27 Desember 2008
OPTIMIS MEMBAWA NIKMAT
Seorang eksekutif muda termenung di sudut mejanya, dunia seolah-olah runtuh setelah proyek besar yang dimenangkannya tiba-tiba dibatalkan oleh pemberi proyek. Resesi ekonomi di Amerika Serikat yang menyeret negara-negara lain termasuk Indonesia telah memporak randakan mimpi indah si executive muda tersebut. Ekonomi melambat, likuiditas mengering dan tingkat pengangguran terus bergerak naik menjadi warna ekonomi pada hampir seluruh negara di pelosok dunia. Bank-bank penyandang dana menarik diri akibat mengalami kesulitan likuiditas. Untung besar yang terpampang di pelupuk mata lenyap tak berbekas tersapu gelombang tsunami batalnya proyek. Padahal untuk mempersiapkan proyek tersebut, dia telah mengerahkan hampir seluruh energi dan dana yang dimilikinya.
Walau berat beban yang dihadapi oleh eksekutif muda namun dia tidak larut dalam kesedihan yang mendalam. Dia masih menyimpan secercah harapan yaitu semangat tak mudah menyerah dan optimis dalam menghadapi setiap masalah. Si eksekutif muda percaya bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kegagalan tidak disikapi dengan penyesalan, namun sebagai cambuk untuk meraih asa ke depan yang lebih baik. Rasa percaya diri dan optimis yang terpatri kuat dalam sanubarinya menjadi kekuatan dasyat untuk mengatasi segala permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Bahkan kekuatan inilah yang telah mengantarkannya menjadi salah satu eksekutif termuda pada perusahaan tersebut
Tidak jauh dari perusahaan si eksekutif muda, terlihat seorang pemuda yang tergeletak pingsan di di pinggir jalan. Dari mulutnya tercium aroma alkohol yang menyengat. Nampaknya si pemuda, mabuk setelah menenggak berbotol-botol minuman keras. Si pemuda mengambil jalan yang salah untuk mengatasi persoalan hidup yang dihadapinya. Perusahaan yang selama ini menjadi gantungan hidupnya tidak kuat bertahan untuk menghadapi ketatnya persaingan. Perusahaan terus merugi sehingga langkah yang ditempuh untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya adalah mengurangi pegawainya. Sialnya, ternyata si pemuda termasuk yang ikut di PHK. Kondisi ini memukul jiwanya karena selama ini dia menjadi gantungan hidup dari keluarganya.
Sudah berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus lamaran disebar, namun sampai saat ini tidak satupun ada perusahaan yang mau menerimanya. Sementara tabungan yang selama ini susah payah dikumpulkan semakin menipis untuk membiayai hidup keluarganya. Satu persatu barang yang ada di rumah mulai dijual. Istri yang sangat dicintai telah meninggalkannya karena tidak tahan hidup menderita. Dia merasa betul-betul sendiri hidup di dunia ini. Di saat jiwanya rapuh bukannya lebih mendekatkan diri pada sang maha pencipta dan mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah. Dia memilih mabuk-mabukan sebagai jalan pintas. Setelah mabuk semua permasalahan yang menderanya seolah lenyap, dan yang tersisa hanyalah perasaan senang. Namun semua itu hanya fatamorgana, sesudah sadar kembali si pemuda masih menghadapi kenyataan hidup sebagai pengangguran. Semuanya itu semu, masalah pekerjaan belum terselesaikan, malah menyusul masalah baru yaitu kesehatan terganggu dan rumah tangga berantakan.
Dari dua kasus diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata optimisme perlu dibangun dalam setiap kita melangkah dalam hidup ini. Optimisme adalah keyakinan dan harapan yang ingin diraih. Mungkin diantara kita sudah sering mendengar atau membaca slogan-slogan yang memotivasi kita. Orang lain bisa tentu kita juga bisa. Tidak ada persoalan yang tidak ada jalan keluarnya. Kegagalan adalah pintu gerbang menuju keberhasilan. Kata-kata mutara atau slogan ini kalau diresapi dan dilaksanakan dengan sepenuh hati akan menjadi mesin motivator yang dasyat untuk menatap masa depan yang gemilang.
Pengalaman orang-orang sukses adalah orang-orang yang selalu yakin dan percaya bahwa mereka akan mencapai tujuan yang diinginkannya dalam hidup ini. Sekali tujuan ditetapkan mereka akan mengerahkan segala energi dan upayanya untuk meraih cita-citanya. Jatuh bangun dalam mengejar cita-cita dianggap sebagai variasi dalam hidupnya. Dan yang terpenting mereka tetap fokus pada apa yang dicita-citakan dan pantang menyerah sebelum semuanya itu tecapai. Pengalaman dari Thomas Alfa Edison menunjukkan kegigihan dia dalam menemukan lampu pijar setelah sampai 10.000 kali percobaan akhirnya dia berhasil. Keuletan dan ketekunan yang dilakukan oleh Alfa Edison menginspirasi kita bahwa semangat pantang menyerah akan menuai keberhasilan.
Membangun optimisme adalah kekuatan dasyat yang akan menggiring kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Paling tidak rasa optimis membuat kita nyaman dalam melangkah. Perlu diingat bahwa untuk menuju suatu tempat dimulai dari satu langkah kita. Demikian pula untuk mewujudkan kesuksesan juga dimulai dari satu langkah yaitu optimis. Permasalahannya adalah bagaimana dapat mematrikan rasa optimisme dalam segala perbuatan dan tindakan yang kita lakukan. Tentu, ada beberapa catatatan yang bisa kita rujuk untuk membangun rasa optimisme tersebut.
1. Tumbuhkan semangat kalau orang lain bisa kitapun juga bisa.
2. Jangan memandang remeh diri sendiri atau kalah sebelum bertanding. Sering kita dengar keluhan seseorang yang gagal menyalahkan diri sendiri karena orang lain lebih pintar sehingga berhasil.
3. Kita harus yakin dan percaya bahwa setiap usaha keras yang kita lakukan sepanjang berada di jalan yang benar pasti akan mendapat ridho Allah SWT.
4. Selalu berpikir positif bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
5. Tumbuhkan semangat pantang menyerah.
6. Dukungan keluarga perlu ditingkatkan.
Enam tips tersebut kalau kita jalankan dengan sungguh-sungguh akan membawa kita menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Insya Allah akan berhasil membawa kita pada setiap tujuan yang anda inginkan. Semoga.
11 Juli 2008
MEMBUMIKAN INDONESIA BANGKIT
Bangkit itu tidak ada….tidak ada kata putus asa dan kata menyerah. Salah satu penggalan puisi bangkit yang dibacakan Deddy Mizwar terasa menohok relung hati kita. Bulu kuduk ini serasa berdiri saat menyimak kata demi kata yang disuarakan dengan intonasi pelan sampai menggelegar dari aktor pemeran Naga Bonar tersebut. Puisi yang ditulis dari negatif ke tindakan yang positif menyadarkan diri kita bahwa masih banyak persoalan yang mendera bangsa kita. Sudah lama bangsa ini mengalami keterpurukan. Namun sudah lama pula kita tidak mampu keluar dari permasalahan tersebut. Hanya satu kata yang wajib kita lakukan yaitu ”Bangkit”.
Peringatan hari kebangkitan nasional 20 Mei 2008 hendaknya dijadikan momentum awal kebangkitan bangsa Indonesia. Slogan Indonesia bangkit telah dicanangkan dengan gegap gempita di stadion Gelora Bung Karno memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional. Slogan itu hendaknya jangan hanya manis di mulut namun harus diwujudkan menjadi kekuatan dasyat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.
Selama kurun waktu 53 tahun sejak merdeka, bangsa Indonesia terus berusaha membangun. Sudah enam presiden memimpin negeri ini. Dari orde baru ke orde lama sampai dengan orde reformasi mengawal pembangunan di Indonesia. Demokrasi yang dipasung selama dibawah kepemimpinan orde lama maupun baru sudah mendapat ruang yang lebih leluasa. Otonomi daerah dan sistim pemilihan kepala daerah yang langsung dipilih oleh rakyat wujud dari demokrasi tersebut. Namun euforia demokrasi dilakukan secara berlebihan.
Demontrasi marak terjadi dimana-mana. Kalah dalam pilkada, ingin menjatuhkan lawan politik, memprotes berbagai kebijakan pemerintah atau masalah lain adalah berbagai permasalahan di belakang maraknya demonstrasi. Ironisnya, demonstrasi kadang dibarengi dengan tindakan yang anarkis. Sejumlah kantor pemerintah dibakar, perkelahian antar pendukung dan tindakan anarkis lainnya menjadi potret buram dari pelaksanaan demokrasi yang kebablasan. Kesemuanya ini menunjukkan masih belum siap dan dewasanya rakyat berpolitik.
Pembangunan di bidang ekonomi juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Ekonomi yang tumbuh 6,32 % dan laju inflasi 6,59% masih dibawah target yang ditetapkan pemerintah di 2007 belum banyak dirasakan oleh masyarakat luas. Angka indikator yang mengesankan tersebut tidak tercermin di kehidupan sehari-hari. Angka kemiskinan dan pengangguran terus bertambah. Harga-harga terus merangkak naik yang dipicu meroketnya harga minyak dan komoditi pangan. Daya beli masyarakat semakin menurun. Konsumsi masyarakat yang menurun memukul sektor industri. Omset penjualan industri terus menurun. Akibat tidak mampu menutup kerugian, satu demi satu pabrik-pabrik tersebut gulung tikar. Yang paling menderita tentu kaum buruh yang harus kehilangan mata pencahariannya. Angka kemiskinan dan penggangguran semakin meningkat.
Kinerja ekonomi Indonesia saat ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Singapura dan Malaysia telah lama meninggalkan kita. Padahal dahulu di awal kemerdekaan Malaysia berguru dengan kita. Banyak kalangan pendidik dikirim kenegeri Jiran tersebut untuk mengajar. Demikian pula beberapa pemimpin yang duduk di pemerintahan Malaysia saat ini pernah menimba ilmu di universitas-universitas di Indonesia. Keberhasilan pembangunan di Malaysia karena memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia sebagi ujung tombak pembangunan.
Kinerja konomi yang tertinggal dan sistim politik yang tidak stabil membuat Indonesia menjadi macan ompong di tataran ASEAN. Singapura, Malaysia dan Thailand saat ini saling berebut untuk menjadi pemimpin di forum ini. Padahal dahulu, Indonesia sangat disegani di ASEAN. Bahkan di tataran yang lebih luas seperti APEC, Non-Blok maupun forum internasional lainnya nama Indonesia masih diperhitungkan. Namun dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit wibawa Indonesia terkikis. Prestasi di bidang olahraga juga menyedihkan. Indonesia dahulu begitu perkasa di ajang SEA Games dengan menyandang juara umum beberapa kali.Saat ini gelar tersebut jauh dari jangkauan kita. Dominasi kita di bulutangkis juga sudah disalip oleh China. Piala Thomas dan Uber Cup sudah lama tidak singgah di negeri tercinta ini.
Sangat menyedihkan melihat kenyataan-kenyataan ini. Bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam luar biasa besarnya ternyata tidak dapat memanfatkan kekayaan alamnya tesebut. Sangat ironis, bukan kita yang menikmati manisnya sumber daya alam yang berlimpah malah justru para investor-investor asing yang mengeruk kekayaan kita. Exxon, Freeport dan Caltex adalah beberapa nama investor asing yang berpesta pora menikmati gurihnya kekayaaan alam Indonesia.
Eksplorasi yang berlebihan menyebabkan kerusakan dimana-mana. Hutan gundul, pencemaran air, laut dan udara menjadi pemandangan umum. Akibatnya musibah bencana alam banjir, tanah longsor dan hilangnya habitat satwa langka tak terhindarkan. Parahnya instansi yang seharusnya steril dari kepemilikan asing juga mulai diobok-obok. Saat ini mayoritas kepemilikan saham Indonesia dimiliki Singapura. Demikian perbankan asing juga sudah mulai mendominasi kepemilikan di perbankan domestik. Kesemuanya ini menjadikan kita seolah-olah bekerja di negara lain.
Momentum peringatan kebangkitan nasional saat ini harus kita jadikan pijakan awal kebangkitan kita. Indonesia harus kembali lagi menjadi bangsa besar dan disegani. Paling tidak ditataran ASEAN kita harus mulai unjuk gigi. Perubahan harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Bangkit, bangkit..dan bangkit harus menjadi peluru kita untuk mengatasi berbagai permasalahan. Pemerintah, parlemen, akademisi, pengusaha, aparat penegak hukum dan kelompok masyarakat lainnya harus bahu membahu untuk membangun negeri tercinta ini. Setidaknya mulailah dari diri kita untuk memperbaiki diri, kemudian keluarga, masyarakat dan akhirnya pada negeri tercinta ini. Kalau setiap insan Indonesia berpikir dan bertindak seperti ini sudah dipastikan bangsa ini akan dapat mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang makmur.
Kunci untuk menuju sukses adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Malaysia telah membuktikan hal tersebut. Dikuranginya subsidi pendidikan telah menjadikan pendidikan saat ini semakin mahal. Sulit sekarang bagi anak-anak dari golongan kaum menengah kebawah dapat melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Dengan pengurangaan subsidi menyebabkan kalangan perguruan tinggi negeri juga berlomba-lomba menarik dana yang sebesar-besarnya dari mahasiswa. Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut maka bagi anak-anak dari kalangan petani miskin hanyalah mimpi untuk menjadi dokter atau ”tukang insinyur”. Untuk diterima di fakultas kedokteran puluhan sampai ratusan juta rupiah harus dibayarkan mahasiswa baru. Sudah saatnya pemerintah meninjau ulang kebijakan pengurangan subsidi ini. Kalau perlu pemerintah melakukan pengurangan anggaran di tempat lain untuk menambah subsidi pendidikan. Anggaran untuk pendidikan harus mendapatkan porsi yang besar kalau pemerintah ingin Indonesia menjadi bangsa yang maju.
Selain itu korupsi yang merajalela dan penegakan hukum yang mandul harus dibabat tuntas seakar-akarnya. Sudah menjadi rahasia umum Indonesia menduduki ranking tinggi untuk korupsi baik di lingkup regional maupun dunia Bahaya korupsi sangat merugikan bagi pembangunan di negeri ini. Demikian juga geliat politik yang tidak stabil harus dikendalikan. Selain permasalahan lainnya, kedua hal tersebut berkontribusi besar menyebabkan hengkangnya sejumlah investor asing. Sony Electronic, Aiwa, Nike dan Gillette memindahkan usahanya ke Malaysia dan Vietnam akibat iklim investasi yang tidak kondusif. Kesemuanya itu menjadi potret buram Indonesia berdampak negatif bagi pembangunan. Sudah saatnya supremasi hukum harus ditegakkan untuk menanggulangi kejahatan korupsi ini. Kalau perlu hukuman berat dijatuhkan bagi pelaku korupsi. Di China tidak ada ampun lagi bagi pelaku korupsi. Mereka dihukum mati di hadapan masyarakat. Efek jera terbukti sangat ampuh mengurangi tindak kejahatan korupsi.
Marilah kita bersama-sama membumikan slogan Indonesia bangkit. Mewujudkan slogan tersebut dengan tindakan nyata untuk bangkit dari berbagai keterpurukan. Dengan demikian tidak sia-sia pemerintah mengeluarkan biaya yang sangat besar pada saat mencanangkan Indonesia bangkit. Tulisan ini ditutup dengan potongan terakhir puisi bangkit Deddy Mizwar yaitu Bangkit itu aku.....untuk Indonesia. Semoga
02 Juli 2008
BANJIR SMS KOMERSIAL
Teknologi komunikasi yang melesat bak meteor telah menjadi lahan bisnis menggiurkan bagi pengusaha. Penjualan telepon seluler laris manis seperti layaknya jualan pisang goreng. Harga yang semakin murah dan tersedianya voucher isi ulang sampai pecahan terkecil Rp5000 menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu penjualan HP didukung oleh jaringan distribusi yang sudah menembus sampai ke pelosok-pelosok desa. Tidak heran kelompok ekonomi kelas bawahpun dapat memilikinya. Sudah menjadi pemandangan umum tukang sayur, tukang batu sampai tukang sampah pun diikat pinggangnya terselip HP. Padahal dahulu untuk sekedar memimpikan saja mereka tidak berani karena harganya yang sangat mahal.
Operator-operator telepon seluler berebut pasar Indonesia karena memiliki potensi pasar yang sangat besar. Jumlah penduduknya yang mencapai sekitar 220 juta menjadi daya tarik tersendiri. Kalau mereka berhasil menggarap 30% saja, sudah lebih dari 70 juta orang potensi pasarnya. Jumlah ini tiga kali lipat penduduk Australia. Potensi pasar semakin besar, karena tidak sedikit orang yang memiliki lebih dari 2 HP. Tidak heran saat ini perang tarif semakin gencar dilancarkan para operator seluler untuk berebut ”kue” yang lezat ini. Berbagai jurus iklan pun dilancarkan para operator.
Kemudahan yang ditawarkan dalam berkomunikasi dimanapun berada menjadi promosi yang menarik. Perang tarif pun terus dilakukan antar operator telepon seluler. Masyarakat menjadi terbuai. Bahkan berlembar-lembar ratusan ribu rupiah yang mereka dapatkan dengan susah payah rela dikeruk para operator telepon seluler. Ironisnya para operator telepon seluler secara berjamaah telah berkonspirasi menerapkan tarif SMS yang mencekik leher. Mereka mematok harga tiga kali lipat dari harga yang sebenarnya. Triliunan rupih pun mereka raup dari bisnis ini. Untungnya KPPU mencium aroma konspirasi yang tidak etis ini. Sanksi tegas ditegakkan dengan denda dan mengharuskan penurunan tarif yang wajar.
Bayangan untung besar yang ditangguk dari berbisnis dengan memanfaatkan SMS juga dilirik oleh kalangan televisi. Kita semua menyaksikan berbagai ajang lomba dari Indonesia Idol, Dangdut Mania, AFI, dan lainnya memanfaatkan SMS yang harga nya per SMS jauh lebih mahal dari harga normal. Untuk menarik agar masyarakat membanjiri SMS kepada jago-jagonya mereka diiming-imingi hadiah yang menggiurkan. Walau para penyelenggara ini harus menyediakan berbagai hadiah namun untung yang mereka raih jauh lebih besar. Anggap saja untuk setiap SMS yang dikirim, penyelenggara acara mendapat keuntungan bersih 50%. Dengan tarif Rp1000,- per SMS berarti keuntungan yang diraup Rp.500 kali sekian juta SMS masuk. Bisa kita bayangkan besarnya dana yang mengalir ke pundi-pundi penyelenggara acara. Oleh karena itu tidak heran kalau saat ini TV kita disesaki acara-acara seperti ini.
Tengah malam di saat orang pada terlelap tidur, kalau kita iseng menyetel TV maka kita menemukan acara yang memanfaatkan SMS komersial. Dipandu gadis manis dengan berbalut baju seksi mengajak pemirsa untuk main tebak-tebakan dari tebak nama, wajah atau menyusun kata yang hruf-hurufnya sudah diacak. Sebenarnya Anak SD pun akan mudah menebaknya. Namun yang diincar adalah banjirnya SMS orang-orang yang bernafsu ingin memperoleh hadiah-hadiah yang ditawarkan.
Belum lama berselang Roncar, produk pengaman kendaraan bermotor dari pencurian yang ikut-ikutan berbisnis dengan memanfaatkan SMS ini. Untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan para pemirsa tidak perlu membeli produk tersebut cukup hanya mengirim SMS. Menurut saya, hal ini sangat naif karena dimanapun kalau berdagang yang dijual produknya. Tapi dalam kasus ini, pemirsa cukup hanya mengirim SMS sebanyak-banyaknya mengadu nasib untuk memperoleh hadiah yang ditawarkan. Boleh dibilang produk yang ditawarkan hanya tempelan saja. Yang diincar bajirnya kiriman SMS komersial dari para penonton.
Berbagai bisnis dengan memanfaatkan SMS komersial berbalut acara-acara lomba hanyalah perjudian dalam bentuk lain. Setelah porkas, SDSB maupun lainnya dilarang, maka bentuk seperti inilah yang saat ini lagi marak. Pemirsa tidak sadar dengan mengirim SMS sebanyak-banyaknya pada jagonya masing-masing hanyalah menguntungkan penyelenggara. Demikian pula para peserta, tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk mengirim SMS pada diri mereka. Hal ini dilakukan agar mereka lolos tahap demi tahap dalam ajang lomba tersebut. Ajang lomba ini seolah-olah menjadi dewa penyelamat mereka untuk merubah nasib. Menjadi terkenal itulah impian yang ingin diraih. Namun terbukti sudah hanya segelintir dari mereka yang sampai saat ini mampu bertahan di jalur hiburan saat ini.
Dalam kasus SMS komersial ini hendaknya pemerintah harus mewaspadai akan efek negatif yang ditimbulkan. Harus benar-benar diatur secara ketat. Apa yang dilakukan Roncar harus dilarang karena sudah melenceng dari ranah bisnisnya. Demikian masyarakat pemirsa pun harus jeli. Mereka harus bisa memiliah-milah acara-acara TV yang ditontonnya. Ada acara yang betul-betul menghibur dan tidak sedikit pula yang menguras kantong mereka melalui SMS-SMS yang dikirimkannya.
09 Juni 2008
Pintar Itu Berbahaya........
Di daerah Tebet tempat tinggal saya saat ini telah menjadi kantong bisnis lembaga-lembaga yang mengais rejeki di bidang pendidikan. Bahkan peningkatannya luar biasa. Bertebaran lembaga-lembaga tersebut tidak hanya yang sudah punya nama seperti Primagama, Ganesha, lembaga-lembaga baru pun mencari peruntungan di bidang ini. Belum lagi yang menawarkan secara instan untuk menjadi ahli matematika dengan berbagai metode dari sempoa, kumon dan metode lainnya. Bisnis ini pun telah meraup miliaran rupiah. Timbul pertanyaan kenapa bisnis ini menjadi marak?. Di tengah himpitan biaya hidup yang semakin berat karena kenaikan BBM, para orang tua rela menyisihkan dana jutaan rupiah untuk memasukkan anak-anaknya ke lembaga tersebut. Lulus UAN (ujian Akhir Nasional) yang nampaknya dibidik oleh para orang tua.
UAN saat ini telah menjadi momok yang menakutkan. Jutaan siswa harus gigit jari karena gagal melewati nilai batas minimal yang ditetapkan pemerintah. Bahkan ada sekolah yang tidak ada satu pun siswa yang lulus UAN. Kelulusan mereka hanya ditentukan dalam hitungan hari bahkan lamanya jam ujian. Itu pun hanya hanya beberapa mata pelajaran yang dianggap mampu merepresentasikan kepintaran siswa. Pelajaran lain seakan-akan hanya menjadi asesoris saja. Pendidikan yang mereka jalani selama 3 (tiga) tahun seakan-akan tidak ada artinya dibandingkan dengan UAN tersebut. Kondisi ini yang menyebabkan para orang tua dan guru berjibaku untuk berkonsentrasi hanya pada mata pelajaran yang diujikan dalam UAN.
Sekolah-sekolah dianggap sukses apabila mampu meluluskan sebagian besar atau 100% siswanya. Tidak heran untuk mengejar ambisi ini para siswa harus mengikuti pelajaran tambahan. Merasa bekal di sekolah tidak cukup para orang tua memasukkan anak-anaknya ke lembaga-lembaga kursus. Malam harinya anak-anak masih dipaksa belajar oleh orang tuanya yang ketakutan anaknya tidak lulus UAN. Semua energi dicurahkan pada mata pelajaran yang diujikan di UAN. Porsi pelajaran yang lain semakin terpinggirkan. Anak-anak diarahkan untuk menjadi pintar namun melupakan esensi yang hemat saya sangat penting yaitu pelajaran budi pekerti. Padahal anak pintar tidak berbudi jauh berbahaya dibandingkan kurang pintar namun mempunyai budi pekerti yang baik.
Pintar saja hemat saya tidak cukup. Sebaiknya generasi muda dibekali tidak hanya pintar tetapi juga mempunyai akhlak yang mulia. Masa depan negara ini akan suram seandainya generasi muda hanya mengandalkan kepintaran saja. Sudah dipastikan karena budi pekertinya kurang baik, mudah terjadi friksi maupun pertentangan antar mereka. Belum lagi kalau kepintaran itu dipergunakan untuk mengejar ambisi diri sendiri tanpoa memikirkan kepentingan banyak pihak. Bisa terjadi malah membahayakan kehidupan manusia. Dapat kita bayangkan betapa berbahayanya nuklir kalau dipergunakan sebagai mesin perang dibandingkan untuk energi alternatif.
Saya tidak alergi bahwa anak didik menjadi pintar. Bahkan sangat setuju kalau generasi muda ke depan sudah seharusnya lebih pintar dari kita. Kepintaran saja yang dikejar tanpa dimbangi pendidikan budi pekerti malah menjadi berbahaya. Kalau dihadapkan pada dua pilihan yang ekstrem yaitu anak pintar tidak berbudi dan anak kurang pintar tapi berbudi saya akan menetapkan pilihan pada alternatif kedua. Saya yakin anak yang kurang pintar namun mempunyai kelakukan yang santun, tenggang rasa dan suka menolong akan membuat hidup saya menjadi tenang. Sebaliknya anak pintar namun mempunyai kelakukan yang buruk akan membuat hidup saya penuh dengan kekhawatiran. Takut perbuatannya mencelakakan orang lain, bahkan bukan tidak mungkin terhadap kita juga tidak ada rasa hormat sebagai orang tua. Kalau pintar yang seperti inilah yang tidak penting dan harus kita hindari. Tentu yang ingin saya tekankan dalam mendidik anak adalah menjadikan mereka pintar dan berbudi luhur.
Tulisan saya kali ini bukannya menentang sistim pendidikan yang diharapkan melahirkan anak-anak pintar dan berbakat. Namun sisi yang perlu saya tonjolkan adalah sebaiknya kita jangan melupakan pendidikan budi pekerti. Artinya walaupun UAN sudah ditasbihkan menjadi keharusan yang harus dilewati siswa, akan tetapi para guru dan orang tua hendaknya jangan bosan-bosannya untuk tetap memberikan porsi yang besar bagi pendidikan akhlak pada anak didik atau anaknya. Harus kita ingat kekuatan bangunan ditentukan oleh seberapa kokohnya fondasi bangunan tersebut. Demikian pula pada anak-anak kita kalau kita dari kecil telah membekali mereka dengan dasar pendidikan agama yang kuat sudah dipastikan mereka tidak akan mudah goyah dari pengaruh negatif yang siap menerkamnya. Semoga.
04 Juni 2008
SEMANGAT PAGI
Percakapan menarik saya simak dari radio saat perjalanan menuju kantor. Masalah yang diangkat adalah berpikir positif. Sebenarnya tema seperti ini sudah sering saya dengar dan juga saya baca dari berbagai buku. Tapi penjelasan yang disampaikan melalui radio cukup menarik karena selain dilakukan interaktif juga diberikan contoh-contoh yang mudah untuk dicerna.
Ternyata banyak manfaat yang dapat kita petik dari berpikir positif. Pikiran kita menjadi tenang karena sesuatu dilihat dari sisi baiknya. Saat menghadapi pekerjaan menumpuk dan dikejar dengan dead line, kita menganggap bahwa pekerjaan tersebut suatu tantangan yang akan membawa peningkatan karir yang lebih baik. Satu ungkapan menarik yang saya sitir dari percakapan tersebut adalah motto yang dilontarkan oleh seorang penelpon yaitu ”semangat pagi”. Menurut saya motto ini luar biasa karena memberikan dorongan motivasi yang kuat. Pagi hari adalah saat mulai kita beraktivitas. Semangat yang ditanamkan dalam sanubari kita jelas akan memompa gairah kita untuk mengerjakan seluruh aktivitas kita menjadi lebih baik. Kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan akan membuat hidup kita menjadi menyenangkan.
Berpikir positif tentu tidak serta merta meninggalkan kewaspadaan kita. Tidak boleh membabi buta harus juga dilakukan dengan berhati-hati. Misalnya ada orang yang tidak kita kenal tiba-tiba ingin menginap di rumah kita. Dalam pikiran kita pasti akan berfikir siapa orang asing tersebut, kenapa sampai kemalaman dan tujuannya datang ke kota ini mau apa. Kalau kita hanya mengandalkan cara berpikir positif kita beranggapan si orang asing tersebut pasti kemalaman dan tidak punya uang yang cukup sehingga butuh tumpangan untuk menginap. Waspada harus kita lakukan dengan melakukan berbagai hal yang dapat mengurangi kemungkinan terburuk. Bisa saja kita meminta identitasnya, melapor kepada RT dan mengamankan harta-harta kita dari kemungkinan dicuri oleh si orang asing tersebut.
Pernah kejadian yang saya alami mirip dengan contoh yang saya berikan. Saat tengah malam menunggu kereta terakhir dari Semarang yang membawa istri, saya melihat seorang ibu yang kelihatan cemas duduk di ruang tunggu. Penasaran saya hampiri Ibu tersebut. Ternyata dia dari Jawa yang menyusul suaminya yang dinas di Bogor. Berhubung waktu sudah tengah malam maka dia harus menunggu jadual kereta paling pagi untuk pergi ke Bogor. Malam itu terpaksa harus menginap di stasiun. Sambil mendengarkan cerita ibu tersebut saya pandangan saya arahkan di sekeliling. Tidak ada satupun wanita yang tidur di Stasiun. Karena berpikir positif maka saya tawarkan Ibu tersebut untuk menginap di rumah saya. Terus terang tidak sampai hati saya melihat seorang Ibu tidur di tempat yang rawan dengan kriminalitas.
Keputusan tersebut akan saya diskusikan dengan istri. Alahmadullilah saat hal tersebut kusampaikan ke Istri ternyata setuju. Satu malam Ibu tersebut mengindap di rumah dan paginya saya antarkan ke stasiun. Namun kewaspadaan tetap saya lakukan. Selain melapor pada ketua RT, saat menginap di rumah si Ibu tersebut ditemani oleh Ibu saya.
Berpikir positif selain membuat hati tenang juga dapat meningkatkan produktivitas kita. Pikiran yang selalu melihat sisi baik dari setiap masalah maka akan mendorong kita bekerja lebih baik. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Setiap sisi buruk sseorang pasti ada sisi baiknya. Setiap ada musibah pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya kalau kita berpikir negatif yaitu melihat sisi buruk dari suatu masalah akan membuat hidup kita susah. Pikiran kita menjadi tidak tenang, takut dan konflik dengan banyak orang. Lebih berbahaya kalau pikiran negatif menguasai kita bisa membuat kita menjadi apatis dan mudah putus asa.
Auditor yang biasa mempratekkan negative thinking untuk melakukan pemeriksaan juga sudah sedikit demi sedikit merubah paradigma tersebut. Saat ini pendekatan yang mereka lakukan pada kliennya lebih kepada mitra kerja dibanding antara pemeriksa dan yang diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan diharapkan dapat memperbaiki kinerja organisasi yang diperiksanya. Namun bagi oknum yang melakukan perbuatan melanggar hukum tetap mendapatkan sanksi sesuai dengan perbuatannya.
Dari acara bincang-bincang di pagi hari tersebut, saya sudah menetapkan dalam hati saya mulai saat ini berpikir postif menjadi motto hidup saya. Tentu dukungan istri dan anak sangat diperlukan. Oleh karena itu sudah sewajarnya kalau satu keluarga menerapkan prinsip ”Semangat pagi” yang dilontarkan oleh seorang penelepon pada diskusi mengenai berpikir positif. Saya yakin dan percaya bahwa kehidupan sayadan keluarga akan lebih bermakna kalau saya bisa menerapkan prinsip ini dengan baik. Semoga.
BLT- BIKIN LANGSUNG TERPURUK- RAKYAT MISKIN
Tidak peduli besarnya gelombang protes yang dilancarkan banyak pihak, pemerintah SBY-JK bersikeras program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetap jalan terus. Pemerintah berkilah BLT mampu mengentaskan masyarakat miskin dari himpitan kenaikan harga yang dipicu oleh melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Paket ini menelan biaya sampai sebesar Rp14,1 triliun dan diharapkan dapat menolong sebanyak 19,1 juta orang miskin. Benarkah BLT mampu mencapai tujuan tersebut?
Di tengah meroketnya kebutuhan hidup, BLT sebesar Rp100.000 per bulan selama 7 bulan hanya mampu untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup warga miskin. Dalam hitungan hari uang tersebut akan habis. Setelah itu, roda kehudupan penerima BLT kembali berputar untuk dapat bertahan hidup. Tidak hanya itu, BLT mengajarkan pada masyarakat miskin untuk menjadi bangsa pengemis. Jiwa pemalas menjadikan kehidupan mereka semakin sulit. BLT yang melenceng dari sasaran bisa diplesetkan, Bikin Langsung Terpuruk bagi rakyat miskin. Kalau tidak tepat sasaran bukan tidak mungkin BLT malah menambah masalah baru.
Berbagai persoalan yang mengemuka pada BLT 2005 seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Banyak kasus mewarnai BLT dari data penerima yang kurang akurat, dana yang disunat, aksi anarkis masa sampai pelaksanaan pembagian dana yang berantakan. Namun itu semua tidak membuat pemerintah menjadi jera. Bahkan tanpa persiapan matang BLT 2008 ini seolah jadi senjata pemungkas untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Tragisnya, walau sudah tidak up to date pemerintah menggunaan data 2005 sebagai dasar pembagian BLT. Seharusnya pemerintah memperbaharui data tersebut karena selama 3 tahun bukan tidak mungkin sudah banyak terjadi perubahan. Selain itu pada 2005 disinyalir penerima BLT termasuk warga yang masih tergolong mampu. Ironisnya warga yang benar-benar miskin malah tidak termasuk dalam daftar. Hal ini bisa terjadi karena permainan oknum petugas lapangan.
Pelaksanaan pembagian BLT tidak semulus yang diperkirakan. Tidak sedikit aparat kelurahan/ desa yang menjadi garda terdepan pelaksanaan BLT menjadi sasaran kemarahan masa. Tidak puas dengan pelaksanaan BLT mereka mengintimidasi para petugas. Kondisi ini menjadi peristiwa traumatis bagi mereka. Tidak berlebihan kalau mereka menentang keras pelaksanaan BLT 2008 ini. Namun ancaman sangsi yang akan dikenakan petugas yang menolak BLT menyurutkan langkah penentangannya.
Bahaya utama yang perlu diwaspadai dari peluncuran program BLT adalah menjadikan mental pengemis bagi kaum miskin. Budaya ini jelas sangat merugikan. Seharusnya bantuan kail jauh lebih baik daripada ikan. Bekerja menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan hidup yang dihadapi rakyat miskin. Bukan mustahil dengan bekerja suatu saat mereka mampu keluar dari jeratan kemiskinan. Sementara BLT hanya menjadikan mereka menjadi bangsa pemalas.
Langkah yang ditempuh pemerintah dalam program BLT ini nampaknya hanya untuk mengatasi permasalahan jangka pendek tidak menyentuh pada akar permasalahan. Uang berapapun diberikan akan habis dalam waktu sekejap. Berbeda dengan bekal keahlian maupun ketrampilan akan mendatangkan uang bukan menghabiskan uang. Bantuan berupa modal kerja, ketrampilan, pendidikan maupun bantuan lainnya merupakan langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah. Mengintensifkan Balai Latihan Kerja, mendirikan bank-bank mikro, dan memberikan bantuan ketrampilan lainnya jauh lebih baik dibandingkan BLT.
Kita pun seharusnya bisa menyerap pelajaran berharga dari bangsa Jepang. Kekalahan perang, kondisi negara yang hancur lebur dihantam bom atom dan sumber daya alam yang tidak bersahabat bukanlah menjadi halangan bagi mereka untuk maju. Mereka selalu bekerja keras untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kegigihan mereka telah membawa bangsa Jepang menjadi bangsa yang makmur.
BLT bukan solusi terbaik. Potensi bahayanya lebih besar dari manfaat yang ingin diraih. Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah mengganti program BLT dengan program yang lebih baik. Memberikan kail jauh lebih baik daripada ikan. Kalau itu semua bisa dijalankan dapat dipastikan akan terbuka kesempatan kerja yang luas bagi rakyat miskin. Ke depan istilah BLT dapat diplesetkan menjadi Buka Lapangan Tenaga Kerja. Semoga.
08 Mei 2008
Arti Ekonomi Pemilihan Presiden AS
Genderang perebutan kursi kepresidenan Amerika Serikat telah riuh ditabuh. Kandidat-kandidat presiden dari Partai Demokrat dan Republik telah menyelesaikan pemilihan pendahuluan tingkat partai (primary) di Iowa dan New Hampshire.
Pemilihan-pemilihan pendahuluan di negara bagian lain segera menyusul. Ujungnya, sebanyak 20 negara bagian serentak akan menyenggarakan pemilihan pendahuluan pada Selasa, 5 Februari 2008. Pada hari itu, dikenal dengan Super Tuesday, akan muncul masing-masing satu pemenang dari Partai Demokrat dan Partai Republik untuk bertarung memperebutkan kursi kepresidenan pada bulan November mendatang.
Meski masih sekitar 4 minggu lagi menuju Super Tuesday, praktis kini tinggal dua kandidat Partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton, yang berebut tiket partai ke pemilihan presiden. Persaingan tiket Partai Republik sebaliknya masih terbuka dan sulit ditebak, dengan Mitt Romney, Mike Huckabee, John McCain, dan Rudi Guiliani berpeluang sama besar.
Apa arti ekonomi Pemilihan Presiden AS kali ini? Di tengah ekonomi AS yang melambat sebagai dampak krisis kredit subprime dan tingginya harga minyak, Presiden Bush diyakini memilih kebijakan ekonomi populis untuk mendongkrak popularitas di tahun pemilu 2008. Lalu apa kira-kira kebijakan ekonomi yang ditempuh Obama, Clinton, dan kandidat Partai Republik bila terpilih sebagai Presiden AS? Dengan pangsa hampir 20% terhadap PDB dunia, pemilihan presiden di AS berpengaruh besar bukan hanya bagi ekonomi AS tapi juga dunia ke depan.
Political Business Cycle
Pendekatan Political Business Cycle (PBC) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun sebelum pemilu AS rata-rata lebih tinggi daripada tahun sesudahnya. Politikus digambarkan dalam PBC sebagai pihak yang hanya mengedepankan keuntungan diri sendiri, yang belum tentu sejalan dengan kepentingan masyarakat. Dengan pemilih cenderung hanya memiliki perspektif jangka pendek, dorongan begitu besar bagi politikus untuk memanipulasi kebijakan ekonomi guna memaksimalkan kepentingan, yakni (tetap) duduk di pemerintahan.
Data mendukung prediksi PBC ini. Rata-rata pertumbuhan PDB AS per tahun pada tahun keempat baik pemerintahan Demokrat maupun Republik sejak tahun 1949 tercatat sebesar 3,7%, atau 0,3% lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata pada tahun pertama. Hanya prediksi PBC bahwa tingkat inflasi rata-rata pada tahun keempat pemerintahan yang seharusnya lebih tinggi daripada tahun pertama tidak sepenuhnya didukung oleh data.
Cukup realistiskah peluang Bush meluncurkan kebijakan populis di tahun terakhir pemerintahannya? Bila jawabannya positif, apa dampaknya pada ekonomi 2008?
Ekonomi AS terancam melambat, meski masih jauh dari resesi. Krisis kredit subprime dikuatirkan telah menyeret sektor ekonomi lain. Indeks manufaktur ISM kini turun di bawah 50. Pasar saham AS mengalami tekanan jual. Angka pengangguran Desember melonjak ke 5% dari 4,7% bulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menopang ekonomi terancam melemah. Data-data terakhir mengindikasikan ekonomi AS di tahun 2008 tumbuh sekitar 2%, terendah dalam lima tahun terakhir.
Tekanan inflasi sebaliknya merangkak naik. Inflasi inti PCE, rujukan inflasi terpenting bagi Federal Reserve, terakhir tercatat 2,2% per tahun, di atas rentang toleransi Federal Reserve sebesar 1-2%. Tingginya harga minyak dan penurunan suku bunga kebijakan fedfund beberapa waktu lalu telah mendorong kenaikan ekspektasi inflasi ke depan.
Di tengah kondisi ekonomi tersebut, tidak heran bila isu ekonomi menurut hasil jajak pendapat Associated Press-Ipsos terakhir telah dianggap sama pentingnya dengan perang Irak di mata masyarakat pemilih. Dengan ketidak-pastian seputar kesempatan kerja, perumahan, pasar saham, harga BBM berlanjut, masalah ekonomi diyakini akan menjadi isu paling dominan dalam pemilihan presiden AS.
Desakan bagi Bush untuk meluncurkan paket stimulus ekonomi terdengar di sana-sini. Presiden Bush sendiri awal tahun ini mengakui bahwa ekonomi AS memasuki masa yang sulit. Bush diperkirakan akan mengumumkan paket kebijakan untuk mencegah resesi pada kesempatan penyampaian State of Union pada 28 Januari mendatang. Menyimak pola kebijakan Bush terdahulu, paket kebijakan tersebut kemungkinan besar berupa pemotongan bea pajak secara menyeluruh.
Paket kebijakan ekonomi dimaksud dan paket bantuan bagi sebagian nasabah kredit subprime yang telah diluncurkan Bush akhir tahun lalu diharapkan dapat menahan perlambatan ekonomi AS di tahun 2008. Ekonomi AS diharapkan mendapat stimulus tambahan apabila Federal Reserve memotong suku bunga kebijakan sebesar 50 bps pada pertemuan akhir bulan ini seperti diperkirakan banyak kalangan. Namun, tidak ada makan siang gratis. Semua langkah tersebut berisiko makin meningkatkan tekanan inflasi AS ke depan.
Platform Ekonomi Kandidat Presiden
Siapapun pemenang pemilihan presiden 2008 akan mewarisi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan. Defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan masih membebani. Ekonomi melambat dan tekanan inflasi relatif tinggi. Krisis kredit subprime dan tingginya harga minyak dunia kemungkinan juga belum akan berakhir.
Selain isu perang Irak dan pemanasan global, kandidat-kandidat presiden dari Partai Demokrat kini cenderung mengedepankan tema ekonomi. Mereka setuju paket stimulus ekonomi, dengan memotong pajak khususnya untuk kelompok pekerja dan menengah. Mereka juga menginginkan pelayanan kesehatan untuk setiap orang. Keseimbangan anggaran ditempuh dengan menaikkan pajak untuk kelompok kaya.
Dua kandidat favorit Partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton, menempati titik yang hampir sama dalam spektrum ideologi dibandingkan dengan kandidat presiden lainnya dari Partai Demokrat dan Partai Republik. Mereka berada di sebelah kanan John Edwards, kandidat ketiga Partai Demokrat yang masih bertarung dalam pemilihan pendahuluan, yang menginginkan peran aktif pemerintah. Mereka sebaliknya berada di sebelah kiri dari semua kandidat Partai Republik.
Meski demikian, Obama dan Clinton berbeda tentang bagaimana pemerintah bekerja. Pola kebijakan ekonomi Hillary Clinton diyakini merupakan warisan Bill Clinton suaminya. Pola itu didasari kombinasi antara peran aktif pemerintah dan agen ekonomi yang rasional. Pada prakteknya pola diwarnai oleh kebijakan-kebijakan yang terfokus untuk mendorong perilaku ekonomi tertentu, seperti keringanan pajak untuk biaya kuliah, pelayanan kesehatan, dan tabungan pensiun.
Obama menganut pandangan yang lebih realistis dan meragukan rasionalitas sempurna dari agen ekonomi. Menurutnya, kebijakan yang sederhana dan mudah dipahami adalah lebih efektif. Obama misalnya mengusulkan keringanan pajak USD1.000 bagi semua keluarga yang berada dalam kelompok pendapatan 90% terbawah.
Kandidat-kandidat Partai Republik umumnya masih membawa tema-tema ekonomi konservatif, seperti pajak rendah, disiplin fiskal, dan deregulasi peraturan. Namun berbeda dengan pemerintahan Bush yang gemuk, mereka ingin kembali memiliki pemerintahan yang ramping dan memangkas belanja pemerintah secara besar-besaran.
Dalam isu perdagangan luar negeri, hampir semua kandidat presiden mengambil sikap yang cenderung sama, yakni lebih proteksionis. Obama sejak awal menyuarakan tentangannya terhadap kebijakan pro-liberalisasi perdagangan Presiden Bush. Kebijakan tersebut dianggap hanya merugikan kepentingan pekerja AS dan menguntungkan China.
Hillary Clinton, yang suaminya menggolkan perjanjian perdagangan NAFTA, juga cenderung menghindar isu yang tidak populer bagi kalangan pekerja ini. Terlebih defisit perdagangan AS dengan China kini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sikap yang sama ditempuh kandidat-kandidat Partai Republik yang secara tradisionil sebenarnya mendukung perdagangan bebas dunia.
Penutup
Arti ekonomi pemilihan presiden AS layak dicermati. Di tengah ancaman perlambatan ekonomi, kebijakan ekonomi pro-pertumbuhan diperkirakan ditempuh oleh Presiden Bush dan penggantinya. Harga yang harus dibayar adalah tekanan inflasi yang tetap tinggi ke depan. Defisit fiskal diperkirakan akan berkurang sehubungan dengan langkah-langkah disiplin anggaran. Defisit transaksi berjalan diyakini akan turun signifikan sebagai dampak lemahnya dollar Amerika dan dominannya semangat proteksionisme dalam kebijakan perdagangan luar negeri AS ke depan.
26 Maret 2008
Financial Exclusion
Penerbit : Palgrave Macmillan, New York USA
Halaman : xv + 184, (2005)
Oleh : Heri Ispriyahadi
Tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga keuangan baik perbankan maupun non bank memainkan peranan yang sangat penting untuk mendukung kemajuan perekonomian suatu negara. Dengan memainkan fungsi sebagai lembaga intermediary perbankan dapat berperan untuk menampung pihak-pihak yang kelebihan dana (deposan) dan menyalurkan kepada investor sebagai pihak yang membutuhkan dana. Demikian pula untuk lembaga keuangan non bank seperti asuransi, leasing, modal ventura dan lembaga lainnya dapat berperan secara aktif sesuai dengan bidang kegiatannya masing-masing. Mengingat sedemikian penting peran yang dimainkan, maka diperkirakan semakin maju suatu negara maka fasilitas yang disediakan lembaga-lembaga keuangan menjadi menu sehari-hari kebutuhan masyarakatnya baik kalangan bisnis maupun non bisnis. Namun dalam kenyataannya, di negara-negara maju masih terdapat sebagian masyarakat yang sama sekali tidak tersentuh dan bersinggungan dengan pelayanan dan fasilitas yang disediakan lembaga-lembaga keuangan karena berbagai alasan yang bermuara pada pokok permasalahan utama yaitu kemiskinan. Kondisi ini dikenal dengan istilah “Financial Exclusion”.
Buku ini ditulis dengan semangat mengangkat topik financial exclusion yang menjadi sorotan utama di negara USA, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya karena terindikasi semakin bertambah masyarakat yang tidak merasakan jasa pelayanan lembaga keuangan. Selain mengupas secara luas hasil kajian perbandingan financial exclusion di negara-negara maju tersebut, penulis buku ini juga menyajikan dan mendiskusikan financial exclusion di negara-negara berkembang. Tujuan sajian 2 kutub yang berbeda mengenai financial exclusion yaitu di negara-negara maju dan berkembang dengan pertimbangan beberapa hal yaitu mendapatkan gambaran secara mendalam mengenai sudut pandang yang berbeda mengenai masalah tersebut, konsekuensi ekonomi yang terjadi, pemilihan kebijakan yang akan dilakukan dan menghasilkan analisis informasi strategis yang menyajikan dampak financial exclusion bagi perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
Aspek-aspek yang menjadi penyebab terjadinya financial exclusion adalah Access exclusion, condition exclusion, price exclusion, marketing exclusion dan self exclusion (halaman 5). Sebagai gambaran, saat ini di Inggris sekitar 1,5 juta (7%) dari kelompok rumah tangga mengalami kekurangan pelayanan produk-produk keuangan. Faktor penting yang secara langsung dan tidak langsung menyumbang terjadinya financial exclusion adalah restrukturisasi industri keuangan pada tahun 1980 an dan tahun 1990 an. Pada tahun 1980 an, industri keuangan di Inggris mengarah pada segmentasi customer dan pada periode resesi tahun 1990 an lebih menekankan kualitas pada customer yang berdampak terjadinya financial exclusion. Masalah financial exclusion tidak hanya menarik kalangan pemerintah Inggris namun juga industri lembaga keuangan dan consumer groups. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah Inggris mendirikan the Social Exclusion Unit (SEU) yang didukung oleh Bank of England dan Financial Service Authority (FSU) melalui sejumlah penelitian dam mereview kebijakan tentang financial exclusion. Dengan demikian Inggris lebih menggunakan pendekatan partnership yang melibatkan pemerintah pusat, pembuat kebijakan, pemerintah lokal, organisasi komersil dan non komersil untuk mengatasi masalah financial exclusion.
Walau dikenal memiliki perbankan dan industri keuangan terkemuka di dunia, ternyata financial exclusion juga masih menjadi masalah di Amerika terbukti pada tahun 2001 dari survey yang diadakan oleh the Survey of Consumer Finances (SCF) terdapat 9,0 % keluarga tidak memiliki giro maupun tabungan terutama pada keluarga berpendapatan rendah. Berdasarkan penelitian alasan utama dibalik permasalahan tersebut adalah tidak ada sisa uang yang dapat ditabung setiap bulannya. Selain alasan tersebut biaya bank dan saldo minimum merupakan faktor lain yang menjadi penyebab keluarga miskin di AS tidak berhubungan dengan bank. Dalam menghadapi financial exclusion, pemerintah Amerika lebih memilih pendekatan regulasi yaitu dengan mengeluarkan Community Reinvesment Act (CRA) yang dikeluarkan pada tahun 1977 dan terus dilakukan modifikasi. Tujuan dikeluarkannya CRA tersebut adalah untuk menjamin agar lembaga keuangan dapat menyalurkan kredit sesuai dengan komunitasnya. Selain CRA, pemerintah AS juga mengeluarkan regulasi pada tahun 1999 yang meminta semua negara federal untuk transfer pembayaran dilakukan secara elektronik yang dikenal dengan nama Electronic Transfer Account (ETAs). Kelebihan dengan sistim ini adalah tidak diperlukan lagi saldo minimum.
Dalam European Union (EU), financial exclusion menjadi masalah besar dan menjadi permasalahan yang serius untuk diatasi. Namun dengan beragamnya baik sistim dan kondisi perbankan di negara-negara Eropa, maka model yang dipergunakan untuk mengatasi financial exclusion juga berbeda. Negara-negara Spanyol, Yunani, Irlandia dan Italia yang mempunyai karakteristik relatif rendah penggunaan banking service, dalam mengatasi financial exclusion lebih menekankan pada agenda politik. Sementara negara-negara seperti Perancis, Jerman dan Belgia, opini masyarakat dan perhatian pemerintah telah merangsang asosiasi-asosiasi professional untuk mengembangkan kontrak-kontrak yang berhubungan dengan masalah financial exclusion. Namun dalam mengatasi masalah financial exclusion di Eropa peran perbankan merupakan faktor kunci.
Meskipun disadari bahwa perbankan dan lembaga keuangan di negara-negara berkembang masih jauh tertinggal dengan lembaga keuangan di negara maju, namun financial exclusion yang terjadi di negara-negara berkembang tetap menarik untuk dikaji. Financial exclusion di negara-negara berkembang terkait dengan jumlah penduduk miskin yang relatif besar dan ketiadaan sumber-sumber modal. Selain faktor tersebut juga terkait erat masalah kelembagaan yaitu belum berkembangnya lembaga-lembaga keuangan yang efisien ditambah masalah struktur sosial ekonomi pedesaan yang jauh dari jangkauan lembaga keuangan. Untuk mengatasi masalah financial exclusion terutama di pedesaan tersebut, terdapat 2 alternatif yang dapat dikembangkan yaitu melalui pengembangan informal lembaga keuangan maupun micro finance. Kedua cara tersebut untuk mengatasi permasalahan relatif mahal biaya yang harus ditanggung perbankan apabila akan mendirikan cabangnya di pedesaan. Sehubungan dengan hal tersebut, the Grameen Bank merupakan contoh keberhasilan micro finance yang dikembangkan di pedesaan negara Bangladesh. Grameen bank yang lebih menfokuskan pada keluarga miskin didirikan oleh Professor Muhammad Yunus pada tahun 1976 dan pada posisi bulan Juli 2004 mempunyai 1.267 cabang yang melayani 46.000 desa atau lebih 68% dari total desa di Bangladesh.
Kelebihan buku ini terletak pada kemampuan penulis untuk menyusun alur bahasan yang runtut dari permasalahan financial exclusion secara umum dan diikuti dengan pembahasan secara mendalam untuk kasus-kasus financial exclusion di negara Inggris, Amerika dan negara-negara Eropa lainnya. Dengan mengangkat masalah financial exclusion di negara-negara berkembang membuat buku menjadi lebih menarik karena penulis mencoba untuk membuka wawasan pembaca mengenai perbandingan permasalahan financial exclusion antara negara maju dan berkembang yang dapat dipastikan memiliki kondisi lembaga keuangan yang sangat berbeda. Selain itu, buku ini dikemas dengan bahasa ilmiah dan dilengkapi dengan hasil-hasil penelitian baik yang dilakukan kalangan universitas, perbankan, bank sentral maupun lembaga–lembaga peneliti membuat isi buku ini cukup berbobot. Buku ini akan menjadi lebih menarik apabila penulis dapat melengkapi masalah financial exclusion yang terjadi di negara-negara Afrika dan Asia Pasific. Namun demikian, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini sangat baik untuk menjadi acuan praktis terutama kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya untuk mengatasi masalah-masalah financial exclusion pada masing-masing negaranya. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah perbankan, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan masalah-masalah yang dihadapi perbankan di negara-negara lain.
18 Maret 2008
KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI MUSTI DISIKAPI DENGAN BIJAK
Seorang tokoh filsuf yang hidup 500 tahun sebelum Masehi, Heraclites mengatakan bahwa segala sesuatu dapat berubah kecuali hukum perubahan. Diibaratkan batu yang dijatuhkan ke sungai tidak akan mengalami kondisi yang sama. Aliran sungai yang mengalir deras membuat partikel-partikel yang ada di sungai setiap detik selalu berubah. Demikian pula dengan kehidupan manusia, hidup ini mengalir seperti aliran sungai tersebut yang selalu diwarnai dengan berbagai perubahan. Perubahan politik, sosial dan teknologi telah mengubah tatanan pola hidup kita.
Salah satu sorotan di dunia modern saat ini adalah kemajuan teknologi. Teknologi yang berkembang pesat membuat organisasi dan individu-individu yang ada didalamnya harus selalu bergerak dinamis. Gelombang kemajuan teknologi harus disikapi dengan perubahan dalam bentuk organisasi dan peningkatan kapabilitas para pegawainya.
Kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi membuat dunia semakin terintegrasi sehingga batas negara semakin kabur. Tidak hanya aliran modal yang begitu mudahnya masuk dan keluar suatu negara, pekerjaanpun juga dapat ditransfer ke negara lain. Kesemuanya itu diselesaikan melalui alat-alat canggih yang dikenal dengan nama “internet”. Melalui media serat-serat optik dan bantuan satelit pekerjaan lintas negara dapat dengan mudah diselesaikan. Negara yang sadar akan pentingnya Informasi teknologi seperti India telah memetik banyak keuntungan dari bisnis ini. Bahkan bisnis IT telah memberikan sumbangan signifikan bagi ekspor India. Kemajuan tekonologi informasi terbukti mampu membuka ruang kesempatan bagi pihak-pihak yang jeli memanfaatkan ini. Kondisi ini telah mendorong Thomas L Friedman mengibatkan the world is flat sebagai wujud dari globalisasi tingkat 3 yang mengibaratkan setiap pihak pada playing field yang sama dengan kecenderungan dunia yang semakin menyatu.
Teknologi informasi tidak hanya menyebabkan pekerjaan menjadi efisien dan cepat, namun juga menuntut peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dari pelaku bisnis maupun dunia kerja. Mereka dituntut untuk selalu tanggap dengan kemajuan teknologi tersebut. ”Gaptek” (gagap teknologi) yang menggambarkan ketidaksiapan kita menghadapi gelombang kemajuan teknologi harus dibuang jauh kalau tidak mau terlindas dengan mesin perubahan itu.
Perubahan menjadi suatu keniscayaan yang tidak terbantahkan. Demikian pula dalam dunia kerja harus selalu berkembang dinamis. Tuntutan perubahan tidak hanya organisasinya, namun juga karyawannya. Pilihan statis sangat tidak dianjurkan karena dapat dengan mudah terlibas dalam era persaingan yang semakin ketat. Mau tidak mau kita harus mengupdate diri kita sebagi pribadi yang dinamis yang dapat menyesuaikan dengan segala perubahan yang terjadi.
Dunia kerja saat ini selalu bergerak dinamis seiiring dengan pengaruh lingkungan eskternal dan intenal. Struktur organisasi telah berungkali dirubah untuk merespon perubahan teknologi. Tidak hanya itu, sarana dan prasarana dalam bekerja juga terus mengalami perubahan. Mesin ketik sudah lama ditinggalkan digantikan dengan personal computer yang terpasang hampir di setiap meja karyawan. Selain itu internet yang menjadi jendela bagi pegawai untuk meng update informasi terbaru telah menjadi menu pokok sehari-hari pegawai. Kemajuan teknologi ini menuntut pegawai untuk juga meningkatkan kapabilitasnya untuk menjawab setiap tantangan yang terjadi. Kesemuanya itu dilakukan untuk mencapai efisiensi dalam mencapai tujuan yang telah dicanangkan.
Disadari bahwa merubah struktur organisasi jauh lebih mudah dibandingkan dengan menginginkan perubahan kepada pegawai. Setiap perubahan yang diusung akan dilihat sebagai ancaman bagi para pegawai yang sudah nyaman dengan kondisi yang mereka jalani selama ini. Misalnya kehadiran Personal Computer sebagai alat yang menggantikan mesin tik dalam bekerja akan mendapat tentangan yang sangat keras bagi pegawai yang selama ini belum pernah menggunakan komputer. Terlebih bagi mereka yang sudah mahir menggunakan mesin tik, mereka harus belajar lagi dan ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Tidak hanya perangkat keras, hampir semua program kerja memanfaatkan jasa kemajuan era digital.
hampir semua pegawai dari tataran terendah sampai tertinggi bekerja dengan dalam bekerja bersinggungan sudah tidak asing lagi dengan dunia maya seperti internet, sudah seharusnya kita juga wajib untuk selalu mengupdate diri baik pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki. Terlebih ke depan persaingan tidak hanya melibatkan kalangan domestik, namun juga pihak luar luar negeri apabila AEC telah diimplementasikan.
Bagaimana bentuk penyesuaian yang kita lakukan itu yang perlu dipikirkan karena pemilihan strategi efektif akan menuai hasil yang optimal. Tentu, banyak hal yang harus kita persiapkan. Tidak hanya lembaga saja yang berubah, para pegawai juga dituntut untuk selalu dinamis dan mengikuti perubahan yang terjadi. Namun untuk melakukan perubahan pada pegawai bukanlah pekerjaan seperti membalik telapak tangan. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang efektif. Hal ini terkait dengan sifat manusia yang pada dasarnya tidak suku perubahan. Setiap ada perubahan biasanya di respon negatif kalau hanya disertai sepotong informasi yang meyertai perubahan tersebut.
Terlebih kalau pegawai itu merasa sudah nyaman dengan pekerjaan yang mereka lakukan saat ini. Misalnya di era digital saat ini, penggunaan internet dan program-program yang canggih telah mewarnai dunia kerja. Para pekerja yang selama ini tidak bersentuhan dengan dengan hal tersebut jelas merasa teknologi ini akan mengancam keberadaannya. Kemungkinan respon yang terjadi adalah penolakan terhadap keberadaan alat-alat canggih. Kendala ini harus selalu diantisipasi setiap akan melakukan perubahan agar penolakan yang terjadi dapat diminimalisir.
Berdasarkan paparan diatas, nampak bahwa manajemen perubahan mutlak harus dipelajari bagi pihak-pihak yang menghendaki adanya perubahan dalam suatu organisasi. Penguasaan pengetahuan ini membuat langkah perubahan yang diusulkan dapat tercapai dengan baik. Keberhasilan perubahan hanya bisa terjadi kalau disepakati oleh kedua belah pihak yaitu pihak yang membawa perubahan dan pihak yang menerima perubahan.
Perubahan tidak hanya terkait dengan produk namun juga proses kerja. Berkaitan dengan hal tersebut berikut beberapa tips yang manajemen perubahan yang bisa dilakukan:
a. Bagi pihak-pihak yang membawa perubahan
Komunikasi yang transparan tentang perubahan yang diusung haruslah menjadi prasyarat mutlak dalam melakukan perubahan organisasi. Untuk itu pihak-pihak yang bertanggung jawab membawa misi perubahan dapat secara jelas dan transparan menyampaikan kepada semua pihak yang terkena dampak perubahan semua hal terkait dengan perubahan tersebut. Sosialisasi perubahan sebaiknya sampai menyentuh pada harapan dan masa depan pegawai sehingga dapat mereduksi penolakan pegawai yang curiga masa depannya menjadi tidak jelas dengan adanya perubahan tersebut.
b. Pihak-pihak yang menerima perubahan
Bagi pihak-pihak yang terkena perubahan harus menyikapi dengan bijak untuk melihat secara jernih alasan-alasan kenapa perubahan harus dilakukan. Untuk itu sebaiknya proaktif mencari informasi yang sejelas-jelasnya mengenai perubahan yang terjadi di organisasi. Kalau misi perubahan membawa ke arah organisasi ke depan lebih baik tentu kita harus dukung. Caranya kita harus secara mental harus selalu siap untuk menghadapi setiap perubahan dan meningkatkan profesionalisme dalam bekerja. Harus disadari bahwa organisasi yang sukses adalah organisasi yang dipenuhi oleh karyawan-karayawan yang berjiwa kreatif dan inovatif. Terkait dengan kemajuan teknologi yang mau tidak mau akan membawa perubahan kita dalam cara bekerja menuntut kita untuk selalu dinamis dalam bekerja.
Tentu kita tidak bisa menggantungkan bahwa ”one fit for all”, satu cara yang dipilih dalam menyelesaikan semua masalah. Harus ada penyesuaian pada setiap kasus tergantung pada jenis permasalahan dan situasi yang dihadapi. Namun kalau semua itu bisa dialaksanakan dengan baik, kita akan menyongsong masa depan lebih baik.
13 Maret 2008
Langkah Inovatif Micro Finance Institutions Menembus Pasar Modal
Judul : Microfinance Investment Funds: Leveraging Private Capital For Economic Growth and Poverty Reduction
Editor : Ingrid Matthaus-Maier and J.D. von Pischke
Penerbit : Springer
Halaman : XIII + 290, (2006)
Oleh: Heri Ispriyahadi
”Small is beautiful” rasanya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok lembaga keuangan mikro (Micro Finance Institutions). Walau hanya memiliki modal kecil namun tidak menghalangi langkah besar lembaga ini untuk mengentaskan kemiskinan di berbagai pelosok penjuru dunia. Sebagai gambaran Grameen Bank (bank kaum miskin) mampu mendulang sukses memotong lingkaran kemiskinan di Bangladesh. Bahkan perkembangan bank kaum miskin ini telah menggurita baik dilihat dari bidang usaha maupun wilayah operasinya. Sistim Grameen bank telah menginspirasi tumbuhnya bank-bank mikro di berbagai belahan dunia termasuk di Amerika Serikat yang dikenal sebagai pusat perbankan komersial terbesar di dunia.
Satu hal yang perlu digarisbawahi ternyata kaum miskin lebih patuh dibandingkan kelompok debitur lain. Pengembalian kredit oleh kaum miskin di lembaga keuangan mikro hampir mencapai 100%. Ironisnya perbankan komersial yang sama sekali tidak melirik kaum miskin sebagai target kredit malah lebih banyak berkutat dengan masalah kredit macet. Fakta ini jelas mementahkan pandangan skeptis banyak pihak yang percaya bahwa menaruh kaum miskin dalam outlet kredit perbankan hanya memperburuk Non Performing Loan (NPL).
Kredit bagi kaum miskin dianggap sebagai satu-satunya pintu gerbang untuk keluar dari kemiskinan. Kesempatan yang sangat langka ini jelas tidak akan disia-siakan oleh kaum miskin. Mereka berkerja keras memanfaatkan kredit demi merubah nasib sehingga mampu membayar kembali pinjamannya.
Modal Terbatas
Keterbatasan sumber dana menyebabkan peran lembaga keuangan mikro untuk membantu kaum miskin juga terbatas. Hanya mengandalkan sumber dana dari para donatur dan agen pembangunan jelas tidak cukup. Padahal saat ini jutaan kaum miskin mengantri kucuran modal dari lembaga mikro. Tidak ada jalan lain lembaga keuangan mikro harus mulai keluar dari pakem pendanaan hanya mengandalkan para donatur dan agen pembangunan. Salah satu produk dari proses kreatif dan inovatif yang berhasil diluncurkan dikenal dengan nama Micro Finance Investment Funds (MFIFs). MFIFs diluncurkan pertama kali tahun 1990 an dan perkembangannya sampai dengan Oktober 2004, 55 MFIF’s telah dioperasikan.
Buku yang merupakan kumpulan tulisan para ahli micro finance dan diedit oleh Ingrid Matthaus-Maier dan J.D. Von Pischke, managing directors KfW Bankengruppe membahas MFIFs secara detail dan komprehensif. Buku ini merupakan karya ilmiah KfW untuk mempromosikan perkembangan lembaga keuangan mikro. KfW selama ini dikenal mempunyai mempunyai sejarah panjang membantu permodalan maupun technical assistance untuk lembaga keuangan mikro. Tulisan dikelompokkan dua bagian besar yaitu pasar bagi investasi di lembaga keuangan mikro dan resiko & governance investasi di lembaga keuangan mikro.
Jenis dan Strategi Pemasaran MFIFs
MFIFs dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu (i) Commercial Microfinance Investment Fund (target yang dibidik adalah para investor dan lembaga swasta), (ii) Quasi-Commercial Microfinance Investment Funds (target adalah lembaga-lembaga donor baik swasta maupun development agencies) dan (iii) Microfinance Development Funds (target utama adalah para investor yang berasal dari lembaga-lembaga non profit).
Strategi untuk mempromosikan MFIFs meliputi : (i) Grenfield Approach: mendirikan lembaga keuangan mikro baru dan memperluas jaringan, (ii) Down-Scalling Approach: restrukturisasi bank komersial lokal yang mempunyai komitmen untuk membiayai lembaga keuangan mikro, (iii) Up-grading Approach: transformasi organisasi lembaga keuangan mikro menjadi bank mikro dan (iv) Linking Approach: Menghubungkan MFIs dengan bank nasional atau bank Internasional.
Untuk menarik investor-investor agar mau berinvestasi ke lembaga-lembaga keuangan mikro berbagai langkah maju telah dilakukan. Lembaga keuangan mikro melakukan transformasi menjadi bank, menyeimbangkan tujuan sosial dan bisnis serta lebih transparan menyajikan informasi. Perubahan ini di satu sisi membuka pintu lebar-lebar lembaga keuangan mikro untuk inovasi, diversifikasi produk dan lebih profesional dalam melayani para nasabahnya. Namun di sisi lain apabila tidak dikelola dengan baik orientasi lembaga keuangan mikro bisa terjerumus dominasi pada kegiatan bisnis dibandingkan sosial.
Prospek Menjanjikan
Bisnis lembaga keuangan mikro ternyata memberikan keuntungan yang besar. Berdasarkan penelitian Micro’ Rate tahun 2004 pada 30 lembaga keuangan mikro terkemuka di Amerika Latin mencatat hasil yang mengejutkan karena Return on Earning (ROE) nya lebih tinggi dibandingkan Citigroup maupun bank-bank lokal. Hasil studi ini yang membuat optimis banyak kalangan akan keberhasilan peluncuran MFIFs. MFIFs diharapkan menjadi kendaraan bagi sektor keuangan mikro untuk mendapatkan tambahan modal.
Rasa optimisme muncul akan perkembangan MFIFs dengan berbagai alasan yaitu pertama, selama ini telah terbukti bahwa lembaga keuangan mikro atau bank mikro memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Hubungan antara pegawai yang menangani pinjaman dengan nasabah-nasabahnya terjalin hubungan erat dan sangat loyal. Sebagai contoh lembaga-lembaga keuangan mikro di Bangladesh dan Bolivia mampu memberikan langkah besar yang inovatif sehingga mampu memberikan pinjaman dengan biaya yang rendah. Jumlah nasabah potensial sangat besar yaitu besarnya kaum miskin sehingga memberikan harapan akan semakin meningkatnya bisnis lembaga keuangan mikro. Kedua, biaya transaksi yang rendah karena proses kredit yang tidak berbeli-belit menjadi pertimbangan investor yang menghendaki adanya nilai tambah dari uang yang mereka investasikan. Terakhir, keterlibatan investor dalam investasi bisnis lembaga keuangan mikro membuat hidup mereka lebih bermakna dan menyenangkan.
MFIFs diibaratkan menyediakan sepotong kue yang hilang dari sisi suplai (investor dan capital market) dengan sisi permintaan lembaga keuangan mikro. Critical link adalah MFIFs menghubungkan pasar modal dengan microentrepreneurs di seluruh dunia. Dengan demikian menghubungkan antara sektor informal ekonomi dengan formal ekonomi yang menawarkan suatu formula untuk pertumbuhan berkesinambungan bagi berjuta-juta rumah-rumah tangga berpenghasilan rendah dalam operasi ekonomi yang informal. MFIFs mempunyai kontribusi yang potensial untuk memenuhi Millenium Development Goals (MDGs)
Usaha Mandiri
Sebagaimana halnya buku-buku micro finance lainnya, para pembaca dapat memetik pelajaran betapa signifikannya peran lembaga keuangan mikro bagi progam mengentaskan kemiskinan. Namun nilai lebih yang menjadi kekuatan dari buku ini adalah menanamkan semangat kemandirian pada lembaga keuangan mikro. Menjadi usaha mandiri akan mendorong kreativitas, inovasi dan profesional dalam berbisnis.
Peluncuran MFIFs oleh lembaga keuangan mikro merupakan proses kreatif dan inovatif untuk melepaskan ketergantungan pendanaan dari para donatur dan agen pembangunan.
Semangat kemandirian hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi lembaga keuangan mikro di Indonesia. Ketergantungan pada bantuan dana dari pemerintah yang membuat lembaga keuangan mikro mengalami pertumbuhan yang sangat lamban. Kondisi ketidak mandiran ini juga menjadi kritik tajam dari Muhammad Yunus sebagai faktor utama dibalik kegagalan Indonesia menerapkan sistim Grameen bank. Tugas pemerintah hanya sebatas pada memfasilitasi, sedangkan kinerja lembaga keuangan mikro sepenuhnya tergantung pada kreativitas dan integritas dari para pengurus.
Ditengah-tengah momentum meningkatnya intensitas pembahasan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini, kehadiran buku Micro Finance Investment Funds (MFIFs) sangat menarik untuk dibaca. Membaca buku ini akan membuka wawasan tentang inovasi-inovasi yang dilakukan lembaga keuangan mikro di dunia ini.
Dikemas dengan gaya bahasa ilmiah dan diperkaya hasil-hasil penelitian oleh lembaga penelitian yang kredibel membuat buku ini cukup berbobot. Namun, pembaca yang ingin tahu banyak tentang bagaimana perkembangan MFIFs di Asia tidak akan mendapatkannya dalam buku ini. Para penulis lebih banyak menjelaskan perkembangan MFIFs di Eropa dan Amerika Latin.
Buku ini akan menjadi lebih menarik apabila para penulis dapat melengkapi perkembangan MFIFs di Asia. Namun demikian dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi acuan praktis terutama kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya yang berkecimpung dalam pengembangan UMKM maupun program pengantasan kemiskinan. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah lembaga keuangan mikro, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan langkah-langkah inovatif mendiversifikasi sumber pendanaan di negara-negara lain.
11 Maret 2008
MENGURAI BENANG KUSUT KORUPSI DI INDONESIA
Kompas hari ini tanggal 11 Maret 2008, memuat berita bahwa Indonesia menduduki juara ketiga dalam hal korupsi di Asia setelah Phlipina dan Thailand versi PERC (Political and Economic Risk Consultancy). Peringkat ketiga tersebut atas dasar hasil survey terhadap 1400 warga asing pelaku bisnis pada bulan Januari dan Februari 2008. Hasil ini jelas tidak ada yang dibanggakan bahkan membuat muka kita tercoreng. Tidak hanya PERC, berbagai survey juga menunjukkan bahwa Indonesia selalu menduduki peringkat tinggi untuk masalah korupsi.
Korupsi kenapa sulit diberantas di tanah air tercinta ini? kalau kita runut penyebabnya karena korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan luas. Bahkan bisa dikatakan korupsi sudah mendarah daging dan menyatu dalam diri oknum aparatur pemerintah dari tataran yang paling rendah sampai pucuk pimpinan tertinggi. Padahal ajaran agama apapun jelas-jelas menyatakan korupsi adalah perbuatan terlarang. Berbagai alasan-alasan pembenaran pelaku korupsi dikemukan dari gaji yang terlalu rendah, kesejateraan yang minim sampai biaya hidup yang terus merangkak naik. Kalau dihitung secara matematis memang gaji yang diterima oleh pegawai pemerintah sangat rendah dan sulit untuk bertahan sampai akhir bulan. Namun apakah korupsi sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan hidup ini. Kalau mau jujur sebenarnya masih banyak saudara-saudara kita yang lebih menderita dari para aknum aparatur pemerintah kita. Bukan jalan pintas korupsi yang seharusnya dipilih akan tetapi kerja keras dengan mencari ridho Allah SWT yang sebaiknya dilakukan.
Namun ironisnya, korupsi yang dilakukan dengan menisbikan ajaran agama dan telah menjadi budaya yang sulit diberantas. Pegawai baru yang masih polos dengan integritas yang baik pun sulit untuk membendung arus korupsi yang begitu kuat. Tidak tahan arus yang sedemkian kuat akhirnya mereka pun terseret masuk ke dalam lingkaran kourpsi. Akhirnya, saat pertama kali menerima hasil korupsi hati mereka campur aduk antara takut dan bersalah. Perasaan tersebut berangsur-angsur menghilang seiiring dengan merebaknya korupsi di tempat dia bekerja dan tidak ada resiko yang dia tanggung karena korupsi yang dilakukan sudah dapat dikatakan sebagai korupsi berjamaah. Iman yang mulai tergerus dan kenikmatan duniawi yang dirasakan membuat korupsi yang dilakukan semakin menjadi-jadi.
Kalau kita perhatikan berbagai korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah. Setiap hari mass media cetak dan televisi menyiarkan berbagai kasus korupsi. Namun hasil sidang kourpsi sering mengecewakan karena si pelaku yang sudah merugikan negara berhasil mempengaruhi sang penegak keadilan sehingga mereka mendapat hukuman yang ringan tidak setimpal dengan perbuatannya. Di sisi lain pelaku kriminal kecil-kecilan harus merasakan hukuman berat yang tidak sebanding dengan hasil kejahatannya. Kondisi inilah yang membuat korupsi semakin subur dan sulit untuk diberantas.
Apakah kita menyerah dengan keadaan ini dan membiarkan kejahatan korupsi merajelela di tanah air tercinta. Seharusnya tidak, kita harus tetap yakin dan percaya bahwa korupsi harus dimusnahkan di bumi tercinta ini. Mungkin tidak bisa langsung secara drastis, pemberantasan harus dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan. Jangan hanya untuk konsumsi politik,maka pemberantasan dilakukan hanya sporadis dan tebang pilih. Korupsi jelas memberikan dampak sangat merugikan bagi perekonomian. Investor-investor asing yang diharapkan menjadi tambang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat satu persatu meninggalkan Indonesia karena tidak tahan berhadapan dengan aparatur-apratur pemerintah yang korup. Mereka harus mengeluarkan biaya-biaya siluman yang jumlahnya tidak sedikit. Kondisi ini menyulitkan mereka dalam berusaha karena harus menanggung ekonomi biaya tinggi sehingga sulit bersaing. Tidak hanya pengusaha asing, pebisnis lokal pun juga merasakan besarnya biaya-biaya siluman yang mereka harus keluarkan. Kualitas infrastruktur hasil pembangunan juga buruk akibat besarnya korupsi yang disunat dari anggaran proyek. Sering kita dengar bangunan runtuh, jalan rusak, jembatan ambruk tidak lama setelah diresmikan.
Mengingat begitu dasyatnya dampak dari korupsi tersebut maka kita harus bahu membahu menyatukan tekat untuk bersama-sama perang melawan korupsi. Paling tidak seperti yang AA Gym katakan dalam setiap ceramah yang terkena dengan 3 M nya yaitu Mulai diri sendiri, Mulai saat ini dan Mulai dari yang kecil. Prinsip 3M ini sangat dasyat kalau semua pihak dapat menjalankannya, hasilnya korupsi bisa ditekan seminimal mungkin. Berikut ini ada beberapa usulan yang diharapkan bisa mengurangi korupsi :
1.Perkuat pilar agama. Kalau hal ini berhasil dilakukan, Insya Allah korupsi secara berangsur-angsur akan lenyap dari bumi Indonesia. Ingat Allah SWT berarti tidak akan berbuat korupsi. Siksa yang pedih akan menimpa orang yang berbuat korupsi entah di dunia atau akhirat nantinya. Sedari kecil hendaknya ditanamkan ajaran-ajaran agama sehingga pada saat dewasa akan menjadi tembok yang sangat kokoh menghadapi terjangan angin, ombak maupun fenomena kehidupan lainnya.
2.Tegakan supremasi hukum seadil-adilnya dan Korupsi diberlakukan sebagai kejahatan besar dengan memberikan hukuman berat. Hal ini dilakukan agar orang menjadi jera melakukan korupsi. Kalau perlu pelaku korupsi dikenakan hukuman mati seperti yang dijalankan di China.
3.Tingkatkan kesejahteraan pegawai. Artinya untuk memerangi korupsi maka sebaiknya diberikan gaji dan fasilitas yang cukup. Memang hal ini berat bagi pemerintah untuk menyediakan anggaran yang sangat besar. Namun hal ini dapat dilakukan dengan melakukan langkah-langkah efisiensi-efisiensi yang selama ini membebani anggaran.
4.Perkuat sistim pengawasan dalam setiap pelaksanaan proyek. Kondisi ini mutlak diperlukan untuk memangkas kesempatan orang berbuat korupsi.
5.Tayangkan foto pelaku korupsi dalam media massa. Mungkin bertentangan dengan HAM, namun efektif membuat malu si pelaku korupsi.
Lima langkah tersebut kalau betul-betul dijalankan. Insya Alllah kita akan menikmati indahnya negara tercinta ini terbebas dari korupsi, masyarakat yang hidup tenang damai dan sentosa. Semoga.
Pelabuhan Terakhir Kehidupan
Belum lama berselang saya kehilangan Ayahanda mertua tercinta yang telah berpulang ke rahmatullah. Ruh pun telah berpisah dengan raga. Yang tersisa hanyalah jasad yang terbujur kaku tak berdaya melakukan apapun. Berbagai upacara dilakukan dari memandikan, menyolatkan, mengkafani dan terakhir menguburkan jenasah almarhum ayah tercinta. Tubuh yang sudah tak bernyawa mulai tercerai berai dan menyatu dengan tanah. Betapa Allah SWT begitu kuasanya dan kita makhuk ciptaannya tidak mampu menolak apabila Sang maha pencipta berkehendak memanggil kita untuk kembali ke rumah Allah. Melihat ini semua membuat hati saya miris menerima kenyataan ini. Sehebat apapun kita dengan tubuh yang sangat kuat, harta yang berlimpah, dan jabatan yang sangat tinggi tidak artinya di mata Allah SWT. Semua itu ditinggalkan begitu saja saat kita menghadap sang pencipta . Yang kita bawa hanyalah amalan perbuatan kita di muka bumi.
Betapa menyesalnya kita kalau pada saat napas terhenti ternyata belum banyak pundi-pundi amal ibadah yang kita kumpulkan, sementara perbuatan-perbuatan yang sesat lebih banyak kita lakukan. Terbayang di depan mata betapa pedihnya siksaan di alam kubur dan alam barzah. Demikian pula pintu neraka pun terbuka lebar-lebar bagi kita yang hidupnya selalu dipenuhi perbuatan dosa yang dilarang oleh Allah SWT. Siksaan-siksaan akan mendera kita dan betapa pedihnya kita harus menanggung segala perbuatan kita. Sementara di tempat lain, betapa irinya kita menyaksikan orang-orang yang selama hidupnya dipenuhi tagwa kepada Allah SWT dengan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar menikmati indahnya surga yang disediakan oleh Allah SWT.
Kalau roda kehidupan bisa diputar ulang tentu kita akan mencoba untuk mengisi kembali ruang-ruang hampa kehidupan kita yang jauh dari perbuatan mulia. Masalahnya pada saat Allah SWT telah menetapkan batas akhir kehidupan kita di dunia fana ini, maka semua catatan-catatan amalan dan ibadah kita yang kita ukir selama ini ikut berhenti. Bahkan sedetik pun kita tidak bisa minta pengunduran waktu kepada Allah SWT untuk meminta tambahan waktu memperbanyak amalan-amalan yang dirasa masih kurang.
Dengan kejadian meninggalnya mertua tercinta, mantan presiden Soeharto, mantan penyanyi rock Bangun Sugito dan juga yang lainnya, kita bisa menarik benang merah bahwa Allah SWT tidak peduli siapapun orangnya kalau sudah waktunya tiba maka orang-orang yang dikehendakinya harus berpisah dengan keluarga tercinta. Tidak seperti kehidupan di dunia ini, kita menyaksikan betapa mudahnya hukum dipermainkan dengan kekuatan uang semua bisa diatur. Orang yang bersalah bisa bebas, sebaliknya orang yang tidak bersalah menjadi korban mafia peradilan. Demikian pula dalam mengurus berbagai perijinan, aturan-aturan yang telah ditetapkan diacak-acak oleh kekuatan uang. Orang-orang yang punya jabatan tinggi begitu berkuasanya menabrak berbagai rambu-rambu aturan untuk meraih apa yang diinginkan. Namun semua itu tidak ada artinya di mata Allah SWT, yang ada adalah tanggung jawab mereka atas segala perbuatannya selama ini.
Segala urusan dunia akan terputus begitu kita menghadap sang pencipta. Namun ada tiga amalan yang masih bisa menambah argo amalan kita setelah meninggal dunia yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak yang soleh dan sholehah. Untuk itu marilah kita konsentrasikan hidup kita agar kita memperbanyak amalan sehingga disaat berada di pelabuhan terakhir kehidupan sudah banyak tabungan amalan kita. Selalu mengingat kematian adalah cara terbaik untuk mengendalikan hidup kita. Adanya lonceng kematian yang akan dihadapi menyadarkan kita untuk selalu berbuat baik dan menjauhkan dari perbuatan yang dilarang agama.
Bukan berarti ingat kematian menjadikan kita apatis dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Kita harus harus selalu optimis dan berpikir positip untuk menjalankan kehidupan ini. Keseimbangan dunia dan akhirat yang menjadi tujuan kita. Berbuatlah baik seolah-olah besok kita akan mati dan bekerja keras lah seolah-olah kita akan hidup selamanya. Prinsip ini harus kita pegang teguh sehingga kita merasa nyaman dalam menata kehidupan ini. Bekerja untuk menafkahi keluarga merupakan ibadah, kekayaan yang banyak yang digunakan di jalan Allah SWT akan menambah argo amalan kita dan mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah merupakan investasi yang tak ternilai harganya.
Pelabuhan terakhir adalah sesuatu yang pasti dihadapi manusia, hanya saja kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Untuk itu marilah kita perbanyak amal ibadah kita, berusaha menjalankan amal ma’ruf nahi munkar dan kita songsong akhir kehidupan ini dengan husnul khotimal. Amin 3x
10 Maret 2008
Membedah Roda Bisnis Investment Banking
Editor : K. Thomas Liaw
Penerbit : John Wiley & Sons, Inc
Halaman : XII + 440, (2006)
Oleh : Heri Ispriyahadi
Kemajuan teknologi informasi yang pesat dan kerjasama yang semakin erat antar negara di bidang keuangan membuat hubungan pasar modal internasional semakin terintegrasi. Aliran dana dalam jumlah besar melintasi batas negara dan semakin banyak negara yang mengakses pasar keuangan internasional. Keterlibatan investment banking dalam pasar global tidak hanya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada kliennya, namun juga akan meningkatkan pendapatan mereka. Untuk mencapai target ini investment banking harus selalu bergerak dinamis mengikuti perubahan yang terjadi. Cakupan bisnis menjadi beragam dan persaingan semakin ketat tidak hanya melibatkan pelaku bisnis domestik namun juga asing. Selain itu penggunaan mata uang tunggal di kawasan Uni Eropa, masuknya China ke WTO, deregulasi keuangan di sejumlah negara besar juga ikut merombak peta bisnis invesment banking.
Berbagai kemudahan yang diberikan sejumlah negara dengan melakukan deregulasi di bidang keuangan telah membuat peningkatan eskalasi bisnis investment banking. Di Amerika Serikat, peraturan baru di bidang keuangan mengijinkan perbankan, perusahaan asuransi dan sekuritas melakukan afiliasi dalam bentuk holding company. Diberlakukannya peraturan ini membuat holding company menjelma menjadi raksasa di bidang keuangan karena dapat melayani hampir semua layanan baik kredit maupun produk-produk yang ditawarkan investment bank. Hal ini jelas menambah tekanan bagi Investment banks yang tidak ikut dalam holding company.
Namun di sisi lain skandal keuangan Enron dan WorldCom, membuat para pembuat kebijakan dan shareholders lebih meningkatkan kewaspadaan pada masalah transparasi, akuntabilitas dan corporate governance. Dikeluarkan the Sarbanes-Oxley Act of 2002 adalah sebagai respon untuk menjamin akuntabilitas korporasi dan mengembalikan kepercayaan publik. Dibawah Undang-Undang ini, the Public Company Accounting Oversight Boards (PCAOB) diberi wewenang untuk menerapkan sanksi disiplin pada perusahaan-perusahaan go public yang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku. Selain itu untuk menjamin transparansi, semua transaksi koreksi (adjusment) dan rekening administrasi (off-balance sheet) harus diungkapkan ke publik.
Bisnis Yang Dinamis
Invesment banking merupakan bisnis yang sangat cair dan dinamis. Untuk melakukan bisnis ini harus selalu melihat peluang dan mengantisipasi tren pasar dengan sumber daya yang ada untuk menghasilkan keputusan terbaik. Oleh karena itu kinerja investment banking harus memberikan keputusan yang cerdas bagi kliennya. Beberapa hal penting yang berkembang saat ini. Pertama, regulatory complience dan high standard governance telah menjadi bagian dari bisnis. Kedua, Eropa dan Asia telah mengalami perkembangan yang pesat. Terakhir, banyak perusahaan menerapkan strategi diversifikasi produk untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang berkesinambungan.
Pada awalnya bisnis Investment bank adalah memberikan jasa bagi kalangan perusahaan, investor maupun pemerintah yang akan melakukan merger, akuisisi, divestiture, menerbitkan saham atau obligasi. Namun dalam perkembangannya cakupan bisnis semakin luas merambah bisnis trading sekuritas, sekuritisasi, rekayasa keuangan, merchant banking, manajemen investasi dan jasa sekuritas.
Pendapatan yang diterima dari bisnis invetsment banking berupa underwriting spread, fee, komisi, dan keuntungan dari principal transactions. Selain menggunakan modal dari investor, investment bank juga menggunakan dana sendiri untuk menjalankan bisnisnya, seperti proprietory trading. Bahkan sejumlah investment banks seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sach dan Citigroup juga menyediakan dana kepada kliennya dengan melakukan pembelian sekuritas.
Full Services versus Boutique
Dalam menjalankan roda bisnis, kalangan investment bank dapat memilih satu dari dua bentuk jenis usaha yaitu full service atau boutique. Full service memberikan pelayanan yang komplit dari underwriting, trading, Merger’s and Acquisitions (M&A), merchant banking, jasa sekuritas, manajemen investasi sampai riset. Goldman Sach, Morgan Stanley dan Merril lynch yang merupakan kelompok Investment bank dan Citigroup, HSBC, Credit Suisse, JP Morgan Chase dari kelompok holding company termasuk perusahaan yang menjalankan usaha full service. Sementara Boutique khusus melayani segment market tertentu (niche market). Contoh perusahaan-perusahaan dari kelompok ini adalah Sandlers O’neill yang mengkhususkan diri pada financial institutions, Greenhill fokus pada M&A, resrukturisasi keuangan dan merchant banking, dan Lazard spesialisasi pada financial advisory dan asset management.
Dalam berbisnis, Investment bank tentu dihadapkan pada sejumlah resiko seperti market risk, credit risk, operating risk, reputation risk, legal risk dan funding risk. Untuk menghadapi resiko tersebut manajemen investment banks perlu memilih dan menerapkan strategi yang tepat dan efektif sehingga resiko dapat diminimalisir. Sukses dalam mengelola resiko yang diikuti dengan perluasan cakupan bisnis usaha akan membantu investment bank mencapai tujuan pertumbuhan yang berkelanjutan (sustain).
Asia, China dan Emerging Market Makin Terbuka
Untuk mendongkrak perkembangan pasar modal, negara-negara di Asia dan emerging market lainnya menjadi lebih akomodatif. China membuka pasarnya bagi investment bank asing agar ikut berkiprah menjalankan bisnis di negara tersebut sepanjang telah melakukan merger dengan perusahaan China. Bergabungnya China dengan WTO pada tahun 2001 dengan rekor pertumbuhan ekonominya yang fantastis akhir-akhir ini menjadi magnet kuat bagi kalangan investment banks global. Goldman Sach, Morgan Stanley dan Citigroup bersaing memperebutkan pasar yang potensial di China.
Perkembangan pasar modal di negara-negara Asia lainnya maupun emerging market juga berkembang pesat. Selain perbankan, pasar modal menjadi alternatif penting bagi perusahaan-perusahaan untuk mencari sumber dana. Bagi kalangan investor, pasar modal menjadi lahan yang menarik untuk berinvestasi. Untuk menarik minat investor-investor asing menjadikan pasar modal Asia menjadi outlet berinvestasi maka negara-negara Asia dan emerging market memperlonggar peraturan yang berlaku. Kondisi ini ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menguat, mengundang kehadiran holding company maupun investment banks global meramaikan aktivitas pasar modal di negara-negara tersebut.
Rujukan Bagi Banyak Kalangan
Buku ini ditulis Dr Liaw dengan semangat memperluas cakupan materi sekaligus melakukan revisi atas buku edisi pertama. Sebagai buku yang banyak dirujuk kalangan profesional dan akademisi yang menggeluti bidang keuangan, materi yang disajikan cukup komprehensif. Untuk memberikan pemahaman yang lengkap kepada pembaca, setiap produk investment banking dibahas dalam setiap bab tersendiri yang dilengkapi dengan data dan informasi dari hasil survey maupun riset oleh lembaga-lembaga peneliti yang kredibel. Selain itu penulis juga menyajikan perkembangan usaha dari raksasa bisnis invesment bank maupun holding company seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sach dan Citigroup dalam buku ini.
Sajian tentang Pasar sekuritas di China dan negara-negara emerging market lainnya merupakan daya tarik tersendiri buku ini. China yang dulu dikenal dengan tirai bambunya sekarang sudah berubah wajah menjadi negara yang terbuka sejak bergabung dengan WTO pada tahun 2001. Perkembangan pasar modal di China dan emerging market diulas dengan gamblang dalam buku ini. Sebagai presiden Chinese American Academic dan penulis buku China’s and banking secutires market, maka bukan hal yang sulit bagi Dr. Liaw untuk mengupas habis peluang dan tantangan bagi investment bank berbisnis di pasar modal China.
Selain memberikan pembekalan pengetahuan yang mendalam mengenai bisnis investment banking, para pembaca buku ini yang ingin berkarir dalam bisnis investment banking dapat memperoleh informasi tersebut pada bab 4. Demikian pula bagaimana proses kliring dan penyelesaian transaksi (clearing and settlement) juga diulas pada bab tersendiri. Pada akhir penulisan, buku ini ditutup dengan bab yang memprediksi potensi perkembangan investment banking di masa mendatang. Secara keseluruhan buku ini cukup tebal karena memuat 20 bab yang masing-masing bab nya dijelaskan secara detail. Namun demikian kemampuan penulis mengolah materi buku dengan kemasaan bahasa yang tidak terlalu ilmiah dan alur bahasan yang runtut membuat buku ini menarik untuk dibaca sampai tuntas.
Setelah membaca dan mengerti isi buku ini, maka para pembaca dapat mengikuti perkembangan topik yang masih hangat saat ini yaitu anjlognya subprime mortgage bond market di Amerika Serikat. Subprime mortgage bond merupakan salah bentuk sekuritisasi dari kredit perumahan. Dalam buku ini bahasan mengenai sekuritisasi aset baik dalam bentuk Mortgage Back Securities (MBS) maupun Asset Back Securities (ABS) dikupas secara gamblang pada bab 9. Seperti diketahui bahwa kegagalan bisnis subprime mortgage bond ini telah menimbulkan sentimen negatif dan menjadi virus yang mempunyai efek tular luar biasa. Pasar modal di berbagai pelosok dunia ikut bergejolak. Kalangan investment banks yang mempunyai eksposur subprime motgage bond mengalami tekanan hebat seperti kerugian yang dialami Goldman Sach dan Bear Stern.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi acuan praktis terutama kalangan profesional di bidang keuangan, pengamat pasar modal, perbankan, bank sentral, investor, pembuat kebijakan maupun pelaku bisnis terkait investment banking. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami masalah investment banking, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan yang dimilikinya
Kemajuan Iptek Mendongkrak Kebangkitan Ekonomi India
di Era Globalisasi)
Editor : Irwan Suhanda
Penerbit : PT Kompas Media Nusantara
Halaman : XXIII + 247, (2007)
Oleh: Heri Ispriyahadi
Kinerja ekonomi India yang tumbuh fantastis dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat perhatian dunia. India mencatat rekor tumbuh tercepat kedua setelah China. Bahkan ke depan diperkirakan India bersama China akan menjelma menjadi kekuatan besar setara dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kebangkitan ekonomi India bagai magnet yang menyedot banyak pihak untuk mempelajari lebih dalam mengenai India. Untuk menjawab kebutuhan ini hadir ditengah-tengah kita buku-buku maupun artikel-artikel yang ditulis oleh berbagai kalangan yang mendalami ekonomi India. Demikian pula hadirnya buku ini juga dimaksudkan untuk menuntaskan dahaga para pembaca yang haus akan informasi tentang India. Dari berbagai buku dan artikel tersebut dapat ditarik benang merah bahwa kunci sukses kemajuan ekonomi India terletak pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang maju pesat.
Buku ini merupakan bunga rampai tulisan-tulisan yang dimuat surat kabar harian Kompas tentang India dari berbagai sudut pandang. Catatan penting yang patut digarisbawahi dari kemajuan India terletak pada tiga hal yaitu liberalisasi dan reformasi ekonomi, kekuatan internal dan dukungan lingkungan eksternal. Sejak merdeka tahun 1947 sampai tahun 1990, aktivitas ekonomi India berjalan sangat lamban. Kondisi ini akibat kebijakan ekonominya tidak pro pasar, campur tangan pemerintah yang sangat kuat dan mengandalkan subtitusi impor. Namun sejak terjadi kesulitan neraca pembayaran tahun 1991 memaksa India harus melakukan reformasi di berbagai bidang baik ekonomi maupun non ekonomi. Perubahan paradigma ini ternyata berdampak positif pada ekonomi India tercermin dari peningkatan perdagangan luar negeri, aliran modal asing mengalir deras baik dalam bentuk PI (Portfolio Investment) maupun FDI (Foreign Direct Investment) dan aktivitas ekonomi yang mulai bergairah.
India selama ini dikenal sebagai negara yang relatif tertutup dan pasarnya sulit ditembus oleh pihak asing. Faktor dominan adalah menisbikan kekuatan pasar diikuti semangat swadesi (memenuhi kebutuhan sendiri) yang kental. Peran pemerintah sangat dominan yaitu mengatur segalanya. Strategi ini ternyata tidak ampuh menjadi kekuatan pembangunan bahkan hasil yang diperoleh kemiskinan semakin merajelela. Di bawah kepemimpinan PM PV Nashimha Rao dan Menteri Keuangan Manmohan Sigh (kini menjabat PM) sejak tahun 1991 India mulai membuka diri dengan melakukan liberalisasi ekonomi. Pemerintah mulai melucuti Lisensi Raja (dalam hal investasi, industri dan lisensi impor), mengakhir monopoli negara di banyak sektor, dan mengijinkan investor asing menggeluti bisnis domestik. Perubahan paradigma pada kekuatan pasar dan sentuhan asing membawa India menjadi kekuatan dunia.
Dua sektor yang luput dari campur tangan pemerintah yaitu bidang teknologi informasi dan industri film ternyata malah menjadi kekuatan besar India di kemudian hari. Kemajuan IT(Information Technology) India sangat fenomena, bahkan kota Bangalore telah menjadi pusat IT dunia. Hampir semua industri IT raksasa membuka kantor di kota ini dari Microsoft, IBM, Infosys dan Wipro. Kesemuanya itu didukung oleh kualitas pendidikan teknologi informasi yang memiliki reputasi internasional. Industri film di India merupakan industri layar lebar terbesar di dunia bahkan telah mengalahkan Hollywood dalam jumlah produksi film. Industri film ini mempunyai peran yang sangat besar dalam menyerap tenaga kerja. Sebanyak 2,3 juta orang India bekerja di sektor ini.
Centre of Excellent
Salah satu langkah krusial yang menjadi awal kebangkitan India adalah besarnya perhatian pemerintah pada kualitas pendidikan. Sistim dan kualitas pendidikan di India mempunyai standar dunia. Bahkan India dikenal sebagai pemasok pekerja ahli di dunia. Sebagai gambaran pada tahun 1990 an dari 150.000 pekerja asing yang bekerja di perusahaan IT Amerika Serikat sebanyak 60.000 diantaranya adalah para pakar software dari India. Kemajuan teknologi yang pesat menakutkan negara-negara maju lainnya. Menurut analis JP Morgan, dengan penduduknya yang mayoritas berusia muda dan berpengetahuan tinggi, maka dalam 20-30 tahun mendatang India diunggulkan dalam pelayanan teknologi informasi atau berbasis pengetahuan dengan layanan jarak jauh.
Kemajuan para entrepreneur India sudah mengglobal. Sejumlah perusahaan India dikenal sebagai pemain kelas dunia seperti Tata, Infosys, dan TVS Motor Company. Sepak terjang Tata bahkan telah menjadi pemain dunia yang patut diperhitungkan. Saat ini kiprah Tata telah beroperasi di 40 negara dengan 90 perusahaannya. Diversifikasi bisnis Tata sangat luas dari otomotif, baja, TI dan komunikasi, jasa, consumer products dan pertanian.
Di bidang farmasi India juga dikenal sangat spetakuler dan diperhitungkan di arena global. India memasok 40% kebutuhan dunia untuk obat-obatan curah (bulk). India dewasa ini mampu memproduksi obat-obatan jauh lebih murah dari negara manapun yaitu hanya separuh biaya produksi di Amerika Serikat. Dengan modal intelektual yang sangat kuat, India mampu memproduksi hingga 10 obat generik dalam setahun, sementara produsen asing hanya maksimal 2 produk. India saat ini juga mengincar pasar pelayanan medis. Dengan ongkos 80% lebih rendah di banding di AS, beberapa perusahaan di AS sedang menjajagi jasa perawatan kesehatan di India.
Isu Ketimpangan Pembangunan
Namun ditengah euphoria kemajuan ekonomi yang pesat ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan pemerintah India. India saat ini masih menganut dualisme ekonomi sebagian modern dan sebagian lainnya masih tertinggal. Pembangunan tidak merata tercermin dari pembangunan yang timpang di daerah Selatan dengan Utara. Disparitas tidak hanya dalam hal pertumbuhan ekonomi akan tetapi juga infrastruktur fisik dan sosial, arus investasi dan modal. Pembangunan lebih terkonsentrasi di wilayah India bagian selatan (Southern Corridor). Kondisi ini harus diwaspadai pemerintah India karena ketimpangan makin tinggi akan menjadi persoalan sosial politik di masa mendatang. Ketimpangan internal mengancam kohesi sosial.
Di wilayah selatan tumbuh menjadi kluster pusat pertumbuhan industri dan menjadi tujuan favorit investasi untuk IT, telekomunikasi, manufaktur dan jasa. Bangalore menjadi IT hub dan mendapat julukan lembah silikon-nya India (Silicon Valley of India). Hyderabad menjadi pusat pertumbuhan industri farmasi dan bioteknologi atau Genome Valley of India. Chenal sebagai daerah otomotif yang dikenal sebagai Detroit nya India. Kemiskinan kebanyakan terkonsentrasi di negara-negara bagian utara terutama Bihar, Mardya Pradesh, Rajastan dan Uttar Pradesh (BIMARU).
Isu Kemiskinan
Ironis di tengah kemajuan ekonomi yang mencengangkan banyak orang, persoalan kemiskinan masih menjadi isu di India. Sepertiga sampai setengah miliar penduduk India masih hidup dibawah garis kemiskinan. Meski dikenal sebagai negara superpower di bidang IT dan sangat unggul di bidang pendidikan, indikator pembangunan manusia secara umum masih terbelakang. Tingkat melek huruf di negara ini hanya 69% dan 53% anak usia SD harus drop out karena kemiskinannya. Angka kematian bayi mencapai 5 orang per 1000 kelahiran hidup. Peraih Nobel Ekonomi berdarah India, Amartya Sen, melihat kemiskinan dan kelaparan India sebagai cerminan kegagalan pembangunan sosial ekonomi dari India yang sukses membangun demokrasi di bidang politik dan industri berbasis teknologi.
Pertanian India saat ini sedang dalam persimpangan jalan. Revolusi hijau yang selama ini berhasil menyelamatkan muka India yang terus menerus didera kelaparan ternyata meminta korban yang lebih besar. Eksploitasi lahan dan pemakaian pupuk serta obat-obatan kimia yang berlebihan telah membuat kesuburan tanah menurun. Kemiskinan petani di India tak lepas dari lahan yang kecil. Ketentuan yang menyangkut subsidi pertanian juga tak lagi leluasa diterapkan oleh pemerintah akibat globalisasi dan liberalisasi pasar.
Buku bunga rampai yang disusun dengan memadukan 49 artikel pendek jelas berbeda bila dibandingkan dengan buku-buku tentang India lainnya seperti buku yang diterbitkan IMF yaitu India Goes Global, its Expanding Role in the World Economy dan CHINDIA, How China and India Are Revolutionizing Global Business yang ditulis oleh Pete Engardio. Target yang dibidik buku ini adalah pembaca kalangan luas sehingga informasi-informasi yang disajikan lebih ringkas dengan kemasan gaya bahasa popular. Kaum awam sekalipun dapat dengan mudah mengikuti alur cerita yang dikupas buku ini. Sementara kedua buku terakhir ditargetkan pada pembaca yang mendalami masalah ekonomi sehingga lebih sarat dengan teori dan diperkaya hasil riset tentang India.
Kekuatan sekaligus menjadi kelemahan dari buku ini adalah para pembaca akan mendapat sajian informasi yang cukup lengkap tentang India walau hanya sepotong-potong. Dengan membaca buku ini para pembaca dapat gambaran sisi positif dan negatif terkait dengan kebangkitan ekonomi India. Ditengah euphoria kebangkitan ekonominya, pemerintah India ternyata masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Buku ini akan lebih menarik kalau editor dapat melengkapi dengan tulisan ringkas atau artikel mengenai pelajaran berharga apa yang bisa dipetik dari kebangkitan ekonomi India.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini dapat menjadi dorongan semangat bagi semua pihak untuk meniru sisi positif langkah-langkah yang ditempuh India dalam pembangunan ekonominya. Bagi kalangan pembuat kebijakan baik dari pemerintah, bank sentral, perbankan maupun lembaga-lembaga lainnya yang bertanggung jawab pada pembangunan ekonomi, buku ini dapat menjadi acuan praktis. Bagi kalangan akademisi atau pihak lain yang berminat mendalami ekonomi pembangunan, buku ini juga bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan akan pembangunan ekonomi yang dilakukan negara lain.
04 Maret 2008
MEMPERKOKOH JALINAN KELUARGA
Keluarga Sakinah Warohmah dan Mawadah adalah angan-angan yang ingin digapai oleh semua orang. Keluarga yang dipenuhi saling mencintai, menyayangi, saling menghormati satu sama lain dambaan semua insan di dunia ini. Namun ternyata mewujudkan keluarga seperti itu bukanlah pekerjaan membalik telapak tangan. Dibutuhkan usaha keras dan dukungan dari semua pihak dalam keluarga baik Ayah, ibu dan anak. Namun yang paling besar tanggung jawabnya adalah Ayah sebagai kepala keluarga. Peran Ayah sangat vital sebagai nahkoda yang akan menggerakkan kemana kapal akan berlayar dan berlabuh. Ibu pun tidak kecil peranannya dalam pembangunan watak dan karakter anak-anak serta mengatur keuangan keluarga.
Dalam konteks agama, istri adalah ladang amal bagi suami, sebaliknya suami merupakan hamparan samudra tak bertepi bagi bhakti seorang istri. Untuk saling memberi, menyayangi dan berusaha memahami. Allah-lah yang menganugerahkan rasa cinta kepada keduanya, agar saling berkasih sayang dan merasa tenteram dalam hidupnya.
Peran keluarga dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara juga signifikan. Kemakmuran negara dibangun dulu unsur yang paling kecil yaitu menciptakan keluarga-keluarga yang sakinah. Keluarga makmur, masyarakat pun akan makmur dan akhirnya negara pun menjadi makmur dan sentosa. kemakmuran negara akan tecapai yaitu negara yang “gemah ripah loh jinawe” (negara kaya yang masyarakatnya makmur).
Keharmonisan keluarga harus selalu dijaga dalam kondisi apapun baik saat menghadapi masa sulit maupun masa senang. Tidak dipungkiri menyatukan dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan berbagai pernak perniknya menjadi satu bukanlah pekerjaan mudah. Untuk itu diperlukan toleransi dan rasa saling pengertian kedua belah pihak. Namun saat ikrar Ijab Kabul diucapkan sudah semestinya yang muncul kepermukaan adalah cita-cita untuk membangun keluarga yang sakinah maromah dan mawadah. Apapun halangan yang menghadang dalam menempuh biduk kehidupan harus dihadapi bersama. Berikut ini beberapa tips yang bisa melanggengkan perkawinan kita berikut ini:
1. Jadikanlah keluarga sebagai istana yang paling nyaman di dunia. Apapun masalah yang kita hadapi baik di pekerjaan maupun di tempat lain selama ada keluarga yang dipenuhi dengan rasa saling menyayangi, menghormati dan pengertian membuat pulang ke rumah rasanya nikmat sekali.
2. Saling pengertian dan saling menghormati. Permasalahan yang sering terjadi dalam berumah tangga adalah rasa mau menang sendiri. Pasangan hidup dipaksa untuk mengikuti apa yang dimaui dan keduanya tidak mau saling mengalah. Misal suami menyenangi travelling dan kumpul sama teman-temannya. Kalau sudah berkeluarga hendaknya hobby tersebut disesuaikan. Artinya dia juga harus memperhatikan keluarganya karena sudah ada tanggung jawab yaitu keluarga. Kalau perlu istri diajak ikut untuk mengenalkan hobby suami. Demikian pula sebaliknya.
3. Tanggung jawab bersama dalam mendidik anak. Tugas utama suami memang mencari nafkah diluar dan istri bertanggung jawab untuk urusan dapur, mengelola keuangan dan mendidik anak. Namun demikian suami tidak sertta membebankan pendidikan anak semuanya ada di pundak istri. Sebagai nahkoda keluarga suami harus juga ikut mengarahkan dan membimbing anaknya.
4. Frekuensi kebersamaan harus selalu dijaga. Mungkin dua minggu sekali atau sebulan sekali diusahakan untuk pergi bersama-sama. Tidak harus ketempat yang lebih mahal, yang terpenting adalah untuk menciptakan kebersamaan.
5.Perkokoh fondasi rumah dengan tiang agama. Rumah hendaknya dijadikan ladang amal yang baik Ayah, Ibu dan anak. Untuk itu sebaiknya rumah selalu dipenuhi dengan pendidikan agama. Memberikan pendidikan agama kepada anak sedini mungkin merupakan tindakan yang sangat dianjurkan. Hal ini sangat penting karena akan menjadi benteng yang sangat kokoh pada saat anak-anak menginjak dewasa.
6. Ciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak bahwa orang tua menjadi teman diskusi dan curhat yang menyenangkan. Biasakan agar anak tidak mencari tempat curhat di luar rumah yang kadang-kalang malah menjerumuskan anak pada perbuatan terlarang. Orang tua yang dapat berperan sebagai Ayah Ibu dan teman bagi anak menjadikan anak akan mengadukan segala permsalaha yang dihadapi.
Dengan menjalankan paling tidak 6 tips diatas, Insya Allah angan-angan membentuk keluarga yang harmonis bukanlah suatu kayalan tetapi kenyataan yang kita jalani. Semoga.