07 Januari 2009
Pesta Barbeque Ala Tebet
Tanggal 31 Desember 2008 yang merupakan penghujung tahun, saya pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah tenggelam dengan pekerjaan yang menumpuk dalam beberapa hari terakhir, akhirnya saya bisa bernapas lega. Pada hari itu sisa pekerjaan yang harus diselesaikan berkurang banyak. Oleh karena itu, tengah hari saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Rasanya hari itu, saya dan teman-teman sudah tidak konsentrasi bekerja. Di pikiran kita adalah cepat pulang ke rumah dan merayakan tahun baru dengan keluarga. Saya sendiri, bingung karena belum punya rencana apapun untuk menyongsong datangnya tahun baru. Mau keliling kota, sudah kebayang betapa macetnya jalananan di setiap sudut kota jakarta. Merayakan pesta tahun baruan di hotel, selain biayanya mahal, saya juga belum booking hotel. Saat memasuki gang menuju rumah tempat tinggal. Saya terkejut di depan rumah sudah berdiri tenda. Bapak-bapak di lingkungan tempat tinggal saya, nampak lagi sibuk mempersiapkan suatu acara. Saat saya lagi melintas, salah seorang tetangga mengundang saya untuk hadir dalam acara perayaan menyambut datangnya tahun baru.
Saya lihat, di bawah tenda sudah disiapkan satu kotak besar yang ternyata isinya ikan-ikan segar yang langsung dibeli dari pasar Ikan Muara Karang. Ternyata para tetangga sedang mempersiapkan pesta menyambut tahun baru dengan mengadakan pesta ikan dan ayam bakar. Asyik, akhirnya saya punya acara untuk merayakan datangnya tahun baru. Acara ini istemewa bagi saya karena setelah 17 tahun meretas hidup di Jakarta baru sekali ini mengadakan pesta ikan bakar untuk merayakan tahun baru. Pesta bakar membakar daging segar di taman-taman kota pernah saya lakukan bersama-sama teman waktu sekolah di Canberra-Australia. Setelah berkutat dengan ujian yang memusingkan kepala, beramai-ramai kita menuju taman kota, masing-masing pelajar membawa potongan daging segar untuk melakukan pesta barbeque. Di taman kota biasanya disediakan tungku pemanas untuk melakukan pesta barbeque.
Pesta bakar ikan di Tebet ini, berbeda dengan yang pernah saya alami. Berbekal tungku pembakar yang biasanya digunakan tukang sate, para pembakar ikan amatir dengan riang gembira mulai membakar ikan-ikan segar tersebut. Sementara itu, bapak-bapak yang lain asyik bersenda gurau berdiskusi berbagai topik sambil menanti bergeraknya jarum jam menuju angka 24.00 WIB. Cira rasa menjadi urusan yang kesekian. Berkumpulnya bapak-bapak yang selama ini jarang kumpul karena kesibukan masing-masing sudah menjadi bumbu penyedap dari acara pesta ikan bakar. Bahkan cuaca pun bersahabat mendukung pelaksanaan acara tahun baru di tempat tinggal saya. Satu persatu ikan sudah mulai siap santap . Bapak-bapak sambil asyik ngobrol juga mulai mencicipi gurihnya ikan bakar ala barbeque Tebet. Tidak ketinggalan saya pun ikut menyantap ikan kakap bakar dengan dibumbui kecap yang dicampur potongan cabe rawit. Semakin malam obrolan semakin memanas dan mengasyikkan. Topik bensin dan gas yang tiba-tiba menghilang, pemilihan presiden baru di 2009, jam sekolah anak-anak sekolah yang dimajuin pukul 06.30, ramalan-ramalan dari paranormal tentang peristiwa-peristawa yang akan terjadi di tahun 2009 terus bergulir dalam obrolan tersebut.
Tak terasa waktu terus bergerak dan jarum pendek dan panjang jam menunjukkan angka 24.00 WIB. Kita pun langsung meniup terompet begitu angka jarum panjang bergerak ke angka 12. Tak berapa lama kemudian, langitpun menjadi berwarna-warni saat ratusan kembang api diluncurkan. Suasana menjadi ramai karena petasan-petasan ikut meningkahi keramaian memasuki tahun baru 2009. Suasana betul-betul menjadi semarak karena ternyata ibu-ibu yang tadinya melakukan acara ngrumpi di tempat lain ikut bergabung. Suasana betul-betul meriah seakan datangnya tahun baru memberi harapan yang lebih baik.
Saat jam menunjukkan angka 02.00 WIB tanggal 1 Januari 2009, mata ini sulit untuk kompromi, saya undur diri dari acara tersebut. Tahun 2009 sudah datang, pikiran pun dipenuhi dengan rencana-rencana yang akan dilakukan dalam tahun ini. Tentu, keinginan dan harapan saya tahun 2009, memberikan peruntungan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Semoga.
27 Desember 2008
OPTIMIS MEMBAWA NIKMAT
Seorang eksekutif muda termenung di sudut mejanya, dunia seolah-olah runtuh setelah proyek besar yang dimenangkannya tiba-tiba dibatalkan oleh pemberi proyek. Resesi ekonomi di Amerika Serikat yang menyeret negara-negara lain termasuk Indonesia telah memporak randakan mimpi indah si executive muda tersebut. Ekonomi melambat, likuiditas mengering dan tingkat pengangguran terus bergerak naik menjadi warna ekonomi pada hampir seluruh negara di pelosok dunia. Bank-bank penyandang dana menarik diri akibat mengalami kesulitan likuiditas. Untung besar yang terpampang di pelupuk mata lenyap tak berbekas tersapu gelombang tsunami batalnya proyek. Padahal untuk mempersiapkan proyek tersebut, dia telah mengerahkan hampir seluruh energi dan dana yang dimilikinya.
Walau berat beban yang dihadapi oleh eksekutif muda namun dia tidak larut dalam kesedihan yang mendalam. Dia masih menyimpan secercah harapan yaitu semangat tak mudah menyerah dan optimis dalam menghadapi setiap masalah. Si eksekutif muda percaya bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kegagalan tidak disikapi dengan penyesalan, namun sebagai cambuk untuk meraih asa ke depan yang lebih baik. Rasa percaya diri dan optimis yang terpatri kuat dalam sanubarinya menjadi kekuatan dasyat untuk mengatasi segala permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Bahkan kekuatan inilah yang telah mengantarkannya menjadi salah satu eksekutif termuda pada perusahaan tersebut
Tidak jauh dari perusahaan si eksekutif muda, terlihat seorang pemuda yang tergeletak pingsan di di pinggir jalan. Dari mulutnya tercium aroma alkohol yang menyengat. Nampaknya si pemuda, mabuk setelah menenggak berbotol-botol minuman keras. Si pemuda mengambil jalan yang salah untuk mengatasi persoalan hidup yang dihadapinya. Perusahaan yang selama ini menjadi gantungan hidupnya tidak kuat bertahan untuk menghadapi ketatnya persaingan. Perusahaan terus merugi sehingga langkah yang ditempuh untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya adalah mengurangi pegawainya. Sialnya, ternyata si pemuda termasuk yang ikut di PHK. Kondisi ini memukul jiwanya karena selama ini dia menjadi gantungan hidup dari keluarganya.
Sudah berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus lamaran disebar, namun sampai saat ini tidak satupun ada perusahaan yang mau menerimanya. Sementara tabungan yang selama ini susah payah dikumpulkan semakin menipis untuk membiayai hidup keluarganya. Satu persatu barang yang ada di rumah mulai dijual. Istri yang sangat dicintai telah meninggalkannya karena tidak tahan hidup menderita. Dia merasa betul-betul sendiri hidup di dunia ini. Di saat jiwanya rapuh bukannya lebih mendekatkan diri pada sang maha pencipta dan mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah. Dia memilih mabuk-mabukan sebagai jalan pintas. Setelah mabuk semua permasalahan yang menderanya seolah lenyap, dan yang tersisa hanyalah perasaan senang. Namun semua itu hanya fatamorgana, sesudah sadar kembali si pemuda masih menghadapi kenyataan hidup sebagai pengangguran. Semuanya itu semu, masalah pekerjaan belum terselesaikan, malah menyusul masalah baru yaitu kesehatan terganggu dan rumah tangga berantakan.
Dari dua kasus diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata optimisme perlu dibangun dalam setiap kita melangkah dalam hidup ini. Optimisme adalah keyakinan dan harapan yang ingin diraih. Mungkin diantara kita sudah sering mendengar atau membaca slogan-slogan yang memotivasi kita. Orang lain bisa tentu kita juga bisa. Tidak ada persoalan yang tidak ada jalan keluarnya. Kegagalan adalah pintu gerbang menuju keberhasilan. Kata-kata mutara atau slogan ini kalau diresapi dan dilaksanakan dengan sepenuh hati akan menjadi mesin motivator yang dasyat untuk menatap masa depan yang gemilang.
Pengalaman orang-orang sukses adalah orang-orang yang selalu yakin dan percaya bahwa mereka akan mencapai tujuan yang diinginkannya dalam hidup ini. Sekali tujuan ditetapkan mereka akan mengerahkan segala energi dan upayanya untuk meraih cita-citanya. Jatuh bangun dalam mengejar cita-cita dianggap sebagai variasi dalam hidupnya. Dan yang terpenting mereka tetap fokus pada apa yang dicita-citakan dan pantang menyerah sebelum semuanya itu tecapai. Pengalaman dari Thomas Alfa Edison menunjukkan kegigihan dia dalam menemukan lampu pijar setelah sampai 10.000 kali percobaan akhirnya dia berhasil. Keuletan dan ketekunan yang dilakukan oleh Alfa Edison menginspirasi kita bahwa semangat pantang menyerah akan menuai keberhasilan.
Membangun optimisme adalah kekuatan dasyat yang akan menggiring kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Paling tidak rasa optimis membuat kita nyaman dalam melangkah. Perlu diingat bahwa untuk menuju suatu tempat dimulai dari satu langkah kita. Demikian pula untuk mewujudkan kesuksesan juga dimulai dari satu langkah yaitu optimis. Permasalahannya adalah bagaimana dapat mematrikan rasa optimisme dalam segala perbuatan dan tindakan yang kita lakukan. Tentu, ada beberapa catatatan yang bisa kita rujuk untuk membangun rasa optimisme tersebut.
1. Tumbuhkan semangat kalau orang lain bisa kitapun juga bisa.
2. Jangan memandang remeh diri sendiri atau kalah sebelum bertanding. Sering kita dengar keluhan seseorang yang gagal menyalahkan diri sendiri karena orang lain lebih pintar sehingga berhasil.
3. Kita harus yakin dan percaya bahwa setiap usaha keras yang kita lakukan sepanjang berada di jalan yang benar pasti akan mendapat ridho Allah SWT.
4. Selalu berpikir positif bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
5. Tumbuhkan semangat pantang menyerah.
6. Dukungan keluarga perlu ditingkatkan.
Enam tips tersebut kalau kita jalankan dengan sungguh-sungguh akan membawa kita menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Insya Allah akan berhasil membawa kita pada setiap tujuan yang anda inginkan. Semoga.
11 Juli 2008
MEMBUMIKAN INDONESIA BANGKIT
Bangkit itu tidak ada….tidak ada kata putus asa dan kata menyerah. Salah satu penggalan puisi bangkit yang dibacakan Deddy Mizwar terasa menohok relung hati kita. Bulu kuduk ini serasa berdiri saat menyimak kata demi kata yang disuarakan dengan intonasi pelan sampai menggelegar dari aktor pemeran Naga Bonar tersebut. Puisi yang ditulis dari negatif ke tindakan yang positif menyadarkan diri kita bahwa masih banyak persoalan yang mendera bangsa kita. Sudah lama bangsa ini mengalami keterpurukan. Namun sudah lama pula kita tidak mampu keluar dari permasalahan tersebut. Hanya satu kata yang wajib kita lakukan yaitu ”Bangkit”.
Peringatan hari kebangkitan nasional 20 Mei 2008 hendaknya dijadikan momentum awal kebangkitan bangsa Indonesia. Slogan Indonesia bangkit telah dicanangkan dengan gegap gempita di stadion Gelora Bung Karno memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional. Slogan itu hendaknya jangan hanya manis di mulut namun harus diwujudkan menjadi kekuatan dasyat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.
Selama kurun waktu 53 tahun sejak merdeka, bangsa Indonesia terus berusaha membangun. Sudah enam presiden memimpin negeri ini. Dari orde baru ke orde lama sampai dengan orde reformasi mengawal pembangunan di Indonesia. Demokrasi yang dipasung selama dibawah kepemimpinan orde lama maupun baru sudah mendapat ruang yang lebih leluasa. Otonomi daerah dan sistim pemilihan kepala daerah yang langsung dipilih oleh rakyat wujud dari demokrasi tersebut. Namun euforia demokrasi dilakukan secara berlebihan.
Demontrasi marak terjadi dimana-mana. Kalah dalam pilkada, ingin menjatuhkan lawan politik, memprotes berbagai kebijakan pemerintah atau masalah lain adalah berbagai permasalahan di belakang maraknya demonstrasi. Ironisnya, demonstrasi kadang dibarengi dengan tindakan yang anarkis. Sejumlah kantor pemerintah dibakar, perkelahian antar pendukung dan tindakan anarkis lainnya menjadi potret buram dari pelaksanaan demokrasi yang kebablasan. Kesemuanya ini menunjukkan masih belum siap dan dewasanya rakyat berpolitik.
Pembangunan di bidang ekonomi juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Ekonomi yang tumbuh 6,32 % dan laju inflasi 6,59% masih dibawah target yang ditetapkan pemerintah di 2007 belum banyak dirasakan oleh masyarakat luas. Angka indikator yang mengesankan tersebut tidak tercermin di kehidupan sehari-hari. Angka kemiskinan dan pengangguran terus bertambah. Harga-harga terus merangkak naik yang dipicu meroketnya harga minyak dan komoditi pangan. Daya beli masyarakat semakin menurun. Konsumsi masyarakat yang menurun memukul sektor industri. Omset penjualan industri terus menurun. Akibat tidak mampu menutup kerugian, satu demi satu pabrik-pabrik tersebut gulung tikar. Yang paling menderita tentu kaum buruh yang harus kehilangan mata pencahariannya. Angka kemiskinan dan penggangguran semakin meningkat.
Kinerja ekonomi Indonesia saat ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Singapura dan Malaysia telah lama meninggalkan kita. Padahal dahulu di awal kemerdekaan Malaysia berguru dengan kita. Banyak kalangan pendidik dikirim kenegeri Jiran tersebut untuk mengajar. Demikian pula beberapa pemimpin yang duduk di pemerintahan Malaysia saat ini pernah menimba ilmu di universitas-universitas di Indonesia. Keberhasilan pembangunan di Malaysia karena memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia sebagi ujung tombak pembangunan.
Kinerja konomi yang tertinggal dan sistim politik yang tidak stabil membuat Indonesia menjadi macan ompong di tataran ASEAN. Singapura, Malaysia dan Thailand saat ini saling berebut untuk menjadi pemimpin di forum ini. Padahal dahulu, Indonesia sangat disegani di ASEAN. Bahkan di tataran yang lebih luas seperti APEC, Non-Blok maupun forum internasional lainnya nama Indonesia masih diperhitungkan. Namun dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit wibawa Indonesia terkikis. Prestasi di bidang olahraga juga menyedihkan. Indonesia dahulu begitu perkasa di ajang SEA Games dengan menyandang juara umum beberapa kali.Saat ini gelar tersebut jauh dari jangkauan kita. Dominasi kita di bulutangkis juga sudah disalip oleh China. Piala Thomas dan Uber Cup sudah lama tidak singgah di negeri tercinta ini.
Sangat menyedihkan melihat kenyataan-kenyataan ini. Bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam luar biasa besarnya ternyata tidak dapat memanfatkan kekayaan alamnya tesebut. Sangat ironis, bukan kita yang menikmati manisnya sumber daya alam yang berlimpah malah justru para investor-investor asing yang mengeruk kekayaan kita. Exxon, Freeport dan Caltex adalah beberapa nama investor asing yang berpesta pora menikmati gurihnya kekayaaan alam Indonesia.
Eksplorasi yang berlebihan menyebabkan kerusakan dimana-mana. Hutan gundul, pencemaran air, laut dan udara menjadi pemandangan umum. Akibatnya musibah bencana alam banjir, tanah longsor dan hilangnya habitat satwa langka tak terhindarkan. Parahnya instansi yang seharusnya steril dari kepemilikan asing juga mulai diobok-obok. Saat ini mayoritas kepemilikan saham Indonesia dimiliki Singapura. Demikian perbankan asing juga sudah mulai mendominasi kepemilikan di perbankan domestik. Kesemuanya ini menjadikan kita seolah-olah bekerja di negara lain.
Momentum peringatan kebangkitan nasional saat ini harus kita jadikan pijakan awal kebangkitan kita. Indonesia harus kembali lagi menjadi bangsa besar dan disegani. Paling tidak ditataran ASEAN kita harus mulai unjuk gigi. Perubahan harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Bangkit, bangkit..dan bangkit harus menjadi peluru kita untuk mengatasi berbagai permasalahan. Pemerintah, parlemen, akademisi, pengusaha, aparat penegak hukum dan kelompok masyarakat lainnya harus bahu membahu untuk membangun negeri tercinta ini. Setidaknya mulailah dari diri kita untuk memperbaiki diri, kemudian keluarga, masyarakat dan akhirnya pada negeri tercinta ini. Kalau setiap insan Indonesia berpikir dan bertindak seperti ini sudah dipastikan bangsa ini akan dapat mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang makmur.
Kunci untuk menuju sukses adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Malaysia telah membuktikan hal tersebut. Dikuranginya subsidi pendidikan telah menjadikan pendidikan saat ini semakin mahal. Sulit sekarang bagi anak-anak dari golongan kaum menengah kebawah dapat melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Dengan pengurangaan subsidi menyebabkan kalangan perguruan tinggi negeri juga berlomba-lomba menarik dana yang sebesar-besarnya dari mahasiswa. Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut maka bagi anak-anak dari kalangan petani miskin hanyalah mimpi untuk menjadi dokter atau ”tukang insinyur”. Untuk diterima di fakultas kedokteran puluhan sampai ratusan juta rupiah harus dibayarkan mahasiswa baru. Sudah saatnya pemerintah meninjau ulang kebijakan pengurangan subsidi ini. Kalau perlu pemerintah melakukan pengurangan anggaran di tempat lain untuk menambah subsidi pendidikan. Anggaran untuk pendidikan harus mendapatkan porsi yang besar kalau pemerintah ingin Indonesia menjadi bangsa yang maju.
Selain itu korupsi yang merajalela dan penegakan hukum yang mandul harus dibabat tuntas seakar-akarnya. Sudah menjadi rahasia umum Indonesia menduduki ranking tinggi untuk korupsi baik di lingkup regional maupun dunia Bahaya korupsi sangat merugikan bagi pembangunan di negeri ini. Demikian juga geliat politik yang tidak stabil harus dikendalikan. Selain permasalahan lainnya, kedua hal tersebut berkontribusi besar menyebabkan hengkangnya sejumlah investor asing. Sony Electronic, Aiwa, Nike dan Gillette memindahkan usahanya ke Malaysia dan Vietnam akibat iklim investasi yang tidak kondusif. Kesemuanya itu menjadi potret buram Indonesia berdampak negatif bagi pembangunan. Sudah saatnya supremasi hukum harus ditegakkan untuk menanggulangi kejahatan korupsi ini. Kalau perlu hukuman berat dijatuhkan bagi pelaku korupsi. Di China tidak ada ampun lagi bagi pelaku korupsi. Mereka dihukum mati di hadapan masyarakat. Efek jera terbukti sangat ampuh mengurangi tindak kejahatan korupsi.
Marilah kita bersama-sama membumikan slogan Indonesia bangkit. Mewujudkan slogan tersebut dengan tindakan nyata untuk bangkit dari berbagai keterpurukan. Dengan demikian tidak sia-sia pemerintah mengeluarkan biaya yang sangat besar pada saat mencanangkan Indonesia bangkit. Tulisan ini ditutup dengan potongan terakhir puisi bangkit Deddy Mizwar yaitu Bangkit itu aku.....untuk Indonesia. Semoga
02 Juli 2008
BANJIR SMS KOMERSIAL
Teknologi komunikasi yang melesat bak meteor telah menjadi lahan bisnis menggiurkan bagi pengusaha. Penjualan telepon seluler laris manis seperti layaknya jualan pisang goreng. Harga yang semakin murah dan tersedianya voucher isi ulang sampai pecahan terkecil Rp5000 menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu penjualan HP didukung oleh jaringan distribusi yang sudah menembus sampai ke pelosok-pelosok desa. Tidak heran kelompok ekonomi kelas bawahpun dapat memilikinya. Sudah menjadi pemandangan umum tukang sayur, tukang batu sampai tukang sampah pun diikat pinggangnya terselip HP. Padahal dahulu untuk sekedar memimpikan saja mereka tidak berani karena harganya yang sangat mahal.
Operator-operator telepon seluler berebut pasar Indonesia karena memiliki potensi pasar yang sangat besar. Jumlah penduduknya yang mencapai sekitar 220 juta menjadi daya tarik tersendiri. Kalau mereka berhasil menggarap 30% saja, sudah lebih dari 70 juta orang potensi pasarnya. Jumlah ini tiga kali lipat penduduk Australia. Potensi pasar semakin besar, karena tidak sedikit orang yang memiliki lebih dari 2 HP. Tidak heran saat ini perang tarif semakin gencar dilancarkan para operator seluler untuk berebut ”kue” yang lezat ini. Berbagai jurus iklan pun dilancarkan para operator.
Kemudahan yang ditawarkan dalam berkomunikasi dimanapun berada menjadi promosi yang menarik. Perang tarif pun terus dilakukan antar operator telepon seluler. Masyarakat menjadi terbuai. Bahkan berlembar-lembar ratusan ribu rupiah yang mereka dapatkan dengan susah payah rela dikeruk para operator telepon seluler. Ironisnya para operator telepon seluler secara berjamaah telah berkonspirasi menerapkan tarif SMS yang mencekik leher. Mereka mematok harga tiga kali lipat dari harga yang sebenarnya. Triliunan rupih pun mereka raup dari bisnis ini. Untungnya KPPU mencium aroma konspirasi yang tidak etis ini. Sanksi tegas ditegakkan dengan denda dan mengharuskan penurunan tarif yang wajar.
Bayangan untung besar yang ditangguk dari berbisnis dengan memanfaatkan SMS juga dilirik oleh kalangan televisi. Kita semua menyaksikan berbagai ajang lomba dari Indonesia Idol, Dangdut Mania, AFI, dan lainnya memanfaatkan SMS yang harga nya per SMS jauh lebih mahal dari harga normal. Untuk menarik agar masyarakat membanjiri SMS kepada jago-jagonya mereka diiming-imingi hadiah yang menggiurkan. Walau para penyelenggara ini harus menyediakan berbagai hadiah namun untung yang mereka raih jauh lebih besar. Anggap saja untuk setiap SMS yang dikirim, penyelenggara acara mendapat keuntungan bersih 50%. Dengan tarif Rp1000,- per SMS berarti keuntungan yang diraup Rp.500 kali sekian juta SMS masuk. Bisa kita bayangkan besarnya dana yang mengalir ke pundi-pundi penyelenggara acara. Oleh karena itu tidak heran kalau saat ini TV kita disesaki acara-acara seperti ini.
Tengah malam di saat orang pada terlelap tidur, kalau kita iseng menyetel TV maka kita menemukan acara yang memanfaatkan SMS komersial. Dipandu gadis manis dengan berbalut baju seksi mengajak pemirsa untuk main tebak-tebakan dari tebak nama, wajah atau menyusun kata yang hruf-hurufnya sudah diacak. Sebenarnya Anak SD pun akan mudah menebaknya. Namun yang diincar adalah banjirnya SMS orang-orang yang bernafsu ingin memperoleh hadiah-hadiah yang ditawarkan.
Belum lama berselang Roncar, produk pengaman kendaraan bermotor dari pencurian yang ikut-ikutan berbisnis dengan memanfaatkan SMS ini. Untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan para pemirsa tidak perlu membeli produk tersebut cukup hanya mengirim SMS. Menurut saya, hal ini sangat naif karena dimanapun kalau berdagang yang dijual produknya. Tapi dalam kasus ini, pemirsa cukup hanya mengirim SMS sebanyak-banyaknya mengadu nasib untuk memperoleh hadiah yang ditawarkan. Boleh dibilang produk yang ditawarkan hanya tempelan saja. Yang diincar bajirnya kiriman SMS komersial dari para penonton.
Berbagai bisnis dengan memanfaatkan SMS komersial berbalut acara-acara lomba hanyalah perjudian dalam bentuk lain. Setelah porkas, SDSB maupun lainnya dilarang, maka bentuk seperti inilah yang saat ini lagi marak. Pemirsa tidak sadar dengan mengirim SMS sebanyak-banyaknya pada jagonya masing-masing hanyalah menguntungkan penyelenggara. Demikian pula para peserta, tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk mengirim SMS pada diri mereka. Hal ini dilakukan agar mereka lolos tahap demi tahap dalam ajang lomba tersebut. Ajang lomba ini seolah-olah menjadi dewa penyelamat mereka untuk merubah nasib. Menjadi terkenal itulah impian yang ingin diraih. Namun terbukti sudah hanya segelintir dari mereka yang sampai saat ini mampu bertahan di jalur hiburan saat ini.
Dalam kasus SMS komersial ini hendaknya pemerintah harus mewaspadai akan efek negatif yang ditimbulkan. Harus benar-benar diatur secara ketat. Apa yang dilakukan Roncar harus dilarang karena sudah melenceng dari ranah bisnisnya. Demikian masyarakat pemirsa pun harus jeli. Mereka harus bisa memiliah-milah acara-acara TV yang ditontonnya. Ada acara yang betul-betul menghibur dan tidak sedikit pula yang menguras kantong mereka melalui SMS-SMS yang dikirimkannya.
09 Juni 2008
Pintar Itu Berbahaya........
Di daerah Tebet tempat tinggal saya saat ini telah menjadi kantong bisnis lembaga-lembaga yang mengais rejeki di bidang pendidikan. Bahkan peningkatannya luar biasa. Bertebaran lembaga-lembaga tersebut tidak hanya yang sudah punya nama seperti Primagama, Ganesha, lembaga-lembaga baru pun mencari peruntungan di bidang ini. Belum lagi yang menawarkan secara instan untuk menjadi ahli matematika dengan berbagai metode dari sempoa, kumon dan metode lainnya. Bisnis ini pun telah meraup miliaran rupiah. Timbul pertanyaan kenapa bisnis ini menjadi marak?. Di tengah himpitan biaya hidup yang semakin berat karena kenaikan BBM, para orang tua rela menyisihkan dana jutaan rupiah untuk memasukkan anak-anaknya ke lembaga tersebut. Lulus UAN (ujian Akhir Nasional) yang nampaknya dibidik oleh para orang tua.
UAN saat ini telah menjadi momok yang menakutkan. Jutaan siswa harus gigit jari karena gagal melewati nilai batas minimal yang ditetapkan pemerintah. Bahkan ada sekolah yang tidak ada satu pun siswa yang lulus UAN. Kelulusan mereka hanya ditentukan dalam hitungan hari bahkan lamanya jam ujian. Itu pun hanya hanya beberapa mata pelajaran yang dianggap mampu merepresentasikan kepintaran siswa. Pelajaran lain seakan-akan hanya menjadi asesoris saja. Pendidikan yang mereka jalani selama 3 (tiga) tahun seakan-akan tidak ada artinya dibandingkan dengan UAN tersebut. Kondisi ini yang menyebabkan para orang tua dan guru berjibaku untuk berkonsentrasi hanya pada mata pelajaran yang diujikan dalam UAN.
Sekolah-sekolah dianggap sukses apabila mampu meluluskan sebagian besar atau 100% siswanya. Tidak heran untuk mengejar ambisi ini para siswa harus mengikuti pelajaran tambahan. Merasa bekal di sekolah tidak cukup para orang tua memasukkan anak-anaknya ke lembaga-lembaga kursus. Malam harinya anak-anak masih dipaksa belajar oleh orang tuanya yang ketakutan anaknya tidak lulus UAN. Semua energi dicurahkan pada mata pelajaran yang diujikan di UAN. Porsi pelajaran yang lain semakin terpinggirkan. Anak-anak diarahkan untuk menjadi pintar namun melupakan esensi yang hemat saya sangat penting yaitu pelajaran budi pekerti. Padahal anak pintar tidak berbudi jauh berbahaya dibandingkan kurang pintar namun mempunyai budi pekerti yang baik.
Pintar saja hemat saya tidak cukup. Sebaiknya generasi muda dibekali tidak hanya pintar tetapi juga mempunyai akhlak yang mulia. Masa depan negara ini akan suram seandainya generasi muda hanya mengandalkan kepintaran saja. Sudah dipastikan karena budi pekertinya kurang baik, mudah terjadi friksi maupun pertentangan antar mereka. Belum lagi kalau kepintaran itu dipergunakan untuk mengejar ambisi diri sendiri tanpoa memikirkan kepentingan banyak pihak. Bisa terjadi malah membahayakan kehidupan manusia. Dapat kita bayangkan betapa berbahayanya nuklir kalau dipergunakan sebagai mesin perang dibandingkan untuk energi alternatif.
Saya tidak alergi bahwa anak didik menjadi pintar. Bahkan sangat setuju kalau generasi muda ke depan sudah seharusnya lebih pintar dari kita. Kepintaran saja yang dikejar tanpa dimbangi pendidikan budi pekerti malah menjadi berbahaya. Kalau dihadapkan pada dua pilihan yang ekstrem yaitu anak pintar tidak berbudi dan anak kurang pintar tapi berbudi saya akan menetapkan pilihan pada alternatif kedua. Saya yakin anak yang kurang pintar namun mempunyai kelakukan yang santun, tenggang rasa dan suka menolong akan membuat hidup saya menjadi tenang. Sebaliknya anak pintar namun mempunyai kelakukan yang buruk akan membuat hidup saya penuh dengan kekhawatiran. Takut perbuatannya mencelakakan orang lain, bahkan bukan tidak mungkin terhadap kita juga tidak ada rasa hormat sebagai orang tua. Kalau pintar yang seperti inilah yang tidak penting dan harus kita hindari. Tentu yang ingin saya tekankan dalam mendidik anak adalah menjadikan mereka pintar dan berbudi luhur.
Tulisan saya kali ini bukannya menentang sistim pendidikan yang diharapkan melahirkan anak-anak pintar dan berbakat. Namun sisi yang perlu saya tonjolkan adalah sebaiknya kita jangan melupakan pendidikan budi pekerti. Artinya walaupun UAN sudah ditasbihkan menjadi keharusan yang harus dilewati siswa, akan tetapi para guru dan orang tua hendaknya jangan bosan-bosannya untuk tetap memberikan porsi yang besar bagi pendidikan akhlak pada anak didik atau anaknya. Harus kita ingat kekuatan bangunan ditentukan oleh seberapa kokohnya fondasi bangunan tersebut. Demikian pula pada anak-anak kita kalau kita dari kecil telah membekali mereka dengan dasar pendidikan agama yang kuat sudah dipastikan mereka tidak akan mudah goyah dari pengaruh negatif yang siap menerkamnya. Semoga.
04 Juni 2008
SEMANGAT PAGI
Percakapan menarik saya simak dari radio saat perjalanan menuju kantor. Masalah yang diangkat adalah berpikir positif. Sebenarnya tema seperti ini sudah sering saya dengar dan juga saya baca dari berbagai buku. Tapi penjelasan yang disampaikan melalui radio cukup menarik karena selain dilakukan interaktif juga diberikan contoh-contoh yang mudah untuk dicerna.
Ternyata banyak manfaat yang dapat kita petik dari berpikir positif. Pikiran kita menjadi tenang karena sesuatu dilihat dari sisi baiknya. Saat menghadapi pekerjaan menumpuk dan dikejar dengan dead line, kita menganggap bahwa pekerjaan tersebut suatu tantangan yang akan membawa peningkatan karir yang lebih baik. Satu ungkapan menarik yang saya sitir dari percakapan tersebut adalah motto yang dilontarkan oleh seorang penelpon yaitu ”semangat pagi”. Menurut saya motto ini luar biasa karena memberikan dorongan motivasi yang kuat. Pagi hari adalah saat mulai kita beraktivitas. Semangat yang ditanamkan dalam sanubari kita jelas akan memompa gairah kita untuk mengerjakan seluruh aktivitas kita menjadi lebih baik. Kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan akan membuat hidup kita menjadi menyenangkan.
Berpikir positif tentu tidak serta merta meninggalkan kewaspadaan kita. Tidak boleh membabi buta harus juga dilakukan dengan berhati-hati. Misalnya ada orang yang tidak kita kenal tiba-tiba ingin menginap di rumah kita. Dalam pikiran kita pasti akan berfikir siapa orang asing tersebut, kenapa sampai kemalaman dan tujuannya datang ke kota ini mau apa. Kalau kita hanya mengandalkan cara berpikir positif kita beranggapan si orang asing tersebut pasti kemalaman dan tidak punya uang yang cukup sehingga butuh tumpangan untuk menginap. Waspada harus kita lakukan dengan melakukan berbagai hal yang dapat mengurangi kemungkinan terburuk. Bisa saja kita meminta identitasnya, melapor kepada RT dan mengamankan harta-harta kita dari kemungkinan dicuri oleh si orang asing tersebut.
Pernah kejadian yang saya alami mirip dengan contoh yang saya berikan. Saat tengah malam menunggu kereta terakhir dari Semarang yang membawa istri, saya melihat seorang ibu yang kelihatan cemas duduk di ruang tunggu. Penasaran saya hampiri Ibu tersebut. Ternyata dia dari Jawa yang menyusul suaminya yang dinas di Bogor. Berhubung waktu sudah tengah malam maka dia harus menunggu jadual kereta paling pagi untuk pergi ke Bogor. Malam itu terpaksa harus menginap di stasiun. Sambil mendengarkan cerita ibu tersebut saya pandangan saya arahkan di sekeliling. Tidak ada satupun wanita yang tidur di Stasiun. Karena berpikir positif maka saya tawarkan Ibu tersebut untuk menginap di rumah saya. Terus terang tidak sampai hati saya melihat seorang Ibu tidur di tempat yang rawan dengan kriminalitas.
Keputusan tersebut akan saya diskusikan dengan istri. Alahmadullilah saat hal tersebut kusampaikan ke Istri ternyata setuju. Satu malam Ibu tersebut mengindap di rumah dan paginya saya antarkan ke stasiun. Namun kewaspadaan tetap saya lakukan. Selain melapor pada ketua RT, saat menginap di rumah si Ibu tersebut ditemani oleh Ibu saya.
Berpikir positif selain membuat hati tenang juga dapat meningkatkan produktivitas kita. Pikiran yang selalu melihat sisi baik dari setiap masalah maka akan mendorong kita bekerja lebih baik. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Setiap sisi buruk sseorang pasti ada sisi baiknya. Setiap ada musibah pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya kalau kita berpikir negatif yaitu melihat sisi buruk dari suatu masalah akan membuat hidup kita susah. Pikiran kita menjadi tidak tenang, takut dan konflik dengan banyak orang. Lebih berbahaya kalau pikiran negatif menguasai kita bisa membuat kita menjadi apatis dan mudah putus asa.
Auditor yang biasa mempratekkan negative thinking untuk melakukan pemeriksaan juga sudah sedikit demi sedikit merubah paradigma tersebut. Saat ini pendekatan yang mereka lakukan pada kliennya lebih kepada mitra kerja dibanding antara pemeriksa dan yang diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan diharapkan dapat memperbaiki kinerja organisasi yang diperiksanya. Namun bagi oknum yang melakukan perbuatan melanggar hukum tetap mendapatkan sanksi sesuai dengan perbuatannya.
Dari acara bincang-bincang di pagi hari tersebut, saya sudah menetapkan dalam hati saya mulai saat ini berpikir postif menjadi motto hidup saya. Tentu dukungan istri dan anak sangat diperlukan. Oleh karena itu sudah sewajarnya kalau satu keluarga menerapkan prinsip ”Semangat pagi” yang dilontarkan oleh seorang penelepon pada diskusi mengenai berpikir positif. Saya yakin dan percaya bahwa kehidupan sayadan keluarga akan lebih bermakna kalau saya bisa menerapkan prinsip ini dengan baik. Semoga.
BLT- BIKIN LANGSUNG TERPURUK- RAKYAT MISKIN
Tidak peduli besarnya gelombang protes yang dilancarkan banyak pihak, pemerintah SBY-JK bersikeras program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetap jalan terus. Pemerintah berkilah BLT mampu mengentaskan masyarakat miskin dari himpitan kenaikan harga yang dipicu oleh melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Paket ini menelan biaya sampai sebesar Rp14,1 triliun dan diharapkan dapat menolong sebanyak 19,1 juta orang miskin. Benarkah BLT mampu mencapai tujuan tersebut?
Di tengah meroketnya kebutuhan hidup, BLT sebesar Rp100.000 per bulan selama 7 bulan hanya mampu untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup warga miskin. Dalam hitungan hari uang tersebut akan habis. Setelah itu, roda kehudupan penerima BLT kembali berputar untuk dapat bertahan hidup. Tidak hanya itu, BLT mengajarkan pada masyarakat miskin untuk menjadi bangsa pengemis. Jiwa pemalas menjadikan kehidupan mereka semakin sulit. BLT yang melenceng dari sasaran bisa diplesetkan, Bikin Langsung Terpuruk bagi rakyat miskin. Kalau tidak tepat sasaran bukan tidak mungkin BLT malah menambah masalah baru.
Berbagai persoalan yang mengemuka pada BLT 2005 seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Banyak kasus mewarnai BLT dari data penerima yang kurang akurat, dana yang disunat, aksi anarkis masa sampai pelaksanaan pembagian dana yang berantakan. Namun itu semua tidak membuat pemerintah menjadi jera. Bahkan tanpa persiapan matang BLT 2008 ini seolah jadi senjata pemungkas untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Tragisnya, walau sudah tidak up to date pemerintah menggunaan data 2005 sebagai dasar pembagian BLT. Seharusnya pemerintah memperbaharui data tersebut karena selama 3 tahun bukan tidak mungkin sudah banyak terjadi perubahan. Selain itu pada 2005 disinyalir penerima BLT termasuk warga yang masih tergolong mampu. Ironisnya warga yang benar-benar miskin malah tidak termasuk dalam daftar. Hal ini bisa terjadi karena permainan oknum petugas lapangan.
Pelaksanaan pembagian BLT tidak semulus yang diperkirakan. Tidak sedikit aparat kelurahan/ desa yang menjadi garda terdepan pelaksanaan BLT menjadi sasaran kemarahan masa. Tidak puas dengan pelaksanaan BLT mereka mengintimidasi para petugas. Kondisi ini menjadi peristiwa traumatis bagi mereka. Tidak berlebihan kalau mereka menentang keras pelaksanaan BLT 2008 ini. Namun ancaman sangsi yang akan dikenakan petugas yang menolak BLT menyurutkan langkah penentangannya.
Bahaya utama yang perlu diwaspadai dari peluncuran program BLT adalah menjadikan mental pengemis bagi kaum miskin. Budaya ini jelas sangat merugikan. Seharusnya bantuan kail jauh lebih baik daripada ikan. Bekerja menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan hidup yang dihadapi rakyat miskin. Bukan mustahil dengan bekerja suatu saat mereka mampu keluar dari jeratan kemiskinan. Sementara BLT hanya menjadikan mereka menjadi bangsa pemalas.
Langkah yang ditempuh pemerintah dalam program BLT ini nampaknya hanya untuk mengatasi permasalahan jangka pendek tidak menyentuh pada akar permasalahan. Uang berapapun diberikan akan habis dalam waktu sekejap. Berbeda dengan bekal keahlian maupun ketrampilan akan mendatangkan uang bukan menghabiskan uang. Bantuan berupa modal kerja, ketrampilan, pendidikan maupun bantuan lainnya merupakan langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah. Mengintensifkan Balai Latihan Kerja, mendirikan bank-bank mikro, dan memberikan bantuan ketrampilan lainnya jauh lebih baik dibandingkan BLT.
Kita pun seharusnya bisa menyerap pelajaran berharga dari bangsa Jepang. Kekalahan perang, kondisi negara yang hancur lebur dihantam bom atom dan sumber daya alam yang tidak bersahabat bukanlah menjadi halangan bagi mereka untuk maju. Mereka selalu bekerja keras untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kegigihan mereka telah membawa bangsa Jepang menjadi bangsa yang makmur.
BLT bukan solusi terbaik. Potensi bahayanya lebih besar dari manfaat yang ingin diraih. Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah mengganti program BLT dengan program yang lebih baik. Memberikan kail jauh lebih baik daripada ikan. Kalau itu semua bisa dijalankan dapat dipastikan akan terbuka kesempatan kerja yang luas bagi rakyat miskin. Ke depan istilah BLT dapat diplesetkan menjadi Buka Lapangan Tenaga Kerja. Semoga.