejad, akan menemukan lorong-lorong peristiwa yang membuat tercengang banyak orang. Berbekal dana dan pengalaman politik yang minim, dia mampu menjungkalkan kandidat-kandidat lain yang sarat pengalaman dan lebih dijagokan oleh banyak pihak. Semua itu berawal dari kekecewaan rakyat Iran yang sudah mencapai titik nadir akibat sepak terjang para pemimpin. Mereka lebih sibuk berebut kekuasaan dibandingkan memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, kehadiran Ahmadinejad sebagai kandidat presiden bagai setetes embun yang memuaskan dahaga rakyat Iran. Sosok Ahmadinejad dikenal dengan pribadi yang jujur, sederhana, berani dan apa adanya saat menjabat walikota Tehran menjadi mesin penyedot simpati rakyat.

Langkah Berani
Setelah menjadi Presiden, doktor bidang transportasi ini membuat langkah besar dengan melakukan pengayaan nuklir untuk pengembangan energi. Tindakan ini membuat gerah banyak pihak terutama Israel, Amerika dan kroninya yang merasa terancam. Untuk menghentikan program nuklir tersebut, mereka telah melakukan segala bentuk intimidasi dari ancaman sanksi ekonomi bahkan sampai serangan militer. PBB pun telah dilibatkan untuk menambah bobot tekanan ke Iran. Namun Ahmadinejad tidak bergeming karena program nuklir dimaksudkan untuk pengembangan energi bukan untuk tujuan militer. Langkah berani Ahmadinejad ini mengejutkan banyak pihak karena hanya segelintir orang yang berani menentang Amerika, si polisi dunia. Keberanian Ahmadinejad mengangkat pamornya menjadi simbol perlawanan dunia Islam atas hegemoni Barat.
Sebagaimana buku-buku otobiografi lainnya, buku ini mengulas sosok si tokoh dari masa kecil, perjalanan karir politik dan sepak terjangnya sampai sekarang. Namun kekuatan dari buku ini adalah pengalaman para penulisnya yang pernah mengeyam pendidikan di Iran. Informasi yang didapat langsung dari sumbernya dan juga keterlibatan emosional para penulis dalam merasakan denyut nadi politik Iran menjadi warna dan kekhasan buku ini. Penulis mampu menyajikan secara gamblang dan utuh peristiwa-peristiwa politik yang mewarnai Iran sejak jaman Syah Iran sampai saat ini.

Pemimpin Berkarakter
Setelah berakhirnya kejayaan shah Iran yang dikenal korup dan otoriter, kaum politisi tampil di panggung kekuasaan Iran. Namun kenerja para politisi tidak memuaskan di mata ulama Iran (kaum mullah), mendorong mereka untuk mengambil alih kursi kepempinan. Tindakan ini jelas melenceng dari konsep “Felayate Faqih” yang seharusnya mendudukan para mullah sebagai pengawas pemerintah. Konsep ini yang dengan gigih diperjuangkan Ayatullah Khomeini dalam revolusi 1979. Setelah berjalan sekian lama, terpilihnya Ahmadinejad, menjadi presiden Republik Islam Iran pada tahun 2005 mengakhiri kejayaan kaum mullah.
Menjadi pemimpin harus menempatkan sebagai pelayan rakyat bukan sebagai penguasa. Prinsip ini yang nampaknya dipegang erat oleh Ahmadinejad dan bukan hanya manis di ucapan namun diwujudkan dalam tindakan nyata. Sejumlah langkah konkrit telah dilakukan saat menjadi walikota Tehran sebagai wujud nyata mempraktekkan ajaran ini. Dia lebih memilih tinggal di rumahnya yang sederhana dan berada di gang sempit, sementara rumah dinas walikota dijadikan musium publik. Semua gaji yang diperoleh disumbangkan untuk membantu kaum miskin dan mengandalkan gaji sebagai dosen untuk menghidupi keluarganya. Tidak segan-segan Ahmadinejad ikut terjun langsung untuk menjaga kebersihan kota seperti ikut menyapu jalanan yang kotor. Selain itu Ahmadinejad juga dikenal sosok yang berani dengan berbagai tindakannya yang seringkali berbenturan dengan kemapanan yang telah dinikmati oleh sejumlah pihak. Kesemuanya ini menjadikan popularitas Ahmadinejad langsung meroket di mata rakyat.
Sementara itu, pemimpin sebelum Ahmadinejad baik Syah Iran sampai dengan kaum mullah lebih peduli pada bagaimana melanggengkan kekuasaan. Bahkan pada saat Syah Iran memegang tampuk kekuasaan, rakyat sarat penderitaan dan hanya menjadi penonton saat kekayaaan negara dikeruk untuk kepentingan penguasa. Berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaan dilakukan dari membentuk pasukan rahasia dan menempatkan kroni-kroninya menduduki pusat-pusat kekuasaan yang strategis. Namun saat kekecewaan semakin menumpuk berubah menjadi bola salju liar yang meluluh lantakan semuanya. Kekuatan people power yang maha dasyat menghancurkan kekuasaan Syah Iran. Terusir dari negaranya dan harus menjalani akhir hayatnya di pengasingan.
Setelah syah Iran turun tahta, secara bergantian kaum politisi dan para mullah menduduki kursi pimpinan. Namun tampilnya para mullah teryata bukan sebagai dewa penyelamat. Alih-alih mensejahterakan rakyat, kaum mullah juga terjebak pada perebutan kekuasaan. Kesejahteraan rakyat semakin menjauh. Terpilihnya Ahmadinejad pada awalnya sebagai bentuk wujud protes rakyat atas kinerja para mullah dan politisi. Namun dengan pola kepemimpinan yang lebih mementingkan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi membuat Ahmadinejad semakin dicintai rakyat Iran. Nyalinya yang besar saat melakukan perlawanan atas segala tekanan Amerika dan kroninya untuk membatalkan program nuklir membuat populer di mata rakyatnya. Popularitasnya tidak hanya di kalangan domestik, namun sudah melewati lintas batas negara. Bahkan dunia Islam menampilkan Ahamdinejad sebagai simbol perlawanan akan kesewenang-wenangan dan ketidak adilan yang dilakukan negara-negara barat.

Pelajaran Berharga Para Pemimpin
Di penghujung buku diselipkan dua suguhan yang menarik. Pertama, surat dari Ahmadinejad kepada George W Bush dan rakyat Amerika Serikat. Kedua, hasil wawancara Ahmadinejad dengan harian Der Spiegel Jerman. Banyak hal yang mengemuka dalam surat tersebut antara lain invasi Amerika ke Irak, tahanan-tahanan di Guantanamo, masalah Israel-Palestina, nuklir Iran dan lain-lain. Dengan kecerdasannya semua permasalahan tersebut disampaikan dengan bahasa dan alur pemikiran yang jelas diserta argumentasi yang kuat sehingga sulit bagi Bush untuk menyangkalnya. Demikian pula hasil wawancara menunjukkan bahwa Ahmadinejad merupakan figur yang cerdas, terbuka, jujur dan berani.

Disampaikan dengan bahasa popular yang mudah dimengerti, sistimatika penulisan yang tertata rapi dan dilengkapi dengan indeks, tidak heran buku biografi ini menjadi best seller, bahkan sudah mengalami pencetakan yang ke V sejak diterbitkan pertama kalinya pada tanggal 1 Agustus 2006. Bagi pembaca yang haus akan informasi tentang Ahmadinejad, sang ikon perlawanan atas ketidakadilan global, buku ini dapat menuntaskan dahaga tersebut. Demikian pula bagi pemimpin negeri ini, buku ini setidaknya dapat menjadi rujukan dan pelajaran yang berharga untuk menjadi pemimpin dicintai rakyat dengan lebih memposisikan sebagai pelayan rakyat bukan sebagai penguasa.

(Heri Ispriyahadi, Penikmat Buku Tinggal di Jakarta)